Peluang Pertumbuhan Pasar Modal Indonesia Terus Membuka di 2026
NERACA
Jakarta – Kendati pasar modal dihantui sentimen negatif dari rating Morgan Stanley Capital Internasional (MSCI) dan Moodys, namun peluang pertumbuhan terbuka lebar dan diprediksi tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,1–5,3% pada 2026 dan didukung membaiknya konsumsi domestik, investasi, dan kondisi likuiditas. Hal tersebut disampaikan Chief Economist, Macro Strategist and Debt Research Division Head BRIDS, Helmy Kristanto di Jakarta, kemarin.
Disampaikanya, peluang investasi tetap terbuka, terutama bagi investor yang menerapkan strategi secara selektif dan disiplin."Pada tahun ini, dampak kebijakan ekonomi mulai terasa. Daya beli membaik, likuiditas longgar, dan aktivitas usaha meningkat. Biasanya kondisi seperti ini diikuti penguatan pasar modal. Investor yang disiplin memiliki peluang besar untuk menangkap pertumbuhan tersebut,” ujar Helmy.
Helmy mengatakan, di tengah fluktuasi pasar, obligasi juga tetap menarik sebagai penyeimbang portofolio, sehingga kombinasi saham dan instrumen fixed income menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas dan optimalisasi hasil investasi.
BRIDS menilai outlook positif memerlukan partisipasi investor domestik yang lebih aktif agar penguatan pasar benar-benar terjadi. Meningkatnya jumlah transaksi dan konsistensi investasi ritel menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga stabilitas sekaligus pertumbuhan pasar modal Indonesia. "Kondisi tersebut menjadi fondasi penting bagi pasar modal," ujarnya.
Di sisi lain, BRIDS menilai kombinasi saham dan obligasi tetap relevan pada 2026. Arah suku bunga global yang lebih stabil dan kebijakan moneter domestik yang akomodatif membuka ruang bagi instrumen fixed income untuk tetap menarik sebagai penyeimbang portofolio, sementara saham berpotensi memberikan pertumbuhan seiring membaiknya fundamental emiten.
Menurutnya, pergerakan pasar yang tidak stabil di awal tahun bukanlah hal yang perlu disikapi secara berlebihan. Fluktuasi justru menjadi karakter utama pasar ketika memasuki fase perubahan, terlebih dengan adanya pengaruh isu global yang datang silih berganti.
Dia menjelaskan, pasar saham domestik tetap memiliki fondasi yang cukup kuat. Meskipun sempat mengalami tekanan akibat sentimen global, secara historis pasar Indonesia mampu bangkit dan mencatat kinerja positif dalam jangka panjang, terutama ketika didukung oleh faktor fundamental ekonomi yang stabil.
Kondisi ini membuat volatilitas menjadi dua sisi mata uang. Di satu sisi memicu ketidakpastian, namun di sisi lain membuka ruang akumulasi dan peluang investasi bagi investor yang memiliki perspektif jangka menengah hingga panjang. Dari sisi makroekonomi, Helmy melihat peluang pertumbuhan tetap terjaga dengan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Salah satu faktor yang dinilai berpotensi mendorong optimisme adalah peluang penurunan suku bunga acuan yang dapat meningkatkan likuiditas di pasar. Jika suku bunga bergerak turun, hal tersebut dapat menjadi katalis positif bagi dunia usaha dan pasar modal.“Kita menganggap pertumbuhan ekonomi bisa meningkat dengan kemungkinan BI Rate akan turun,” pungkasnya.




