Milenial Dominasi Pasar Modal: Investasi Muda Menuju Kebebasan Finansial
Sumber Foto: Neraca.co.id
Ekonomi

Milenial Dominasi Pasar Modal: Investasi Muda Menuju Kebebasan Finansial

Dominasi investor milenial di pasar modal tidak lepas meningkatnya literasi mengenai investasi yang tinggi juga ditopang berbagai kanal informasi yang semakin mudah diakses terutama di media sosial. Ya, di era digital saat ini beragam informasi soal investasi di pasar modal mudah didapatkan. Apalagi saat ini, investasi di pasar modal menawarkan kemudahan dan keterjangkauan sehingga stigma bahwa investasi di pasar modal perlu modal besar bisa dipatahkan. Bahkan saat ini, dengan modal Rp 100 ribu sudah bisa menjadi investor.

Alhasil, tiap tahunnya pertumbuhan investor pasar modal terus tumbuh. Berdasarkan data Otorita Jasa Keuangan (OJK) jumlah investor pasar modal per September 2025 masih didominasi oleh kelompok usia di bawah 30 tahun atau sebanyak 54,20%. Sedangkan investor kelompok usia 31-40 tahun mengambil porsi 24,85% dan sisanya investor berusia 41-50 tahun sebanyak 12,31%.

Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Eddy Manindo Harahap menyampaikan investor dari kelompok milenial dan Gen Z tersebut masih akan terus mengalami peningkatan.“Karena anak-anak muda di bawah 30 tahun ini ke depan pasti akan mengalami peningkatan penghasilan dan pendapatan,” ucap Eddy.

Di samping itu, nilai aset dari kelompok investor muda tersebut juga telah menembus Rp70,81 triliun. Capaian ini membuat investor muda masih berpotensi untuk mendorong kenaikan aset investasi di pasar modal. Meski demikian, nilai aset kelompok muda itu masih lebih kecil dibandingkan kelompok lainnya, seperti investor usia 31-40 tahun, nilai asetnya Rp293,89 triliun. Selanjutnya, ada kelompok investor usia 41-50 tahun yang menguasai aset senilai Rp249,43 triliun.

Sedangkan, kelompok investor yang paling besar menguasai aset pasar modal adalah kelompok usia lebih dari 60 tahun senilai Rp1.215,89 triliun, tetapi jumlah investornya lebih kecil dari kelompok lainnya, yakni hanya 2,92%. Sementara itu, untuk kelompok usia investor 51-60 tahun menguasai aset pasar modal senilai Rp362,11 triliun, tetapi porsi investornya hanya sebesar 5,72%.

Adapun, data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor pasar modal per 7 November 2025 mencapai 19.320.025, tumbuh signifikan 29,91% dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 14.871.639. Tidak hanya itu, jumlah investor sepanjang November 2025 ini tercatat sebanyak 4,20 juta investor baru. Angka tersebut telah melampaui target tahunan yang ditetapkan sebanyak 2 juta investor.

Diakui Direktur Utama KSEI, Samsul Hidayat, kemudahan dan keterjangkauan investasi di pasar modal di era digital saat ini menjadi salah satu faktor dibalik pertumbuhan investor pasar modal. Selain itu, kemajuan teknologi yang serba digital dan kecanggihan infrastruktur membuat investor di pasar modal naik. "Harga gadget juga semakin terjangkau sehingga memudahkan investor mengakses produk investasi,”ujarnya.

Selain itu kata dia, regulator pasar modal melakukan simplikasi pembukaan rekening saham atau reksa dana. Implementasi simplifikasi ini memberikan dampak cukup besar bagi peningkatan jumlah investor pasar modal terlebih di masa pandemi Covid-19."Dulu orang Papua, Maluku atau Indonesia Timur kalau mau buka rekening saham butuh beberapa bulan untuk mengurus dokumen, karena sebagian besar kantor perusahaan sekuritas berada di Jabodetabek, sementara sekarang sudah online dan lebih cepat," kata Samsul.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman menambahkan, dibalik pertumbuhan investor pasar modal menjadi tantangan bagi BEI untuk terus meningkatkan literasi agar mereka memahami betul karakteristik investasi di pasar modal bukan sekedar ikut-iikutan. Oleh karena itu, BEI konsisten untuk terus mengupayakan peningkatan pemahaman investor terkait pasar modal dan salah satunya dengan mendirikan galeri investasi di berbagai wilayah Indonesia.

Tahan Banting

Dibalik pesatnya pertumbuhan investor milienal menjadi berkah dalam membantu daya saing pasar modal tahan banting. Bila selama ini pasar modal begitu rapuh ketika dana asing keluar karena sentimen negatif dalam dan luar negeri akibat dominasi investor asing, kini tidak lagi. Tengok saja, pada 28 Agustus 2025, indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatat level tertinggi 8.022,76, sekaligus mendorong kapitalisasi pasar ke rekor Rp14.377 triliun.

Disamping itu, IHSG teru mencetak rekor tertinggi. OJK mencatat, hingga 7 November 2025, IHSG sudah naik sebesar 18,57% sejak awal tahun ini atau year-to-date ke posisi 8.394. Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pasar Modal, Derivatif Keuangan dan Bursa Karbon OJK mengatakan, dari sisi kapitalisasi pasar atau market cap bursa, angkanya juga terus mengembang ke posisi Rp 15.316 triliun per 7 November 2025.

Positifnya lagi, di sepanjang tahun berjalan 2025 IHSG sudah mencetak all time high atau rekor tertinggi sepanjang masa sebanyak 13 kali."Tanpa kita sadar ini mungkin rekor yang luar biasa sekali. Karena ATH sebanyak itu terjadi hanya dalam dua bulan," kata Inarno.

Disampaikannya, melesatnya kinerja IHSG sejalan dengan tumbuhnya investor di pasar modal. Saat ini jumlah investor di SID sudah mencapai 19,1 juta atau mendekati angka target 20 juta SID yang dipatok dalam roadmap pasar modal di tahun 2027. "Pada kuartal pertama 2026 diharapkan sudah bisa mencapai 20 juta. Kita berharap investor institusi ke depan lebih banyak lagi," imbuh Inarno.

Tingginya antusias anak muda berinvestasi di pasar modal mendorong mereka pada kedaulatan finansial untuk menyongsong masa depan yang lebih baik lagi. Hal inilah yang dialami Nicho Chandra. Pasalnya, belum genap berumur 18 tahun sudah bisa meraih Rp 100 juta pertama dalam hidupnya karena menjadi trader saham. Kesuksesan dan kisahnya telah membuat beberapa orang kagum, karena dia bisa memanfaatkan peluang.

Nicho baru populer dua tahu belakangan berkat keputusannya untuk terjun menjadi influencer guna meningkatkan literasi masyarakat Indonesia terkait finansial dan saham. Akhirnya konten-kontennya viral di media sosial melalui akun Tiktok @nichocandra dan Instagram @nichocandraa.

Sebelum berinvestasi saham, Nicho berjualan online, yakni pakaian pria melalui e-commerce online di umur 17 tahun dengan modal Rp 2 juta. Akhirnya, dia berhasil mengubah Rp 2 juta menjadi Rp 100 juta sebelum berumur 18 tahun. Lalu, seiring berjalannya waktu, bisnis online-nya tidak berjalan lancar hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjadi full time di dunia saham. Kini, setelah berkecimpung lima tahun di pasar saham, dia memiliki penghasilan puluhan hingga ratusan juta per bulan dari pasar saham.

Nicho mengaku perjalanannya masih sangat panjang. Dia masih harus terus belajar dan menganalisis peluang di pasar saham ini serta mengedukasi tentang saham ke masyarakat Indonesia. Lain lagi dengan Tomi (30), ASN yang berprofesi sebagai guru di salah satu SDN Jakarta Barat ini bercerita, pilihannya berinvestasi di pasar modal karena memberikan banyak keuntungan seperti kapital gain dan dividen. Namun disamping itu, juga risikonya yang dialami seperti capital loss. Namun hal tersebut, tidak membuatnya ciut untuk terus mendalami investasi di pasar modal dan bangga menjadi investor saham.

Begitu juga dengan kisah Belvin Tannadi, pemuda asal Medan yang sukses mendapat Rp 1 miliar per bulan. Awalnya, dirinya bingung mencari investasi di tengah banyaknya pilihan. Dia pun akhirnya menentukan pilihan yakni memilih investasi saham emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). "Awalnya mau mencari investasi tapi kebanyakan pilihan, ada teman saya bilang kok tidak coba yang legal soalnya baru terjun jadi takut ada bodong jadi teman saya cari legal yakni di BEI," cerinya seperti dikutip CNBC Indonesia.

Pemilik situs Ilmusaham.com ini mulai berinvestasi saham sejak tahun 2014 dengan modal awal Rp 12 juta. Selama setahun pertama atau 2015 menurutnya terjadi fluktuasi di tengah perlambatan ekonomi sehingga dia pun berusaha memahami terlebih dulu saham dan risikonya agar tidak panik saat pasar sedang turun.

Adapun alasan dia memilih saham karena saham memiliki potensi pertumbuhan paling tinggi dari semua jenis instrumen lain dibandingkan dengan obligasi dan reksa dana. Pengetahuan ini dia pelajari secara otodidak dengan mempelajari analisis teknikal double bottom dan rajin membaca buku tentang saham. Belvin memberikan pesan kepada investor pemula jangan pernah berinvestasi ke sesuatu yang tidak diketahui risiko maksimalnya

Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas, Ike Widiawati mengatakan, tren meningkatnya minat investasi di kalangan milenial menjadi potensi pasar yang cukup menjanjikan. Hanya saja, di tengah meleknya generasi milenial untuk berinvestasi harus dibarengi dengan literasi pasar keuangan untuk mempersiapkan masa depan.”Berapapun nilai investasinya adalah langkah awal yang sangat baik dan investasi harus sedini mungkin,”ujarnya.

Menurutnya, semakin cepat berinvestasi akan semakin cepat menciptakan kebiasaan mengalokasikan uang untuk investasi. Selain itu, kebiasaan menabung juga akan meningkatkan potensi untuk melakukan investasi. Meskipun sedang terjadi pelemahan ekonomi di tingkat global, lanjut Ike, generasi milenial tidak perlu khawatir karena pasar keuangan akan tetap mempunyai ketahanan dalam periode jangka panjang.

Dirinya menyakini dalam jangka panjang harga saham trennya mengalami kenaikan. Saat ini, tambah dia, kondisi pasar modal Indonesia lebih besar dibandingkan dengan negara-negara di Eropa. Ditambah, Indonesia saat ini masih mencatatkan performa positif pada stock market performance.

Kondisi ini membuat generasi milenial mempunyai kesempatan berinvestasi di pasar keuangan lebih dini. Dia menyarankan mereka bisa memulai berinvestasi di pasar saham yang memiliki return paling tinggi dibandingkan dengan instrumen lain dengan indeks kenaikan 12% sampai 15%.

Namun, apabila tidak berani mengambil risiko terlalu tinggi, lanjut Ike, milenial bisa memulai berinvestasi di pasar obligasi yang memiliki tingkat risiko lebih rendah. Sementara Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Mercu Buana, Erna Sofriana Imaningsih mengingatkan generasi milenial terkait pentingnya perilaku antisipatif, transformatif, dan adaptif dalam pola konsumsi sebagai pelaku ekonomi agar siap menghadapi segala perubahan zaman.

Asal tahu saja, investasi di pasar modal dengan beragam produk investasi mulai dari saham, obligasi, rekdadana atau ETF memungkinkan dana berkembang seiring waktu melalui capital gain dan dividen. Sejarah menunjukkan, indeks saham di bursa efek mengalami kenaikan signifikan dalam jangka panjang, meskipun terdapat fluktuasi pasar dalam jangka pendek. Pasar modal juga berpotensi mengalahkan inflasi dan instrumen investasi konvensional seperti tabungan atau deposito.

Investasi di pasar modal memungkinkan investor melakukan diversifikasi sebagai manajemen risiko, karena ada banyak jenis instrumen di pasar modal. Satu jenis investasi saja, yaitu saham, tercatat sebanyak 900 lebih saham di BEI. Strategi diversifikasi membantu mengurangi risiko jika harga salah satu aset turun, karena investor memiliki eksposur terhadap berbagai sektor dan instrumen. Oleh karena itu, filosofi investasi mengatakan, jangan menyimpan telur di dalam satu keranjang masih berlaku. Artinya, investor harus memiliki beberapa saham untuk mengurangi risiko turunnya harga salah satu atau beberapa saham dalam portofolio investasi masing-masing. Begitupun instrumen investasi lainnya. Diversifikasi membantu menciptakan keseimbangan risiko dan imbal hasil dalam jangka panjang.