Penutupan Jalur Utama Semarang-Grobogan Akibat Banjir, Arus Lalu Lintas Dialihkan
Sumber Foto: Kompas.com
Jalur Berita

Penutupan Jalur Utama Semarang-Grobogan Akibat Banjir, Arus Lalu Lintas Dialihkan

BLORA, KOMPAS.com - Arus lalu lintas di jalur utama Semarang-Grobogan mengalami penutupan total akibat banjir bandang yang melanda Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Blora mengambil langkah untuk mengalihkan arus kendaraan, terutama kendaraan roda empat dan kendaraan besar, menuju jalur alternatif.

Pengalihan Arus Lalu Lintas

Ipda Hadi Sutomo, Kanit Kamsel Satlantas Polres Blora, menjelaskan bahwa pengalihan arus dilakukan melalui jalur Pantura Rembang dan jalan tengah Blora-Ngawi. Tanda imbauan telah dipasang di beberapa titik strategis, termasuk di perempatan Tugu Pancasila dan Perempatan Biandono di Blora.

“Kami telah memberikan tanda imbauan untuk kendaraan sumbu tiga ke atas, seperti truk, untuk dialihkan di Simpang empat Tugu Pancasila dan Perempatan Biandono menuju Pantura,” ungkap Hadi saat melakukan pengaturan arus lalu lintas di Tugu Pancasila, pada Kamis (19/2/2026).

Imbauan untuk Pengendara Pribadi

Pihak Polres Blora juga mengimbau pengendara roda empat pribadi yang ingin menuju Semarang untuk menggunakan jalur tengah yang melewati Blora, Ngawi, dan tol. Arus lalu lintas ini diarahkan melalui jalur selatan, yaitu Randublatung, ke tol, atau ke arah Cepu.

“Imbauan ini sudah kami pasang di Tugu Pancasila dan Biandono,” jelas Hadi.

Durasi Penutupan Jalan

Pengalihan arus lalu lintas ini akan berlangsung hingga jalan utama Semarang-Grobogan yang saat ini terputus dapat kembali dilalui oleh kendaraan. Penutupan ini disebabkan oleh amblasnya ruas jalan akibat banjir di wilayah Tinanding, Grobogan.

Banjir Akibat Tanggul Jebol

Banjir yang terjadi di Kabupaten Grobogan dipicu oleh jebolnya tanggul sungai Tuntang pada Senin (16/2/2026) sore. Lokasi jebolnya tanggul berada di Desa Tinanding, yang mengakibatkan jalan utama Grobogan-Semarang terputus. Kejadian ini terjadi akibat curah hujan tinggi serta kiriman air dari hulu sungai Glugu dan Sungai Tuntang.

Dampak dari jebolnya tanggul ini sangat luas, dengan 42 desa di 10 kecamatan terendam banjir. Sebanyak 9.000 kepala keluarga (KK) dilaporkan terdampak, dan ratusan hektar sawah juga terendam air.