Kuliner Sunda: Kesederhanaan Rasa yang Sarat Filosofi Kebersamaan dan Kedekatan dengan Alam
Sumber Foto: vivaborneo.com
Lifestyle

Kuliner Sunda: Kesederhanaan Rasa yang Sarat Filosofi Kebersamaan dan Kedekatan dengan Alam

Tasikmalaya – Kuliner Sunda kerap dikenal sederhana, jauh dari tampilan mewah atau bumbu yang berlapis-lapis. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan cerita panjang tentang cara hidup masyarakat Sunda yang menjunjung kebersahajaan, kebersamaan, dan kedekatan dengan alam.

Makanan khas Sunda umumnya lahir dari bahan-bahan lokal yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar, seperti singkong, oncom, sayuran segar, hingga ikan air tawar. Cara pengolahannya pun tidak rumit. Meski demikian, setiap hidangan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pemenuhan rasa lapar.

Sebagai contoh, nasi liwet yang sering disajikan saat ngaliwet mencerminkan nilai kebersamaan. Hidangan ini tidak dimakan sendiri, melainkan dinikmati bersama-sama dalam satu hamparan daun pisang. Tidak ada porsi khusus, tidak ada pembeda. Semua duduk sejajar, berbagi lauk dan cerita.

Kesederhanaan juga tercermin pada kudapan tradisional seperti combro, misro, atau colenak. Combro, yang berasal dari istilah oncom di jero (isian oncom di dalam), menggambarkan cara masyarakat Sunda memanfaatkan bahan pangan hasil fermentasi menjadi hidangan bernilai rasa tinggi.

Misro dengan isian gula aren menghadirkan filosofi keseimbangan antara manis dan gurih, sementara colenak mengajarkan, singkong bahan yang sering dipandang biasa bisa menjadi sajian istimewa bila diolah dengan tepat.

Bagi Wardah, pecinta kuliner Sunda yang kini tinggal di Kalimantan, makanan-makanan tersebut menyimpan makna emosional tersendiri.

“Kuliner Sunda itu kelihatannya sederhana, tapi rasanya jujur. Nggak dibuat-buat,” ujarnya. Menurut Wardah, setiap kali pulang ke Jawa Barat, ia selalu menyempatkan diri mencari makanan khas Sunda. “Ada rasa tenang waktu makan makanan kampung sendiri. Kayak lagi diingatkan buat hidup nggak berlebihan,” katanya.

Wardah menilai kuliner Sunda mengajarkan cara menikmati hidup secara perlahan. “Makanannya nggak ribet, tapi bikin nyaman. Dari situ aku ngerasa, hidup juga seharusnya begitu,” ucapnya.

Selain bahan dan rasa, filosofi kuliner Sunda juga terlihat dari cara penyajiannya. Lalapan mentah, misalnya, menunjukkan kedekatan masyarakat Sunda dengan alam serta kebiasaan mengonsumsi makanan segar tanpa banyak proses. Sambal dadak yang dibuat secara langsung mencerminkan spontanitas dan kejujuran rasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, makanan bukan hanya soal selera, tetapi juga sarana menjaga hubungan sosial. Banyak hidangan Sunda disiapkan untuk dimakan bersama, baik dalam keluarga, lingkungan tetangga, maupun komunitas. Tradisi ini menegaskan, makan adalah aktivitas sosial yang mempererat ikatan, bukan sekadar rutinitas individual. (intan)

Post Views: 200

Share this news

Artikel Terkait

LPTQ Kaltim Gelar Pemusatan Latihan

Sehat dengan Khitan, 57 Anak Ikuti Khitan Massal di SMA Negeri 2 Samarinda

Masjid Negara dan Gereja Basilika Nusantara Siap Difungsikan Untuk Agenda Besar

Katamedia.co Salurkan Bantuan CSR ke Majelis Qolbun Salim

Pamali yang Dulu Ditakuti, Kini Sekadar Cerita Sebelum Tidur

Tags: