Ketegangan AS-Iran: Trump Tawarkan Diplomasi Sambil Ancaman Militer
Sumber Foto: Serambinews.com
Internasional

Ketegangan AS-Iran: Trump Tawarkan Diplomasi Sambil Ancaman Militer

SERAMBINEWS.COM - Dilema kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mencuat seiring meningkatnya ketegangan antara Washington dan Iran.

Situasi ini menyoroti kontradiksi antara retorika perdamaian yang dikampanyekan Trump dan ancaman nyata penggunaan kekuatan militer.

Dilansir melalui BBC News (20/2/2026), dalam pertemuan Dewan Perdamaian yang digelar di Washington pada Kamis lalu, Trump menyampaikan ultimatum terbarunya kepada Iran.

Dewan tersebut merupakan koalisi negara-negara Timur Tengah yang dibentuk atas inisiatif Trump dengan tujuan menstabilkan kawasan.

Namun, seruan diplomasi yang ia sampaikan justru dibarengi peringatan keras bahwa aksi militer akan ditempuh jika Teheran tidak mematuhi tuntutan AS.

Trump menyatakan lebih memilih solusi diplomatik melalui kesepakatan yang menghentikan program senjata nuklir Iran.

Seorang pejabat Gedung Putih bahkan menyebut Iran akan “sangat bijaksana” jika bersedia menandatangani perjanjian tersebut.

Meski demikian, dalam beberapa pekan terakhir Trump justru meningkatkan tekanan dengan pengerahan militer besar-besaran AS di Timur Tengah, yang oleh para analis disebut sebagai yang terbesar sejak Perang Irak 2003.

Ancaman terhadap Iran dinilai tidak bisa dianggap sekadar strategi negosiasi.

Pasalnya, pada Januari lalu Trump benar-benar menindaklanjuti ancaman serupa dengan operasi militer terhadap Venezuela, yang berujung pada penangkapan mantan Presiden Nicolás Maduro.

Namun, berbeda dengan Venezuela, tujuan militer AS di Iran hingga kini masih belum jelas.

Trump bersikeras bahwa serangan AS pada Juni tahun lalu telah “menghancurkan” fasilitas nuklir Iran. Meski begitu, ia belum menjelaskan mengapa serangan lanjutan masih diperlukan, apa target barunya, dan tujuan jangka panjang AS di negara tersebut.

Pertanyaan besar pun muncul, mulai dari kemungkinan perubahan rezim, risiko serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS, hingga dampaknya terhadap stabilitas kawasan, termasuk upaya rekonstruksi Gaza.

Peran Israel juga masih menjadi tanda tanya.