Transformasi Industri Digital Indonesia Menuju Era Kecerdasan Buatan
Sumber Foto: Marketeers
Teknologi

Transformasi Industri Digital Indonesia Menuju Era Kecerdasan Buatan

Industri teknlogi dan digital Indonesia diproyeksikan akan dipengaruhi oleh percepatan adopsi Artificial Intelligence (AI) dan dinamika regulasi.

Yogi Triharso, CEO PT Cipta Teknologi International sekaligus perwakilan Indonesian Digital Association (IDA), menyampaikan, sektor ini dihadapi tantangan struktural yang makin kompleks.

Menurutnya, ekosistem industri digital saat ini bertumpu pada dua pilar utama yakni media digital dan teknologi. Media tidak lagi sekadar soal kanal, tetapi mencakup turunan yang semakin kompleks seperti konten, kreativitas, relevansi audiens, hingga konteks waktu dan lokasi.

Sementara di sisi teknologi, industri digital bergantung pada kesiapan brainware, hardware, serta fasilitas pendukung, terutama ketersediaan energi yang kini menjadi isu krusial seiring pesatnya adopsi teknologi AI.

Masuknya AI generatif ke ranah pencarian informasi juga mengubah lanskap digital secara signifikan. Kini, sekitar 64% aktivitas pencarian mulai bergeser ke sistem berbasis AI yang menyajikan ringkasan langsung, alih-alih daftar tautan.

Perubahan ini memunculkan tantangan baru tentang bagaimana monetisasi bisa tetap berjalan ketika user tidak lagi mengklik media atau platform.

Sebagai respons, industri mulai mengembangkan pendekatan baru seperti Generative Engine Optimization (GEO), upaya mengintegrasikan brand dan layanan ke dalam ringkasan AI agar tetap relevan dan bernilai secara komersial.

“Memasuki 2026, teknologi seperti generative AI tidak hanya mengubah user experience, tetapi juga menantang industri untuk membangun model monetisasi yang berkelanjutan. AI seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai alat efisiensi, melainkan sebagai enabler yang meningkatkan kapasitas dan kapabilitas manusia,” ujar Yogi dalam acara MARKET-ing Outlook 2026: Industry Perspective yang berlangsung di MarkPlus Campus, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Yogi menekankan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat untuk augmenting capability, bukan semata-mata efisiensi biaya. Dengan teknologi yang semakin terjangkau, AI membuka peluang lahirnya perusahaan-perusahaan kecil dengan jangkauan global, bahkan hanya bermodalkan laptop dan koneksi internet.

“AI meng- enable semua orang. Tantangannya adalah bagaimana industri memanfaatkannya secara sehat, bukan hanya untuk memangkas biaya, tapi untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing,” pungkasnya .

Memasuki 2026, industri digital Indonesia berada pada fase yang penuh peluang sekaligus tantangan. Teknologi terus berkembang, namun keberlanjutan industri akan sangat ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, strategi monetisasi baru, serta kemampuan pelaku industri memanfaatkan teknologi secara bijak dan kolaboratif.