Pensiunan Guru Lestarikan Kuliner Dayak Melalui Malamang
Kanal News Day - BORNEONEWS, Sampit – Aroma asap kayu bercampur santan menyeruak pelan saat seorang pria paruh baya membolak-balik bambu yang bersandar di atas perapian. Bara api menyala stabil, tak terlalu besar, tak pula redup. Di sanalah Yustianus Maroangi, pensiunan guru sekolah dasar, setia menjaga nyala tradisi lewat malamang, warisan kuliner Dayak yang kini kian jarang disentuh generasi muda.
Sudah 12 tahun terakhir Yustianus menekuni pembuatan lemang sejak pensiun dari dunia pendidikan. Baginya, meracik ketan dalam balutan bambu bukan sekadar mencari tambahan penghasilan, melainkan panggilan hati untuk merawat budaya.
"Saya membuat lemang ini sudah 12 tahun, setelah pensiun menjadi guru SD. Ini makanan khas orang Dayak dan banyak yang suka, walaupun bukan orang asli," ujarnya, Kamis, 26 Februari 2026.
Terpanggil Menjaga Tradisi
Yustianus bukan seorang berdarah Dayak, ia berasal dari Poso, Sulawesi Tengah. Namun hatinya kini tertambat di Kalimantan Tengah, tanah kelahiran sang istri. Meski bukan asli Dayak, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk turut melestarikan kuliner khas daerah tersebut.
"Saya dari Poso, tapi saya terpanggil untuk ikut menjaga budaya ini," tuturnya.
Sejak kecil ia sudah akrab dengan proses membuat lemang, membantu orang tuanya ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah. Pengalaman masa kecil itu kembali ia hidupkan setelah purna tugas sebagai guru. Dari ruang kelas, ia beralih ke dapur tradisional dengan tekad keteladanan menjaga warisan leluhur.
Ciri Khas Malamang dari Suku Dayak
Menurut Yustianus, setiap daerah memiliki versi lemang yang berbeda. Di kampung halamannya di Poso, lemang kerap dimasak dengan aneka rempah seperti jahe, bawang, hingga daun pandan. Namun lemang tradisional Dayak justru tampil dalam kesederhanaan.
"Kalau tradisional Dayak hanya santan dan garam. Tidak ada bumbu macam-macam. Beras ketan dimasak dengan santan dan garam saja," katanya.
Kesederhanaan itu justru menjadi ciri khas. Rasa gurih santan yang meresap sempurna ke dalam butiran ketan menghadirkan cita rasa alami yang khas.
Proses Malamang Perlu Kesabaran
Proses membuat lemang bukan perkara sepele. Bambu yang digunakan harus dipilih dengan cermat, bambu muda yang tipis dan memiliki lubang besar. Ia biasanya mendapatkan bambu dari Desa Luwuk Bunter, Kecamatan Cempaga.
Ketan dan santan dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang. bambu tersebut kemudian disusun miring bersandar pada kayu di atas bara api. Proses membuatnya perlu dipanggang selama dua hingga tiga jam dengan api yang tidak terlalu besar.
"Kalau apinya kebesaran, bambunya yang hangus dan hasilnya tidak bagus. Jadi harus pas," ucap Yustianus.
Terlalu besar, bambu bisa gosong dan merusak rasa. Terlalu kecil, ketan tak matang merata. Kesabaran dan pengalaman menjadi penentu keberhasilan.
Pesanan dari Berbagai Daerah
Ketelatenannya menjaga kualitas membuat Yustianus kerap menerima pesanan dari berbagai daerah. Ia pernah dipanggil ke Palangkaraya untuk memasak lemang dalam sebuah acara. Pesanan dari Lamandau pun rutin dikirim melalui jasa travel.
Meski banyak peminat lemang, ia tetap mempertahankan prinsip hanya melayani berdasarkan pesanan tanpa produksi massal.
"Lemang ini banyak yang suka, tapi yang membuat sudah jarang. Biasanya orang pesan untuk acara adat, pernikahan, ibadah, dan selamatan," bebernya.
Lemang biasanya disajikan dengan kelapa inti, sate, atau opor ayam. Bahkan tanpa lauk pun, potongan ketan berbalut aroma bambu dan santan itu tetap nikmat disantap.
Harapan untuk Generasi Penerus
Di balik semangat seorang Yustianus Maroangi terselip sebuah kekhawatiran kekhawatiran. Minat anak muda untuk belajar membuat lemang dinilainya semakin minim. Hal itu nampak dari berbagai even lomba yang ia ikuti tak pernah ada generasi muda terlibat. Padahal, budaya hanya bisa bertahan jika diwariskan.
"Jarang anak muda yang mau membuat lemang sekarang. Kita yang tua memberi contoh. Siapa lagi yang akan meneruskan warisan budaya ini kalau bukan generasi muda," katanya.
Di tengah gempuran makanan instan dan gaya hidup serba cepat, Yustianus memilih setia melestarikan malamang sebagai budaya kuliner Dayak. Ia percaya, selama masih ada yang peduli, aroma santan dan ketan dari dalam bambu itu tak akan pernah benar-benar hilang dari tanah Kalimantan Tengah. (DEWI PATMALASARI/H)




