Tradisi dan Kuliner Suku Jawa Warnai Ramadan di Samarinda
Sumber Foto: RRI.co.id
Lifestyle

Tradisi dan Kuliner Suku Jawa Warnai Ramadan di Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Memasuki hari pertama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat suku Jawa di Samarinda menyambutnya dengan penuh sukacita melalui berbagai tradisi unik. Dalam program Pantas Jawa yang disiarkan RRI Samarinda pada Kamis, 19 Februari 2026, terungkap bahwa kombinasi antara kuliner khas dan tradisi turun-temurun menjadi penyemangat warga dalam menjalankan ibadah puasa di tanah perantauan.

Mbah Sapar, selaku narasumber utama dalam program tersebut, menjelaskan bahwa menu berbuka puasa menjadi salah satu aspek yang paling dinantikan. Bagi warga Jawa, hidangan manis seperti kolak pisang, ubi, hingga labu kuning merupakan menu wajib yang harus ada di meja makan sebagai pembatal puasa.

"Alhamdulillah, menu-menu khas Jawa sudah disantap untuk berbuka, terutama yang manis-manis seperti kolak pisang dan kolak ubi untuk memulihkan stamina," ujar Mbah Sapar saat berbagi pengalaman berbuka puasa di hari pertama.

Selain kolak, kuliner gorengan khas seperti randa royal juga menjadi pelengkap favorit. Mbah Sapar menambahkan bahwa cuaca Samarinda yang sempat diguyur gerimis pada hari pertama puasa membuat teh panas menjadi teman yang pas untuk menghangatkan tubuh saat waktu berbuka tiba.

Kehangatan Ramadan juga dirasakan melalui interaksi antarwarga. Salah seorang penelepon, Bu Yuli, turut menyemarakkan suasana dengan melantunkan tembang Pepeling. Tembang ini berisi pengingat bagi umat Muslim untuk tidak melupakan kewajiban salat lima waktu dan senantiasa berbuat baik, terutama di bulan yang penuh berkah ini.

" Wis wancine tansah dielengke, wis wancine padha nindakake (Sudah waktunya selalu diingatkan, sudah waktunya segera dilaksanakan)," ucap Bu Yuli saat melantunkan bait tembang Pepeling melalui sambungan telepon.

Tak hanya soal makanan dan nyanyian, tradisi membangunkan sahur juga menjadi pembahasan menarik. Mbah Sapar mengenalkan istilah tektekan, yaitu tradisi keliling kampung menggunakan kentongan bambu untuk membangunkan warga saat waktu sahur tiba. Tradisi ini dianggap sebagai bentuk kepedulian sosial yang mempererat kerukunan antar tetangga di lingkungan masyarakat Jawa.

"Kalau di Jawa ada tradisi tektekan, yaitu keliling kampung bawa kentongan bambu sekitar jam dua atau jam tiga pagi untuk membangunkan warga sahur," kata Mbah Sapar menjelaskan keragaman tradisi Ramadan.

Melalui beragam serba-serbi ini, budaya Jawa di Samarinda membuktikan bahwa nilai-nilai tradisional tetap lestari meski berada jauh dari kampung halaman. Semangat berbagi, kuliner khas, dan pengingat spiritual menjadi fondasi kuat bagi warga dalam meraih keberkahan sepanjang bulan Ramadan.