Dewan Perdamaian Rencanakan Rekonstruksi dan Keamanan Gaza Pascakonflik
NICKOLAY Mladenov, direktur jenderal Dewan Perdamaian, pada Kamis memaparkan kerangka tata kelola, keamanan, dan rekonstruksi Gaza pascaperang dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Washington, Amerika Serikat. Ini termasuk rencana pembangunan kembali institusional serta pembentukan kepolisian Palestina baru.
Mladenov yang merupakan diplomat asal Bulgaria, mengumumkan pembentukan mekanisme administratif baru yang dimaksudkan untuk mendukung kepemimpinan sipil Gaza di masa depan.
"Kami sangat senang mengumumkan bahwa kami membentuk Kantor Perwakilan Tinggi untuk Gaza, dari Dewan Perdamaian, yang akan ada untuk mendukung, membimbing, dan membantu Komite Nasional untuk administrasi Gaza, mudah-mudahan menghilangkan hambatan yang akan mereka hadapi dalam mengambil alih kendali sipil dan administratif Jalur Gaza," katanya seperti dilansir Anadolu.
Mladenov mengatakan kantor tersebut akan beroperasi di bawah pengawasan dewan dan badan eksekutifnya dan berkoordinasi dengan lembaga-lembaga Israel dan Palestina, serta pasukan stabilisasi internasional.
Ia juga mengungkapkan bahwa perekrutan untuk pasukan polisi transisi Palestina telah dimulai.
"Hanya dalam beberapa jam pertama, kami telah menerima 2.000 lamaran dari orang-orang yang ingin bergabung dengan pasukan polisi transisi Palestina baru yang akan dibentuk di Gaza di bawah wewenang Komite Nasional, dengan dukungan Dewan Perdamaian yang terlatih di Mesir," ujarnya.
Menurut Mladenov, aparat kepolisian tersebut akan menjadi pusat dalam memulihkan ketertiban selama fase transisi di Gaza.
"Pasukan keamanan Palestina di bawah wewenang Komite Nasional untuk periode transisi inilah yang akan memungkinkan kita untuk memastikan bahwa semua faksi di Gaza dibubarkan dan semua senjata berada di bawah kendali satu otoritas sipil," tuturnya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Qatar, Mesir, dan Turki atas dukungan mereka terhadap upaya mediasi dan menekankan bahwa rekonstruksi bergantung pada pelucutan senjata.
"Tidak ada pilihan lain kecuali demiliterisasi penuh dan pelucutan semua senjata di Gaza agar rekonstruksi dapat dimulai dan masyarakat Palestina dapat memiliki cara hidup baru ke depannya," katanya.
Mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair, juga berpidato dalam pertemuan tersebut, menggambarkan rekam jejak pemerintahan Gaza sebagai sangat bermasalah dan menyerukan reformasi besar-besaran.
"Selama beberapa dekade, pemerintahan Gaza ditandai oleh ekstremisme, korupsi, lembaga yang tidak efektif, dan ketiadaan jalan menuju kemakmuran bagi rakyat Gaza," ujar politikus Inggris yang dituduh melakukan kejahatan perang dalam perang Irak pada 2003.
Blair menguraikan visi untuk Gaza yang didasarkan pada lembaga publik yang berfungsi, peluang ekonomi, dan pengembangan teknologi, menambahkan bahwa itu adalah visi Gaza sebagai bagian dari Timur Tengah yang damai.
"Sebuah komitmen tulus terhadap wilayah di mana, baik Anda seorang Muslim, Yahudi, Kristen, atau agama apa pun atau tidak beragama, Anda dapat bangkit dengan usaha sendiri, dan merasa pemerintah berada di sisi Anda, bukan di belakang Anda," tuturnya.
Ia mengatakan kerangka kerja yang diusulkan Presiden AS Donald Tump "tetap menjadi harapan terbaik, bahkan satu-satunya harapan bagi Gaza, kawasan, dan dunia yang lebih luas."
Ambisi Menantu Trump
Jared Kushner, menantu Trump yang pro-Israel, menegaskan kegagalan di Gaza “bukanlah pilihan” saat memaparkan visi ambisius rekonstruksi wilayah Gaza dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Washington.
“Kami di sini untuk membantu rakyat Gaza, mengangkat mereka, dan memberi mereka setiap kesempatan untuk berhasil,” kata Kushner yang didapuk Trump dalam upaya perdamaian Gaza seperti dilansir Anadolu.
Pria keturunan Yahudi itu menggambarkan upaya tersebut sebagai kemitraan antara warga Gaza dan Israel guna menciptakan “lingkungan yang damai dan dapat berfungsi”.
Kushner menyampaikan optimisme tentang kerja sama internasional, mengatakan bahwa Muslim, Yahudi, Palestina, Israel, dan orang-orang dari seluruh dunia telah bersatu di sekitar "tujuan bersama, yaitu perdamaian dan kebersamaan."
"Kita tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi apa yang Anda lihat hari ini adalah bahwa kita berpotensi mengubah masa depan jika kita fokus dan melakukan ini dengan cara yang benar," ujarnya.
Ia menuturkan, para peserta Dewan Perdamaian adalah “kelompok negara terpilih yang sungguh percaya masa depan bisa berubah”, dan bahwa mereka terlibat “demi anak-anak serta cucu-cucu mereka”.
Sebuah video promosi yang diproduksi oleh Kushner menguraikan upaya rekonstruksi di lapangan, menggambarkan pembentukan zona aman yang menawarkan tempat berlindung, makanan, perawatan kesehatan, dan pendidikan bagi keluarga Palestina.
Pekerjaan infrastruktur yang dikoordinasikan dengan AS dan Bank Dunia diklaim akan mempekerjakan ratusan ribu orang dalam kegiatan pembangunan kembali dan komersial, sementara sistem transportasi, air dan energi akan dipulihkan.
Video tersebut menetapkan target tiga tahun untuk rekonstruksi penuh Rafah, pengurangan pengangguran, dan koneksi Gaza ke dunia melalui koridor yang menghubungkan Mesir, Israel, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, yang meluas ke India dan Eropa.
Dalam satu dekade, Gaza akan menjadi wilayah yang berpemerintahan sendiri yang terintegrasi ke dalam kawasan dengan industri dan perumahan yang berkembang, menurut video tersebut.
Namun, tidak disebutkan di mana warga Palestina akan tinggal selama pembangunan, maupun bagaimana properti baru akan dialokasikan. Dewan sebelumnya mengatakan pembangunan juga akan mencakup zona pariwisata dan industri, tetapi belum memberikan rincian lebih lanjut.
Lebih dari 75.000 warga Palestina tewas dalam 16 bulan pertama genosida Israel di Gaza yang berlangsung selama lebih dari dua tahun. Setidaknya 25.000 lebih banyak dari jumlah korban tewas yang diumumkan oleh otoritas setempat pada saat itu, menurut sebuah studi yang diterbitkan pada Rabu di jurnal medis Lancet Global Health.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pelaporan oleh kementerian kesehatan Gaza tentang proporsi perempuan, anak-anak, dan lansia di antara mereka yang tewas adalah akurat.
Sebanyak 42.200 perempuan Palestina, anak-anak, dan lansia tewas akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023.
Para ahli pembangunan PBB mengatakan pada Oktober 2025 mengatakan bahwa dibutuhkan sekitar US$70 miliar untuk membangun kembali Gaza dan menjadikannya aman setelah dua tahun genosida.
Dengan panjang hanya 41 kilometer dan lebar dua hingga lima kilometer, hanya sedikit tempat di Gaza yang tidak terkena dampak pengeboman Israel yang terus-menerus sebelum gencatan senjata pada 10 Oktober.
Menurut Jaco Cilliers dari Program Pembangunan PBB (UNDP), Perwakilan Khusus Administrator untuk program bantuan kepada Rakyat Palestina, kerusakan di seluruh wilayah tersebut "sekarang berada di kisaran 84 persen. Di bagian-bagian tertentu Gaza, seperti di Kota Gaza, bahkan mencapai 92 persen."




