Perbaikan Jalur Mudik dan Wisata di Banten Selesai H-10 Lebaran 2026
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten mempercepat proses pemeliharaan dan perbaikan infrastruktur jalan menjelang arus mudik dan wisata Lebaran 2026. Pihak Dinas menargetkan seluruh pekerjaan akan rampung pada H-10 sebelum puncak arus mudik.
Kepala Dinas PUPR Provinsi Banten, Arlan Marzan, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan pemantauan menyeluruh terhadap kondisi jalan, baik yang menjadi kewenangan provinsi maupun yang berada di bawah pengelolaan nasional, tol, hingga kabupaten/kota. "Kami melakukan koordinasi untuk mempercepat pelaksanaan penanganan jalan yang bukan kewenangan provinsi," ujarnya.
Perbaikan Jalur Utama Pemudik
Perbaikan jalan juga mencakup jalur utama yang digunakan oleh pemudik, termasuk jalan tol. Berdasarkan koordinasi dengan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), penanganan dilakukan pada sejumlah ruas jalan nasional di wilayah Tangerang Selatan, Kota Serang, dan Kota Tangerang, dengan target penyelesaian pada H-10 Lebaran. Salah satu fokus perbaikan adalah ruas Bojonegara yang sempat viral karena kerusakannya.
Prioritas untuk Jalur Alternatif dan Destinasi Wisata
Untuk jalan yang menjadi kewenangan provinsi, Dinas PUPR Banten memprioritaskan jalur alternatif mudik dan akses menuju destinasi wisata. Ruas-ruas ini ditargetkan selesai lebih awal, yaitu pada H-16, sedangkan seluruh pekerjaan pemeliharaan jalan provinsi dipastikan tuntas pada H-10. "Kami terus berupaya agar kualitas jalan tetap terjaga. Penanganan sementara juga dilakukan di ruas-ruas tertentu seperti Pasar Kemis, Teluknaga, dan Dadap, sembari menunggu proses lelang untuk perbaikan permanen," tambah Arlan.
Penyebab Kerusakan Jalan
Arlan mengungkapkan bahwa wilayah Tangerang menjadi fokus utama perbaikan karena tingginya dampak banjir terhadap drainase dan badan jalan di kawasan perkotaan. Sementara itu, di wilayah selatan Banten, penanganan difokuskan pada titik-titik rawan longsor. Menurutnya, faktor eksternal seperti curah hujan tinggi dan beban kendaraan berat menjadi penyebab utama kerusakan jalan. Meskipun demikian, pihak Dinas memastikan bahwa kualitas material dan metode perbaikan tetap mengacu pada standar teknis yang berlaku.
"Kami pastikan H-10 kondisi jalan sudah dapat dilalui dengan aman. Ini adalah upaya rutin tahunan yang terus kami tingkatkan kualitas pelaksanaannya demi kenyamanan masyarakat," tutup Arlan.




