Risiko Geopolitik Perang Iran-Israel Terhadap IHSG: Apa yang Harus Dilakukan Investor Ritel?
Sumber Foto: kontan.co.id
Ekonomi

Risiko Geopolitik Perang Iran-Israel Terhadap IHSG: Apa yang Harus Dilakukan Investor Ritel?

Kanal News Day - ILUSTRASI. Keputusan tepat saat pasar bergejolak sangat krusial. Perang Iran-Israel mengguncang IHSG, tapi ada langkah konkret untuk melindungi dana Anda. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Perang Iran-Israel yang menyeret Amerika Serikat (AS) ke dalam pusaran konflik berpotensi mengguncang pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai rawan terkoreksi dalam jangka pendek.

Di tengah ketidakpastian tersebut, investor ritel dihadapkan pada satu pertanyaan krusial: bertahan, keluar, atau justru mencari peluang?

Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai konflik Iran-AS berisiko memicu tekanan geopolitik lanjutan terhadap pasar global dan domestik.

Ketegangan tersebut telah mendorong harga minyak dunia naik tajam akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah.

Konflik Iran-AS bisa buat pasar modal global dan domestik kembali mengalami tekanan risiko geopolitik.

Ketegangan ini mendorong harga minyak dunia naik tajam karena kekhawatiran gangguan pasokan, yang memicu inflasi dan meningkatkan volatilitas pasar,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Minggu (1/3/2026).

Baca Juga: Perang AS-Iran Bisa Bikin Harga Emas Dunia Tembus ke Level US$ 6.000

Mengutip CNBC, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik sebesar US$ 1,73 atau 2,45% menjadi US$ 72,48 per barrel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 1,81 atau 2,78% dan menetap di posisi US$ 67,02 per barrel pada perdagangan Jumat (27/2/2026) kemarin.

Kekhawatiran atas eskalasi konflik mendorong investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan obligasi.

Perpindahan dana ini menekan pasar saham, termasuk IHSG, yang dalam jangka pendek cenderung bergerak melemah.

Tekanan muncul dari aksi jual pelaku pasar, arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang, serta meningkatnya sentimen risk-off secara global.

“IHSG cenderung terkoreksi karena aksi jual, arus modal keluar asing, dan sentimen risiko global yang meningkat,” paparnya.

Namun, arah pergerakan IHSG sangat bergantung pada perkembangan situasi.

Jika konflik tetap terkendali dan tidak meluas menjadi krisis yang lebih besar, koreksi yang terjadi berpotensi bersifat sementara.

Dalam kondisi tersebut, peluang rebound terbuka ketika sentimen membaik dan investor kembali masuk ke aset berisiko.

Tonton: Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Dikabarkan Tewas dalam Serangan Udara Israel - AS

Sebaliknya, apabila ketegangan terus meningkat dan memicu ketidakpastian berkepanjangan, volatilitas pasar bisa semakin dalam dengan tekanan lanjutan terhadap indeks.

Dalam situasi seperti itu, investor disarankan untuk mengamankan sebagian atau bahkan seluruh dana guna menjaga likuiditas.

Langkah ini penting agar investor memiliki fleksibilitas untuk memanfaatkan peluang ketika IHSG terkoreksi dan valuasi saham menjadi lebih menarik.

“Bila (perang) berlanjut, volatilitas bakal lebih dalam dengan tekanan lanjutan pada indeks. Investor sebaiknya mengamankan sebagian atau keseluruhan dana guna untuk mengambil peluang saat indeks terkoreksi,” beber Reydi.

Senada, Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai dalam kondisi pasar yang dibayangi ketegangan geopolitik, investor ritel perlu mengedepankan disiplin dan selektivitas dalam mengambil keputusan.

Menurutnya, tidak semua kondisi pasar harus direspons dengan aksi agresif, melainkan disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.

“Bagi investor ritel, sikap terbaik adalah disiplin dan selektif. Jika memiliki profil agresif, momentum di sektor komoditas bisa dimanfaatkan dengan manajemen risiko yang ketat,” kata Hendra.

Bagi investor dengan karakter agresif, momentum di sektor komoditas masih dapat dimanfaatkan, terutama ketika harga energi dan emas mengalami kenaikan akibat konflik global.

Namun, strategi tersebut harus dijalankan dengan manajemen risiko yang ketat, termasuk pengaturan batas kerugian dan ukuran posisi agar potensi tekanan pasar tetap terkendali.

Sementara itu, bagi investor yang cenderung konservatif, pendekatan wait and see dinilai lebih relevan.

Investor perlu memantau perkembangan konflik, pergerakan harga komoditas global, serta arus dana asing sebelum mengambil keputusan lanjutan.

Baca Juga: IHSG Terancam Turun ke Kisaran 8.000, Dampak Memanasnya Konflik Timur Tengah

Dalam situasi geopolitik yang memanas, lanjut Hendra, kunci keberhasilan bukan semata-mata menentukan kapan masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko portofolio agar tetap terkendali di tengah volatilitas.

“Dalam situasi geopolitik yang panas kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali,” pungkasnya.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul"Perang Israel-Iran Berpotensi Guncang IHSG, Investor Ritel Harus Apa?"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

INDEKS BERITA

Tag

Berita Terkait

Finansial

Perang Iran-Israel Guncang Pasar Global, Cek Saham-Saham yang Berpeluang Meroket

Aktual

Dampak Perang Iran-AS: Harga Pertamax Sudah Pasti Naik, Pertalite Menyusul?

Investasi

IHSG Terancam Tertekan pada Senin (2/3), Imbas Perang AS-Israel dan Iran

Internasional

OPEC+ Bahas Kenaikan Produksi di Tengah Gangguan Pasokan Akibat Perang Iran

Investasi

IHSG Berpotensi Konsolidasi pada Maret 2026 di Tengah Eskalasi Konflik Iran

Investasi

Perang AS-Israel vs Iran Berkobar, Begini Dampaknya ke Harga Minyak dan Emas

TERBARU

Indeks »

Investasi | 2 Jam 9 Menit lalu

Wall Street Menguat Dipimpin Saham Chip, Pasar Tetap Waspadai Timur Tengah

Industri | 2 Jam 16 Menit lalu

Adopsi AI Tembus 92%, Pemerintah Siapkan Peta Jalan untuk Perkuat Daya Saing

Nasional | 2 Jam 17 Menit lalu

Panja DPR dan Pemerintah Sepakati Kerangka Ekonomi Makro PPKF APBN 2027

Industri | 2 Jam 23 Menit lalu

IBM: AI Berpotensi Dorong 50% Nilai Bisnis Digital Baru di Asia Pasifik pada 2030

Nasional | 2 Jam 37 Menit lalu

Menghadap Prabowo, Bahlil Bahas Percepatan Peralihan LPG ke CNG hingga Kelola Tambang

Nasional | 2 Jam 42 Menit lalu

Bahlil Buka Suara Soal Kenaikan Harga Pertamax Series

Investasi | 2 Jam 51 Menit lalu

BUVA, SMRA, PWON, BUKA, SRAJ, hingga MORA Gelar RUPS, Simak Rekomendasi Sahamnya

Keuangan | 2 Jam 52 Menit lalu

BTN Gandeng UNPAD Perluas Literasi dan Inklusi Keuangan

Industri | 2 Jam 55 Menit lalu

Asperindo Ungkap Strategi Industri Pengiriman Barang Setelah Harga BBM Naik

Nasional | 2 Jam 56 Menit lalu

Mendikdasmen: Revitalisasi 71.744 Sekolah Berpotensi Serap 1,1 Juta Tenaga Kerja

Indeks Berita