Ayam Panggang Anculat: Kuliner Legendaris Rantau Hadir Kembali di Ramadhan
Sumber Foto: sabanua.com
Lifestyle

Ayam Panggang Anculat: Kuliner Legendaris Rantau Hadir Kembali di Ramadhan

Di jantung Kota Rantau, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan ada satu kuliner yang sudah begitu akrab di lidah masyarakat sejak puluhan tahun lalu: Ayam Panggang Anculat.

Masakan ini salah satu menu yang wajib disantap saat berbuka puasa pada momentum Ramadhan tahun ini.

Lokasinya berada di Jalan Pembangunan Kelurahan Rantau Kiwa, tepatnya berseberangan dengan Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tapin.

Oleh, Muhammad Fauzi Fadilah

Sejak dirintis pada tahun 1983, cita rasanya tetap bertahan, menjadi bagian dari kenangan sekaligus kebanggaan warga setempat. Dulu, Warung Ayam Panggang Anculat ini berada di sekitar jembatan Kota Rantau atau Jembatan Pasar.

Usaha ini pertama kali dirintis oleh Anculat—sapaan akrab dari almarhum Basran. Berbekal resep turun-temurun dan racikan bumbu rahasia, beliau membangun usaha ayam panggang yang perlahan tapi pasti mencuri perhatian pecinta kuliner di Rantau dan sekitarnya.

Aroma ayam yang dipanggang di atas bara api, berpadu dengan olesan bumbu khas, selalu berhasil menggugah selera bahkan sebelum hidangan tersaji di meja.

Keistimewaan Ayam Panggang Anculat terletak pada bumbunya. Perpaduan rempah-rempah pilihan yang diracik dengan takaran khusus menciptakan rasa gurih, manis, dan sedikit sentuhan asap yang meresap hingga ke dalam daging. Tekstur ayamnya empuk, dengan bagian luar yang sedikit karamelisasi, membuat setiap gigitan terasa begitu nikmat.

Sang Ayah ini berpulang ke Rahmatullah pada 2018. Semenjak itu, warung ayam panggang saat itu buka di sekitar Desa Banua Padang redup. Sempat pakum selama 4 tahun.

Memasuki era baru, usaha legendaris itu kini dilanjutkan oleh generasi kedua, Ramadhani—anak pertama Anculat. Dengan tetap mempertahankan resep asli sang ayah, Ramadhani menjaga konsistensi rasa yang sudah dipercaya pelanggan selama lebih dari empat dekade.

Di tangannya, Ayam Panggang Anculat tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang mengikuti selera zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Di tangan Ramadhani, sekitar tahun 2022 Ayam Panggang Anculat ini sempat masuk di menu makanan Cafe Ruai Rindu dan Cafe Kalamari. Jadi, bisa dikatakan cita rasanya pun juga sudah familiar dengan lidah Gen Y – Z di Kota Rantau.

“Cafenya sudah tutup. Lalu kita putuskan untuk buka warung kembali. Ya, sudah setahun ini. Alhamdulillah, masih banyak pelanggan,” ucap Ramadhani lelaki kelahiran 1994 ini.

Ia tak sendiri. Warung Ayam Panggang Anculat ini dijalankan bersama istrinya, Caca.

Maka, tak heran. Ayam Panggang Anculat kerap menjadi pilihan utama masyarakat untuk berbagai acara keluarga, syukuran, hingga santapan istimewa.

Terlebih lagi di bulan suci Ramadhan, menu ini menjadi rekomendasi yang pas untuk berbuka puasa.

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, sajian ayam panggang hangat dengan nasi putih dan kuah sop ditambah sambal pendamping terasa begitu memanjakan.

Lebih dari sekadar makanan, Ayam Panggang Anculat adalah cerita tentang warisan rasa, kerja keras, dan dedikasi sebuah keluarga di Rantau.

Di tengah banyaknya pilihan kuliner modern, kehadirannya tetap menjadi bukti bahwa cita rasa tradisional yang dijaga dengan sepenuh hati akan selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Pesan Aja, Bisa!

Seperti biasa menu andalan di Warung Ayam Panggang Anculat ini ada ayam, bebek, hati hingga kulit.

Harga per-porsi dipatok mulai dari Rp15 ribu hingga Rp28 ribu. Sudah termasuk kuah. Ya, komplit lah.

Khusus Bulan Suci Ramadhan, warung ini hanya menyediakan layanan take away buka dari pukul 12 sampai menjelang buka puasa. Dan juga bisa order, barang kali ingin menyantap saat buka puasa bersama.

“Kalau pesanan lebih dari 20 porsi bisa kontek kita dulu sehari sebelumnya. Takutnya bahan habis atau tak cukup untuk memenuhi permintaan. Ya, bisa hubungi lewat nomor WhatsApp 085828863593,” ujar Ramadhani.