Dampak Stabilitas Ekonomi Indonesia terhadap Arus Investasi Global
Sumber Foto: Mnctrijaya.com
Ekonomi

Dampak Stabilitas Ekonomi Indonesia terhadap Arus Investasi Global

Kanal News Day - Jakarta – Stabilitas ekonomi Indonesia kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku pasar global. Dalam diskusi publik bertajuk Stabilitas Ekonomi Indonesia di Mata Pemeringkat Global: Bagaimana Respons Pemerintah? para ekonom membahas bagaimana penilaian lembaga internasional bisa langsung memengaruhi arus investasi ke Tanah Air.

Salah satu sorotan utama adalah peran MSCI, lembaga penyedia indeks saham global yang menjadi acuan investor besar dunia.

“MSCI menjadi rujukan utama investor institusional global, mulai dari hedge fund hingga manajer investasi internasional,” ujar ekonom UGM Denni Purbasa dalam diskusi di Kampus Unika Atmajaya, Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Sederhananya, jika sebuah saham atau negara masuk dalam indeks MSCI, peluang dilirik investor asing semakin besar. Sebaliknya, jika ada catatan negatif atau dikeluarkan dari indeks, dana asing bisa cepat keluar.

Per 30 Januari 2026, indeks MSCI Indonesia berisi 18 saham. Masuk ke dalam daftar tersebut dianggap sebagai “tiket emas” karena meningkatkan visibilitas global dan potensi masuknya dana asing.

Namun MSCI juga rutin melakukan evaluasi. Jika ada masalah, misalnya soal transparansi kepemilikan saham publik (free floa), komposisi indeks bisa ditunda atau diubah.

Dalam Forum yang digelar Atma Jaya Institute of Public Policy bersama Cisangiri Syndicate itu, Denni menegaskan bahwa dalam ekonomi global, kepercayaan adalah segalanya. Ia mengutip pemikiran ekonom peraih Nobel Douglass North tentang pentingnya kepastian hukum dan perlindungan hak milik.

“Modal akan masuk ke negara yang punya kepastian hukum dan kredibilitas institusi. Bukan sekadar pertumbuhan tinggi, tapi sistemnya harus kuat,” tegasnya.

Masalah Transparansi Jadi Sorotan

Sementara itu, Dosen Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko.menyoroti bahwa persoalan utama bukan sekadar citra, tetapi transparansi data.

Dalam review terbaru, tiga emiten Indonesia tidak dimasukkan ke indeks MSCI karena keraguan terhadap validitas data *free float*. Salah satu perusahaan energi terbarukan dengan kapitalisasi sekitar Rp1.000 triliun menjadi perhatian karena klaim 35 persen saham publiknya dinilai tidak sejalan dengan likuiditas perdagangan.

MSCI bahkan mencurigai adanya *orchestrated trading behavior* atau praktik yang di pasar dikenal sebagai “saham digoreng”.

“Kalau kepemilikan tidak transparan, harga saham bisa terdistorsi dan kepercayaan investor terganggu,” kata Pras.

Sebelum pengumuman hasil review MSCI pada akhir Januari, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menyentuh rekor 9.200 pada 19 Januari. Namun setelahnya pasar mengalami koreksi.

Meski begitu, Pras menilai penurunan tersebut tidak hanya karena MSCI. Struktur pasar modal Indonesia yang masih terkonsentrasi juga berperan besar.

Dari sekitar 980 emiten dengan total kapitalisasi Rp15.000 triliun, sekitar 20 perusahaan terbesar menguasai 50–60 persen nilai pasar. Beberapa saham bahkan memiliki rasio harga terhadap laba (PER) sangat tinggi, mencapai ratusan kali.

Pasca review MSCI, sejumlah saham terkoreksi hingga 32 persen, sementara IHSG turun sekitar 12 persen. Sebaliknya, indeks LQ45 relatif lebih stabil.

Sepanjang 2025, IHSG naik sekitar 35 persen dan LQ45 naik 33 persen. Namun kenaikan itu dinilai lebih banyak ditopang saham tertentu, belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan yang merata.

Diskusi tersebut menyimpulkan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia bukan hanya soal angka pertumbuhan atau rekor indeks saham. Transparansi, tata kelola yang baik, serta konsistensi kebijakan menjadi fondasi utama agar investor tetap percaya dan arus modal tetap terjaga. Di tengah pasar global yang makin terintegrasi, reputasi dan kepercayaan menjadi aset paling berharga bagi perekonomian nasional.