Top Noodle Bertransformasi Jadi Restoran Full-Service di Tunjungan Plaza
Sumber Foto: Pikiran Rakyat Jatim
Lifestyle

Top Noodle Bertransformasi Jadi Restoran Full-Service di Tunjungan Plaza

Kanal News Day - PR JATIM – Di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner modern, satu nama lama memilih tidak sekadar bertahan. Setelah lebih dari 35 tahun menjadi ikon yammie di Kota Pahlawan, Top Noodle resmi melakukan re-opening outletnya di Tunjungan Plaza 4 Lantai 5. Namun yang berubah bukan hanya wajah gerai, melainkan strategi besar untuk merebut kembali panggung kuliner Surabaya.

Transformasi dari Top Noodle Express menjadi Top Noodle full-service menandai perubahan arah bisnis. Jika sebelumnya mengusung konsep cepat saji, kini restoran tersebut hadir dengan pelayanan meja penuh (full-service), desain interior lebih chic, serta suasana yang dirancang lebih nyaman untuk keluarga dan generasi muda.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Perubahan perilaku konsumen pascapandemi, meningkatnya tuntutan pengalaman bersantap, hingga maraknya restoran berkonsep estetik menjadi tantangan nyata bagi brand legendaris. Top Noodle menjawabnya dengan rebranding total.

“Re-opening ini bukan sekadar ganti nama. Ini adalah reposisi brand. Kami ingin tetap mempertahankan DNA yammie klasik, tetapi dikemas lebih modern dan relevan dengan gaya hidup urban,” ujar Brand Manager Top Noodle, Agus Ariyanto.

Menurut Agus, kurasi ulang menu menjadi fokus utama. Resep klasik tetap dipertahankan, tetapi ada penyesuaian rasa, kualitas bahan baku, hingga presentasi yang lebih premium. Signature Yammie Ayam Jamur tetap menjadi tulang punggung. Sementara menu seperti Yammie Ayam Spicy dan Pangsit Goreng Bumbu Pedas menyasar segmen muda yang gemar cita rasa tajam.

Tak hanya itu, Top Noodle juga memperluas segmen pasar dengan menghadirkan menu sharing seperti Kombinasi BBQ—terdiri dari ayam arang, ayam panggang, dan bebek panggang dengan kacang madu. Pilihan lain seperti Nasi Siram Telur hingga Seafood Telur Asin mempertegas bahwa Top Noodle kini tak lagi sekadar “restoran mie”, melainkan destinasi makan keluarga.

Yang menarik, seluruh menu disajikan tanpa pork, lard, maupun arak. Strategi ini dinilai memperluas pangsa pasar sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang lebih selektif terhadap bahan makanan.