Tahun Kuda Api: Dinamika Pasar Modal dengan Tren Bullish dan Tantangan Awal
Sumber Foto: Neraca.co.id
Ekonomi

Tahun Kuda Api: Dinamika Pasar Modal dengan Tren Bullish dan Tantangan Awal

NERACA

Jakarta – Di tahun Kuda Api atau Bing Wu menurut penanggalan Tiongkok di mulai 17 Februari 2026 hingga 5 Februari 2027, pasar modal Indonesia diprediksi membawa dinamika unik bagi para investor di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Tahun Kuda Api adalah sinyal yang bullish, tapi harus melewati empat bulan awal yang turbulensinya akan sangat hebat,”kata Founder Feng Shui Consulting Indonesia, Yulius Fang di Jakarta, kemarin.

Yulius mengingatkan, adanya potensi koreksi pasar pada awal tahun. Januari hingga Februari 2026 disebut sebagai periode winds of change. Ketidakharmonisan pasar saham diprediksi memuncak pada Maret dan berlanjut hingga April. Meskipun penuh guncangan di awal, sinyal pasar secara umum tetap menunjukkan tren bullish.

Investor diharapkan memiliki strategi matang untuk menghadapi turbulensi hebat di empat bulan pertama. Persiapan mental menjadi aspek krusial selain analisis teknikal dan fundamental. Kesiapan para pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas sangat diperlukan. Jika fundamental diperkuat, level kepercayaan investor akan meningkat. Dengan begitu, mereka akan lebih sanggup memegang saham untuk jangka waktu yang lebih lama.

Disampaikannya, karakter Kuda Api cenderung membuat orang mudah berapi-api. Elemen api dalam tahun ini memiliki sisi ramah dan penuh semangat. Namun, ada sisi sensitif, emosional, serta mudah meledak-ledak. Sifat ini diprediksi memengaruhi psikologi pasar secara signifikan.

Investor perlu mewaspadai fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang akan sering muncul. Isu hangat akan sangat mudah datang dan pergi atau easy come easy go. Kondisi ini membuat harga saham bisa naik dan turun dalam waktu sangat cepat. Yulius menganalogikan tren tahun 2026 seperti buah paprika. Tampilan luar terlihat merah, seksi, dan berisi. Namun, bagian dalamnya ternyata kosong atau kekurangan fundamental.

Dia mengingatkan semua pihak untuk tidak hanya memoles sisi luar atau “kosmetik” bursa semata.“Kita akan melihat sesuatu itu akan hebat di luar, tetapi di dalamnya akan penuh kekosongan atau lacking of fundamental,” ujar Yulius Fang.

Saat ini, Indonesia sedang mendapatkan sorotan dari MSCI terkait peringkat transparansi dan free float. Beberapa lembaga mulai menurunkan peringkat investasi tanah air. Yulius meminta para pengambil kebijakan bereaksi cepat untuk mengamankan fundamental ekonomi. Stabilitas bursa efek sangat bergantung pada kebijakan yang memperkuat fondasi perusahaan. Trust atau kepercayaan investor menjadi kunci utama dalam menghadapi karakter api yang tidak sabar. Reaksi berlebihan sering kali muncul saat berita buruk melanda pasar.

Para pelaku pasar diprediksi lebih mudah terpapar emosi dan kekhawatiran. Hal ini membuat investasi jangka menengah atau panjang terasa lebih menantang. Investor cenderung melakukan aksi jual masif atau sell off saat ada sentimen negatif mendadak. Yulius memberikan bocoran mengenai sektor-sektor yang menarik untuk dikoleksi.

Namun, dia menekankan syarat utama adalah fundamental perusahaan dan prospek bisnis yang jelas. Pada semester pertama 2026, pengaruh elemen Ular Kayu masih terasa di Indonesia. Sektor berelemen air diprediksi memiliki prospek paling bagus pada enam bulan awal. Ini mencakup bisnis minuman, kafe, transportasi, hingga jasa IT dan perangkat lunak. Bidang turisme seperti hotel dan biro perjalanan juga masuk dalam daftar unggulan. (bani)