Rapimnas SMSI 2026: Menyikapi Tantangan Media dan Kedaulatan Digital
Kanal News Day - JAKARTA – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Millennium Hotel Sirih Jakarta pada Jumat–Sabtu, 6–7 Maret 2026. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-9 SMSI, organisasi yang menaungi ribuan perusahaan pers siber di Indonesia.
Rapimnas tersebut dihadiri para ketua SMSI provinsi dari seluruh Indonesia serta sejumlah tokoh pers nasional dan pimpinan organisasi pers. Dari Dewan Pers hadir Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, bersama tiga anggota Dewan Pers lainnya yakni Yogi Hadi Ismanto, Rosarita Niken Widiastuti, dan Dahlan Dahi.
Selain itu, sejumlah perwakilan konstituen Dewan Pers juga hadir, di antaranya Ketua Umum Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI) Bambang Santoso, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Ahmad Munir, Direktur Eksekutif Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Elin Y. Kristanti, Koordinator Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat Sopian, serta Wakil Ketua Bidang Organisasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Wilson Lumi.
Sementara dari jajaran Dewan Pembina SMSI hadir Ketua Dewan Pembina Harris Arthur Hedar dan Wakil Ketua Dewan Pembina Joko Warsito. Dari Dewan Pakar SMSI turut hadir Ketua Dewan Pakar Yuddy Crisnandi dan Wakil Ketua Dewan Pakar Henri Subiakto, serta Ketua Forum Pemred SMSI Theodorus Dar Edi Yoga.
Ketua Umum SMSI Firdaus mengatakan Rapimnas digelar untuk menyamakan persepsi seluruh pengurus SMSI di Indonesia sekaligus merumuskan sikap organisasi terhadap berbagai isu strategis yang dihadapi industri media saat ini.
“Rapimnas ini merupakan panggilan bagi SMSI untuk memberikan kontribusi nyata kepada bangsa dan negara,” ujar Firdaus dalam sambutannya.
Ia menjelaskan SMSI lahir sebagai rumah bersama bagi media startup dan media lokal yang banyak didirikan oleh wartawan profesional, termasuk mereka yang terdampak pemutusan hubungan kerja dari perusahaan media besar.
Menurutnya, tidak sedikit jurnalis berpengalaman yang terpaksa beralih profesi demi bertahan hidup. Karena itu SMSI mendorong para wartawan di daerah tetap menyalurkan idealisme jurnalistik dengan mendirikan dan mengelola perusahaan media sendiri.
“Di situlah latar belakang SMSI berdiri, menjaga idealisme wartawan atau jurnalis,” tegasnya.
Firdaus mengakui perjalanan SMSI selama sembilan tahun tidak mudah. Saat ini organisasi tersebut memiliki sekitar 3.181 perusahaan pers anggota yang sebagian besar merupakan media startup dengan sumber daya terbatas.
Kondisi tersebut membuat media kecil menghadapi tantangan besar untuk bersaing di tengah perkembangan industri digital yang sangat cepat. Firdaus juga menyoroti munculnya perjanjian dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat, khususnya pada sektor digital trade and technology.
“Nah ketika ada perjanjian perdagangan seperti ini, kita harus merumuskan sikap bersama. Rapimnas ini menjadi forum untuk menentukan langkah terbaik bagi perusahaan pers startup di bawah SMSI,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti kebijakan verifikasi perusahaan pers oleh Dewan Pers yang dinilai cukup memberatkan bagi media kecil. Menurutnya, banyak pemerintah daerah hanya bersedia bekerja sama dengan media yang telah terverifikasi Dewan Pers sehingga menyulitkan media kecil untuk bertahan.
“Yang lebih esensial adalah kemerdekaan pers. Jangan sampai kemerdekaan itu justru dibatasi oleh rezim administrasi,” katanya.
Ketua Dewan Pakar SMSI, Yuddy Crisnandi, mengapresiasi perkembangan SMSI yang kini memiliki ribuan perusahaan media anggota. Ia menilai SMSI telah menjadi organisasi modern yang berada di tengah ekosistem masyarakat digital.
“SMSI harus menjadi pilar demokrasi baru yang berkeadilan dan menjadi jembatan informasi yang akurat antara pemerintah dan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat yang membuka Rapimnas menyatakan pihaknya siap menampung berbagai aspirasi dari SMSI.
“Setiap inspirasi dan pemikiran dari SMSI akan kami catat untuk dibawa ke pleno Dewan Pers,” ujarnya.
Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng peringatan HUT ke-9 SMSI serta diskusi mengenai peran media menghadapi Pemilu 2029. Dalam forum tersebut, peserta Rapimnas juga menyepakati pembentukan tim perumus untuk menyempurnakan AD/ART SMSI dan merumuskan sikap organisasi terkait perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Hasil Rapimnas kemudian dituangkan dalam bentuk surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Surat tersebut berisi pandangan SMSI terkait perjanjian perdagangan digital agar tetap melindungi kedaulatan digital nasional dan memastikan industri media nasional memiliki ruang tumbuh yang adil di tengah dominasi platform digital global.




