Trump Hargai Kontribusi Indonesia dalam Menjaga Perdamaian di Jalur Gaza
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan apresiasi kepada Indonesia atas keputusan negara tersebut untuk mengirimkan personel militer dalam rangka menjaga gencatan senjata dan perdamaian di Jalur Gaza, Palestina. Apresiasi tersebut disampaikan saat pembukaan pertemuan perdana tingkat kepala negara Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) di Washington DC.
Dalam acara yang berlangsung pada Kamis pagi waktu setempat, Trump menekankan pentingnya kontribusi negara-negara anggota tidak hanya dalam bentuk bantuan finansial untuk pemulihan Gaza, tetapi juga dalam pengiriman personel untuk menjaga perdamaian. "Sejumlah negara menjanjikan personel untuk membantu menjaga gencatan senjata dan memastikan perdamaian yang berkelanjutan, khususnya kepada Indonesia. Terima kasih banyak Indonesia, negara besar, terima kasih sekali lagi," ujar Trump yang disiarkan secara daring oleh Gedung Putih.
Trump juga mengarahkan perhatian hadirin kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, yang hadir secara langsung dalam pertemuan tersebut. Tepuk tangan meriah dari para hadirin terdengar saat Trump menyampaikan penghargaan kepada Indonesia.
Presiden Trump menggambarkan Prabowo sebagai sosok yang tangguh dan berani mengambil keputusan yang tidak mudah. "Lihatlah betapa tangguhnya dia. Apakah Anda pikir mudah berurusan dengannya? Lihatlah wajahnya, tangguh sekali," kata Trump.
Dalam kesempatan tersebut, Trump menegaskan kembali apresiasinya kepada Prabowo yang bersedia mengizinkan personel militer Indonesia berpartisipasi dalam misi perdamaian di Jalur Gaza. "Ketika kami memerlukan tenaga, dia tidak berkeberatan. Dia tangguh dan dia cerdas, tapi cerdas jauh lebih penting," tambahnya.
Selain Presiden Prabowo, beberapa pemimpin negara anggota lainnya juga hadir dalam KTT perdana Dewan Perdamaian Gaza, di antaranya dari Albania, Argentina, Armenia, Azerbaijan, Bahrain, Kazakhstan, Hongaria, Pakistan, Paraguay, Uzbekistan, Vietnam, dan Mesir.
Acara tersebut diawali dengan pembukaan oleh Presiden Trump, diikuti dengan pemaparan dari tokoh-tokoh kunci Dewan Perdamaian, pernyataan dari pemimpin negara anggota, dan diakhiri dengan pemungutan suara serta penetapan resolusi.




