Road to Konser 165: Memperkuat Identitas Budaya Batak Melalui Musik
SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Pagelaran musik bertajuk Road to Konser 165 yang digagas oleh Efendi Simbolon terus bergulir sebagai bagian dari rangkaian perayaan 165 tahun Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Tidak hanya menjadi ajang hiburan, konser ini diproyeksikan sebagai gerakan budaya untuk memperkuat eksistensi musik Batak sekaligus menyatukan masyarakat lintas generasi.
Setelah sukses digelar di Surabaya, Semarang, dan Bandung, Jakarta menjadi kota keempat dalam rangkaian tur yang ditargetkan menyambangi lebih dari 160 kota di dalam dan luar negeri. Skala tersebut menjadikan Road to Konser 165 sebagai salah satu perhelatan musik Batak terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Efendi Simbolon menegaskan bahwa konser ini memiliki visi yang lebih luas dari sekadar pertunjukan musik. “Ini bukan hanya panggung hiburan. Kami ingin menghadirkan ruang silaturahmi, memperkuat identitas budaya, sekaligus mendorong industri musik Batak agar semakin profesional dan berdaya saing,” ujar Efendi dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis, 19 Februari 2026.
Menurut dia, seluruh rangkaian konser ini diarahkan menuju puncak perayaan 165 tahun HKBP yang rencananya akan digelar di Gelora Bung Karno pada Oktober 2026. Acara tersebut direncanakan menjadi ibadah raya sekaligus perayaan syukur besar yang melibatkan jemaat dari berbagai daerah.
“Seluruh kegiatan ini adalah bagian dari persiapan menuju bulan Oktober. Kami ingin menyambut momentum besar itu dengan semangat sukacita. Karena itu, konser ini kami kemas dengan pendekatan yang lebih inklusif—bukan hanya untuk warga Batak, tetapi untuk semua kalangan. Pada dasarnya, semua masyarakat membutuhkan hiburan yang sehat dan bermakna,” kata Efendi.
Ia juga menambahkan bahwa tur ini dirancang tidak hanya di dalam negeri, melainkan juga ke sejumlah kota di Amerika Serikat dan Eropa, termasuk Jerman. Kota Northeim di Jerman, yang memiliki nilai historis bagi misi kekristenan di Tanah Batak, disebut sebagai salah satu lokasi yang direncanakan akan disambangi.
Sementara itu, Posan Tobing yang ditunjuk sebagai promotor melalui Anak Ni Raja Production menyebutkan bahwa tantangan utama tur ini adalah menjaga kualitas di setiap kota. “Kami menyadari bahwa ini bukan pekerjaan kecil. Namun, justru di situlah semangat profesionalisme kami diuji. Setiap kota harus merasakan energi dan kualitas pertunjukan yang sama,” ujar Posan.
Menurut Posan, antusiasme masyarakat di tiga kota sebelumnya menunjukkan bahwa musik Batak memiliki basis penggemar yang kuat. “Kami melihat sendiri bagaimana warga Batak di perantauan begitu rindu akan panggung yang merepresentasikan identitas mereka. Tetapi menariknya, penonton yang hadir tidak hanya orang Batak. Ini membuktikan bahwa musik Batak punya daya tarik universal,” katanya.
Ia menambahkan bahwa seluruh artis yang terlibat dipilih secara selektif, dengan mempertimbangkan kualitas musikalitas dan daya tarik publik. “Kami ingin menjaga standar. Konser ini profesional, sehingga manajemennya pun harus profesional,” ujarnya.
Lebih jauh, Efendi menjelaskan bahwa selain menjadi ruang ekspresi seni, konser ini juga memiliki dimensi pemberdayaan. Sebagian margin keuntungan akan dialokasikan untuk mendukung kepanitiaan dan persiapan acara puncak di Gelora Bung Karno.
“Kami mengelola ini secara transparan dan bertanggung jawab. Harapannya, dalam delapan bulan ke depan, dana yang terkumpul bisa membantu menopang berbagai kegiatan, termasuk penyelenggaraan ibadah raya di GBK. Jadi, konser ini sekaligus menjadi bentuk gotong royong modern,” tutur Efendi.
Dengan konsep maraton yang menyasar sedikitnya 33 kabupaten/kota pada tahap awal dan terus berkembang sesuai animo masyarakat, Road to Konser 165 diharapkan tidak hanya menjadi rangkaian konser biasa. Sebaliknya, agenda ini diposisikan sebagai momentum strategis untuk menghidupkan kembali ekosistem musik Batak, memperluas jejaring diaspora, dan memperkuat identitas budaya di tengah arus industri hiburan nasional.
“Yang kami kerjakan ini semuanya bermuara pada satu tujuan: kebersamaan dan sukacita. Kalau semua dikerjakan dengan hati yang gembira, hasilnya pun akan maksimal,” pungkas Posan. (**)




