Tantangan Kesenjangan Pembangunan di Sekitar Bandara Juanda Surabaya
Kanal News Day - Surabaya
Kesenjangan Pembangunan di Sekitar Bandara Internasional Juanda dalam Perspektif Teori Pertumbuhan Ekonomi
25 Februari 2026 08:07 Diperbarui: 25 Februari 2026 08:07 162 0 0
+
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kedua, ketimpangan akses modal. UMKM lokal di sekitar bandara tidak selalu memiliki akses pembiayaan yang cukup untuk mengembangkan usaha yang terhubung dengan ekosistem bandara. Sementara itu, perusahaan besar dengan modal kuat lebih mudah masuk dan menguasai pasar.
Ketiga, lemahnya integrasi perencanaan wilayah. Bandara sebagai simpul pertumbuhan seharusnya terhubung dengan kebijakan tata ruang, transportasi multimoda, dan strategi pengembangan industri lokal. Tanpa integrasi ini, manfaat ekonomi berhenti pada radius tertentu saja.
Keempat, efek konsentrasi ekonomi. Teori aglomerasi menjelaskan bahwa perusahaan cenderung berkumpul di lokasi yang memiliki infrastruktur terbaik. Akibatnya, wilayah yang sudah maju menjadi semakin maju, sedangkan wilayah yang tertinggal sulit mengejar ketertinggalannya.
Dari hasil perhitungan kesenjangan antara kepuasan yang diterima dan kepentingan yang diinginkan oleh responden terlihat bahwa kesenjangan setiap atribut pelayanan bernilai negatif. Ini artinya kepuasan yang diterima penumpang selaku pengguna Terminal Domestik di Bandar udara Juanda Surabaya atas pelayanan yang mereka terima di Terminal Domestik Bandar udara Juanda Surabaya lebih rendah daripada kepentingan yang diinginkan oleh mereka terhadap pelayanan tersebut.
Sedangkan atribut yang mempunyai nilai kesenjangan diatas nilai rata-rata kesenjangan adalah kenyamanan di ruang tunggu keberangkatan khususnya kapasitas jumlah kursi yang tersedia -0,85 (1), Kebersihan fasilitas umum seperti toilet, kios, mushola dan lain-lain -0,75 (2), Kenyamanan di teras kedatangan khususnya pada saat penumpang datang -0,77 (3), Penataan dan jumlah check-in counter untuk antrian dan sirkulasi penumpang -0,89 (4), Penataan terminal penumpang khususnya untuk antrian dan sirkulasi bagi penyandang cacat -0,92 (5), Akses dari check-in counter sampai ruang tunggu keberangkatan -0,69 (8), Akses dari turun pesawat sampai ruang kedatangan -0,69 (9), Tersedianya layanan sarana transportasi umum - 0,86 (12), Petugas di Bandar udara bertindak sopan dan ramah -0,76 (14) dan Petugas bandar udara yang cepat saat dibutuhkan (Portir atau karyawan PT. Angkasa Pura) -0,94 (16).
Dari hasil tingkat kesesuaian tersebut dapat diartikan bahwa semakin rendah tingkat kesesuaian, maka semakin tinggi prioritas yang harus diberikan oleh PT. Angkasa Pura selaku pengelola bandar udara untuk memperbaiki kualitas dari pelayanan tersebut. Tingkat kesesuaian yang paling rendah yaitu dibawah 75 persen adalah kemudahan mendapatkan informasi mengenai pengaturan/kepastian jadwal keberangkatan pesawat sebesar 70,55 persen dan fasilitas dan peralatan yang membantu penumpang dalam membawa barang bawaannya ( Trolly, moving walkways, escalator) sebesar 74,33 persen. Kedua atribut pelayanan ini harus mendapat prioritas yanng utama dari PT. Angkasa Pura I selaku pengelola Bandar udara Juanda Surabaya.
Pelayanan yang selama ini telah dilaksanakan oleh pihak pengelola bandar duara, responden merasa ketidaksesuain antara pelayanan yang diterima dan yang dinginkan. Atributatribut pelayanan tersebut antara lain Kemudahan mendapatkan informasi mengenai pengaturan/ kepastian jadwal keberangkatan pesawat dan Kemampuan petugas untuk cepat tanggap menyelesaikan keluhan/masalah. Fasilitas dan peralatan yang membantu penumpang dalam membawa barang bawaannya ( Trolly, moving walkways, escalator). Fasilitas dan peralatan untuk keamanan dan keselamatan khususnya penumpang di bandar udara. Cepatnya proses pengambilan barang di Baggage Claim. Tersedianya layanan sarana transportasi umum. Petugas bandar udara yang cepat saat dibutuhkan (portir atau PT. Angkasa Pura.
Proyeksi ke Depan
Jika pola pembangunan tetap seperti sekarang, ada dua kemungkinan skenario. Skenario pertama adalah skenario optimistis. Jika pemerintah daerah dan pusat mampu mengintegrasikan pembangunan bandara dengan pengembangan kawasan industri, pelatihan tenaga kerja, dan pemberdayaan UMKM, maka efek penyebaran akan semakin luas. Pendapatan masyarakat lokal meningkat, pengangguran menurun, dan struktur ekonomi menjadi lebih inklusif.
Skenario kedua adalah skenario pesimistis. Jika pembangunan tetap berorientasi pada ekspansi fisik tanpa pemerataan akses peluang, maka kesenjangan akan melebar. Wilayah inti menikmati pertumbuhan tinggi, sementara wilayah pinggiran stagnan. Ketimpangan pendapatan meningkat dan berpotensi menimbulkan ketegangan sosial.
Dalam jangka panjang, ketimpangan yang tidak tertangani dapat menghambat pertumbuhan itu sendiri. Konsumsi domestik melemah karena daya beli masyarakat tidak merata. Stabilitas sosial terganggu. Pada titik tertentu, pertumbuhan yang eksklusif menjadi tidak berkelanjutan.
HALAMAN :
1
2
3
4
5
6
LIHAT SEMUA
Mohon tunggu...
Lihat Surabaya Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
KIRIM
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
TAG
bandara
pertumbuhan
udara
surabaya
halo lokal




