Prospek Pertumbuhan dan Inflasi Indonesia: Tinjauan dari Bank Indonesia dan MUFG
Sumber Foto: fxstreet-id.com
Jalur Berita

Prospek Pertumbuhan dan Inflasi Indonesia: Tinjauan dari Bank Indonesia dan MUFG

Analis Mata Uang Senior MUFG, Lloyd Chan, memberikan analisis mengenai proyeksi pertumbuhan dan inflasi Indonesia, dengan mencatat bahwa Bank Indonesia (BI) mempertahankan prakiraan pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2026 dalam kisaran 4,9% hingga 5,7%. Selain itu, BI juga memperkirakan bahwa tingkat inflasi akan tetap berada dalam target yang ditetapkan, yaitu antara 1,5% hingga 3,5% tahun ini.

Namun, terdapat risiko inflasi yang cenderung meningkat, terutama jika para pengambil kebijakan membiarkan ekonomi beroperasi dengan lebih agresif dan kesenjangan output semakin menyempit. Jika inflasi meningkat, hal ini dapat memberikan tekanan pada nilai tukar Rupiah.

Permintaan Obligasi dan Dampaknya terhadap Kebijakan BI

Dalam konteks obligasi, permintaan di lelang obligasi terbaru menunjukkan pelemahan. Lelang yang berlangsung pada 18 Februari mencatat rasio bid-to-cover terendah sejak Maret 2025, yaitu hanya 1,71x untuk obligasi bertenor 10 tahun. Angka ini jauh di bawah rata-rata yang terlihat pada periode 2024-2025. Selain itu, obligasi dengan tenor 5 tahun juga menunjukkan hasil yang tidak memuaskan, dengan rasio bid-to-cover mencapai 1,47x, terendah sejak Mei 2024.

Analisis dari tim MUFG menunjukkan bahwa obligasi pemerintah bertenor 10 tahun mungkin dinilai terlalu tinggi jika dibandingkan dengan fundamental makro ekonomi. Gambaran teknis saat ini juga menunjukkan potensi kenaikan lebih lanjut dalam imbal hasil obligasi, yang dapat memperkuat hambatan jangka pendek bagi nilai tukar Rupiah.

Kondisi SRBI dan Aliran Modal Asing

Terdapat peningkatan bersih dalam Surat Berharga Ritel Indonesia (SRBI) yang beredar sejak November 2025, di mana imbal hasil SRBI juga naik sekitar 11-14 basis poin sejak September tahun lalu. Peningkatan ini mungkin telah mendukung aliran masuk moderat dari investor non-residen ke SRBI sejak Desember. Namun, aliran masuk ini hanya dapat memberikan sedikit kompensasi terhadap arus keluar modal asing dari pasar ekuitas dan obligasi pemerintah.