Lubang Raksasa di Aceh Tengah Mengancam Jalur Alternatif, Akses Ditutup
Sumber Foto: detikcom
Jalur Berita

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Mengancam Jalur Alternatif, Akses Ditutup

Lubang raksasa yang terletak di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, semakin meluas dan kini telah menyentuh jalan alternatif. Kejadian ini terjadi sebulan setelah jalan utama putus total akibat longsoran tanah.

Berdasarkan informasi yang dibagikan melalui akun Instagram Diskominfo Aceh Tengah, sebagian dari jalan alternatif kini terancam longsor dan telah ditutup sepenuhnya untuk akses warga. Pengalihan jalan ini dilakukan dengan menempatkan kayu di sekitar area yang berbahaya untuk mencegah warga melintas.

“Jalan alternatif Pondok Balik menuju Simpang Balik ditutup karena lubang telah mengenai jalan alternatif,” demikian pernyataan dari akun Instagram tersebut.

Lubang raksasa ini mulai terbentuk sejak tahun 2000-an dan telah menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur jalan. Sejak jalan utama putus pada 26 Januari lalu, lubang ini semakin meluas, memutuskan ratusan meter jalan utama dan mengganggu akses transportasi antara Simpang Balik di Bener Meriah dan Blang Mancung di Aceh Tengah.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) mengimbau warga untuk menggunakan jalur alternatif lain untuk transportasi antar wilayah. “Pemkab mengimbau warga menggunakan jalan alternatif lain untuk transportasi antar wilayah,” ujar Kepala Diskominfo Aceh Tengah, Mustafa Kamal.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, Andalika, menjelaskan bahwa lubang raksasa ini terbentuk akibat pergerakan tanah yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurutnya, longsoran yang meluas ini telah mengancam akses jalan dan memerlukan penanganan serius.

Data terbaru dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menunjukkan bahwa luas longsoran di lokasi mencapai sekitar 27.000 meter dan semakin mendekati jalan lintas. Penelitian yang dilakukan oleh tim geologi dan survei geofisika pada tahun 2022 juga mengungkapkan bahwa pergerakan tanah di area tersebut sangat aktif dan berkelanjutan.

“Wilayah longsoran tanah di Kampung Bah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah, sehingga memerlukan penanganan struktural dan non-struktural yang segera dan berkelanjutan,” jelas Andalika.