Pembangunan Loket Baru di Jalur Trekking Cisadon Picu Kekhawatiran Warga
Sumber Foto: Kompas.com
Jalur Berita

Pembangunan Loket Baru di Jalur Trekking Cisadon Picu Kekhawatiran Warga

BOGOR, KOMPAS.com - Pembangunan loket baru di jalur trekking Cisadon, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mulai dilaksanakan. Proyek ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengunjung dan warga setempat, karena berpotensi membuat pengunjung harus membayar dua kali saat memasuki kawasan wisata.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, loket baru yang didirikan berupa gapura telah terlihat dan diperkirakan akan berfungsi sebagai pintu masuk resmi menuju Kampung Cisadon. Proses pembangunan loket ini dikabarkan telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

Sebelumnya, pengunjung yang mengakses jalur wisata di wilayah Babakan Madang dikenakan retribusi sebesar Rp 5.000 per orang di jalur bawah, khususnya di jalur Prabowo, ditambah dengan biaya parkir. Dengan adanya rencana loket baru di Cisadon, pengunjung kemungkinan harus membayar tarif masuk tambahan yang diperkirakan berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per orang.

Penolakan dari Warga

Ketua RT Kampung Cisadon, Ujang Usman (53), menyatakan bahwa warga telah menyampaikan keberatan terhadap rencana pembangunan pintu karcis ini. Menurutnya, wilayah Cisadon adalah kampung permukiman, bukan destinasi wisata resmi. "Ini kan kampung, bukan tempat wisata. Masa orang mau silaturahmi, mau trekking olahraga harus bayar. Saya juga khawatir nanti kalau ada karcis, kampung jadi sepi," ungkap Ujang.

Ujang menambahkan bahwa rencana pembangunan loket ini diduga melibatkan pihak Perum Perhutani dan beberapa oknum. Namun, hingga saat ini, tidak ada sosialisasi resmi kepada warga maupun pihak desa mengenai kebijakan tersebut. Alasan pembangunan loket ini disebutkan untuk perbaikan jalan, pembangunan musala, dan keselamatan pengunjung.

Warga lain, Ifah, juga mengekspresikan keprihatinannya. Ia berpendapat bahwa jika sistem karcis ganda diterapkan, pengunjung akan enggan datang, yang pada akhirnya mempengaruhi perekonomian warga, khususnya usaha warung yang ia kelola. "Di bawah sudah bayar, kalau di atas bayar lagi, nanti dobel. Warung-warung bisa sepi lagi kayak dulu," katanya.

Selain itu, Gani (62), warga setempat, menegaskan bahwa masyarakat Cisadon secara kompak menolak rencana tersebut. Ia mengkhawatirkan bahwa keberadaan loket akan mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi warga, karena sebagian besar pengunjung hanya melintas atau singgah sebentar. "Ini kan kampung, bukan tempat wisata. Kalau datang ke sini nanti harus bayar, itu yang bikin keberatan, jadi warga pada nolak," ujarnya.

Warga berharap agar pemerintah daerah dan pihak terkait dapat meninjau ulang rencana pembangunan loket baru tersebut agar tidak merugikan masyarakat setempat.