Outlook Negatif Moody's Pengaruhi Rencana IPO di Pasar Modal
Sumber Foto: Neraca.co.id
Ekonomi

Outlook Negatif Moody's Pengaruhi Rencana IPO di Pasar Modal

NERACA

Jakarta— Koreksi rating yang direvisi lembaga pemeringkat Moody’s memberikan dampak terhadap industri pasar modal, khususnya rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Dimana aksi korporasi tersebut akan lebih berhati-hati.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana mengatakan, outlook negatif dari Moody’s tersebut nantinya akan ditindaklanjuti oleh pemerintah. Menurutnya, hal tersebut tidak akan menjadi masalah. “Reformasi pasar modal juga sudah mulai berjalan baik, jadi saya enggak melihat ada isunya ya,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dengan outlook Moody’s yang berubah negatif, Oki menuturkan minat atau appetite untuk gelaran IPO tidak berkurang.“Dari klien-klien, mereka concern, tapi kalau lihat market juga reaksinya sejauh ini positif saja ya ga terlalu crash gitu. Jadi saya masih optimistis,” tuturnya.

Dia melanjutkan, saat ini Mandiri Sekuritas tengah memproses beberapa IPO perusahaan. Menurutnya, Mandiri Sekuritas akan membawa sejumlah IPO pada semester II/2025. “Mereka memilih window yang tepat aja nanti. Tapi persiapan tetap berjalan, mereka tetap lihat,” ucapnya.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan menilai, outlook negatif dari Moody’s saat ini lebih sebagai sinyal bahwa risiko ke depan meningkat, tapi bukan berarti pintu pendanaan di pasar modal langsung tertutup. Dengan demikian, lanjutnya, pasar modal tetap bisa dipakai untuk pendanaan.“Hanya saja dengan kondisi risiko yang naik, perusahaan akan lebih hati-hati dalam melakukan aksi korporasi, baik IPO, rights issue, maupun penerbitan instrumen lain karena biaya dan konsekuensi valuasi yang lebih berat,” ujar Ekky.

Chief Economist, Macro Strategist & Debt Research Division Head PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Helmy Kristanto pernah bilang, derasnya dana asing keluar dipicu oleh sentimen global. Lembaga pemeringkat Moody’s baru-baru ini menurunkan outlook Indonesia, ditambah adanya isu perhitungan indeks MSCI.

Helmy menjelaskan, investor asing yang mengelola dana secara aktif biasanya cenderung menunggu kepastian sebelum kembali masuk. Namun, dirinya tetap optimistis modal asing akan kembali ke pasar domestik.“Tentunya apakah asing bisa kembali lagi? Saya rasa itu sangat mungkin, ya. Karena warning itu tidak serta merta nanti akan berupa final verdict-nya,” ujar Helmy.

Pemerintah melalui OJK dan BEI telah bergerak cepat melakukan pertemuan maraton guna menyamakan persepsi dengan MSCI. Fokus utama pembicaraan mencakup metode perhitungan free float agar lebih seragam dengan standar global. Terkait penurunan outlook oleh Moody’s, Helmy menyebut lembaga tersebut memang sangat reaktif terhadap perubahan kebijakan. Meski outlook menjadi negatif, peringkat investasi (rating) Indonesia tetap berada pada level investment grade.