Pasar Modal Indonesia 2026: Akselerasi di Tengah Volatilitas
Sumber Foto: republika.co.id
Ekonomi

Pasar Modal Indonesia 2026: Akselerasi di Tengah Volatilitas

Momentum pertumbuhan disebut terbuka lebar, namun risiko koreksi tetap mengintai.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Gita Amanda

Foto: Republika/Thoudy Badai

Pasar modal Indonesia diproyeksikan memasuki fase akselerasi pada 2026. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar modal Indonesia diproyeksikan memasuki fase akselerasi pada 2026. Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam laporan bertajuk 2026 Year of Fire Horse Outlook menilai tahun depan sebagai periode percepatan pertumbuhan, bukan sekadar bertahan atau konsolidasi.

Menurut riset tersebut, 2026 menjadi titik balik reformasi struktural di pasar modal. Volatilitas dan friksi regulasi yang sempat terjadi sebelumnya justru dinilai dapat menjadi katalis penguatan integritas dan kredibilitas pasar.

Baca Juga

Pasar Modal Bergejolak, Luhut Usul Figur Independen Isi Posisi Pimpinan OJK

Kadin Dukung Reformasi Tata Kelola Pasar Modal Indonesia

BNI Gelar Market Outlook 2026, Perkuat Ketahanan Pasar Modal di Tengah Tantangan Siber

“Bukan saatnya konsolidasi pasif; pasar akan didominasi entitas yang berani mengambil ruang,” demikian kutipan dalam laporan tersebut yang diterima Republika, Rabu (18/2/2026).

Dalam konteks ekonomi global, Indonesia masih memiliki ruang ekspansi. Proyeksi produk domestik bruto (PDB) dunia mencapai 123,6 triliun dolar AS, dengan Amerika Serikat sekitar 31,8 triliun dolar AS dan China 20,7 triliun dolar AS.

Sementara itu, PDB Indonesia diperkirakan berada di kisaran 1,6 triliun dolar AS. Riset Kiwoom menekankan, strategi beli dan tahan jangka panjang berpotensi kurang efektif di tengah volatilitas tinggi.

Rotasi sektor diprediksi berlangsung cepat, sehingga pendekatan active rebalancing serta pemanfaatan momentum dinilai lebih relevan bagi investor. Sektor digital menjadi penggerak utama akselerasi, meliputi ekosistem teknologi, infrastruktur data, hingga kecerdasan buatan. Lonjakan permintaan kapasitas data dipandang sebagai pendorong pertumbuhan berulang.

Selain itu, sektor energi hilir, komoditas yang terpengaruh dinamika geopolitik, industri padat belanja modal, serta emiten terkait agenda strategis nasional memiliki visibilitas kinerja tinggi. Dukungan kebijakan pemerintah dan narasi makroekonomi menjadi faktor penguat valuasi.

Meski demikian, riset tersebut mengingatkan adanya risiko jenuh beli dan koreksi tajam. Disiplin mengambil untung serta pengelolaan volatilitas menjadi krusial. “Di Tahun Kuda Api, berdiam diri adalah risiko terbesar. Bergerak cepat atau tersapu oleh laju pasar,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Kiwoom merekomendasikan sejumlah saham dengan target harga sebagai berikut:

BMRI Rp 5.950

BTPS Rp 1.635

INKP Rp 10.800

ERAL Rp 540

JPFA Rp 3.110

INET Rp 630

TRIN Rp 1.650

ENRG Rp 2.000

TLKM Rp 4.000

RMKE Rp 13.100

Strategi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergeser ke pemilihan saham agresif. Emiten dengan narasi pertumbuhan kuat dan likuiditas tinggi diprediksi lebih unggul, sementara sektor defensif berperan sebagai peredam risiko.

Bagi investor ritel, momentum ini menawarkan peluang sekaligus peringatan. Pergerakan cepat berpotensi meningkatkan imbal hasil, tetapi tanpa disiplin, volatilitas dapat menggerus aset.

“Keberuntungan berpihak kepada yang berani,” demikian penutup riset Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Ikuti Whatsapp Channel Republika

sumber : Antara

Advertisement

pasar modal indonesia

akselerasi pertumbuhan

riset kiwoom sekuritas

volatilitas pasar

produk domestik bruto (pdb)

sektor digital

active rebalancing

risiko jenuh beli

strategi investasi

indeks harga saham gabungan (ihsg)

Berita Terkait

Ekonomi - 29 March 2026, 09:11

Sepekan Terakhir, IHSG Ditutup Melemah dan Kapitalisasi Pasar Turun

Ekonomi - 27 March 2026, 10:12

Masih Dibayangi Perang, IHSG Melemah Ikuti Bursa Global

Ekonomi - 26 March 2026, 09:45

WFH Jadi Opsi Pemerintah Tekan BBM, Konsumsi Energi Bisa Turun 20 Persen

Ekonomi - 26 March 2026, 09:00

Krisis Mengintai, Utang AS Membengkak hingga Rp 2 Kuadriliun

Ekonomi - 25 March 2026, 09:57

IHSG Berpotensi Variatif di Tengah Pasar Cermati Perkembangan AS-Iran

Ekonomi - 19 March 2026, 15:33

Dampak Konflik Timur Tengah: Pentingnya Diversifikasi Investasi untuk Stabilitas Keuangan

Ekonomi - 16 March 2026, 18:23

Boy Thohir Siapkan Buyback Saham ADRO

Ekonomi - 13 March 2026, 17:25

Transparansi Informasi Jadi Kunci Penguatan Pasar Modal

Berita Lainnya

Ameera - Selasa , 31 Mar 2026, 23:28 WIB

Mengapa Campak Bisa Berakibat Fatal Bagi Sebagian Orang?

Ameera - Selasa , 31 Mar 2026, 21:55 WIB

Berkat Peran di Film, Hana Malasan Bisa Lebih Ikhlas dengan Kepergian Sang Ibu

Ameera - Selasa , 31 Mar 2026, 16:21 WIB

Hal yang Perlu Diketahui dari Trailer Serial 'Harry Potter'

Ameera - Selasa , 31 Mar 2026, 16:18 WIB

Gejala Awal Campak Kerap tak Disadari

Ameera - Selasa , 31 Mar 2026, 16:00 WIB

PAPDI Tegaskan Campak Bukan Penyakit Baru