Mengapa Wanita Tertinggal dalam Kesenjangan Tabungan Gender?
Sumber Foto: AsatuNews.co.id
Sosial

Mengapa Wanita Tertinggal dalam Kesenjangan Tabungan Gender?

Kesenjangan finansial antara pria dan wanita masih menjadi isu krusial di tahun 2025. Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun wanita sering kali menjadi pengelola anggaran, jumlah tabungan mereka secara signifikan tertinggal jauh di bawah pria. Ketimpangan ini bukan sekadar masalah disiplin individu, melainkan dampak dari hambatan sistemik yang berakar panjang.

Survei gabungan Yahoo Finance dan Marist Poll terhadap 3.000 responden dewasa mengungkap bahwa 40 persen wanita merasa sangat tidak puas dengan kondisi tabungan mereka, berbanding terbalik dengan pria yang hanya menyentuh angka 28 persen. Kondisi ini diperburuk dengan fakta bahwa 53 persen wanita melaporkan penurunan jumlah tabungan pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan tekanan paling berat dirasakan oleh generasi milenial dan Gen X.

Aspek Perbandingan Pria Wanita

Rata-rata Total Tabungan 195.156,20 dollar AS 105.498,50 dollar AS

Ketidakpuasan terhadap Tabungan 28 persen 40 persen

Penurunan Tabungan (2024 vs 2023) 42 persen 53 persen

Jenna Biancavilla, pendiri Svvy® dan pemilik Pearl Capital Management, menegaskan bahwa ketimpangan ini adalah cerminan dari realitas yang harus dihadapi perempuan. "Hal ini mencerminkan kombinasi norma budaya, realitas sistemik, dan pilihan pribadi yang sering kali terpaksa harus diambil perempuan," jelasnya saat menanggapi fenomena tersebut.

Penyebab utama pria memiliki tabungan hampir dua kali lipat lebih besar dipicu oleh kesenjangan upah gender. Data Pew Research Center 2024 menunjukkan wanita hanya mengantongi 85 persen dari pendapatan pria. Kondisi ini diperparah oleh interupsi karier, di mana The Commonwealth Fund mencatat lebih dari 60 persen pengasuh keluarga adalah wanita, yang secara otomatis memangkas pendapatan seumur hidup dan kontribusi dana pensiun mereka.

Selain faktor pendapatan, minimnya representasi wanita dalam ruang keuangan formal dan stereotip tradisional turut menghambat pembangunan kekayaan. Wanita sering kali hanya dipandang sebagai pengatur belanja rumah tangga, bukan sebagai investor atau pembangun aset jangka panjang.

Langkah Strategis Menuju Kesetaraan Finansial

Untuk memitigasi dampak sistemik tersebut, individu disarankan mulai mengoptimalkan langkah strategis melalui pembuatan anggaran bulanan yang ketat, pembangunan dana darurat, serta memulai investasi sedini mungkin. Maksimalkan kontribusi pada program pensiun perusahaan dan lakukan peningkatan setoran secara berkala untuk memperkuat bantalan finansial di masa depan.

Namun, penyelesaian masalah ini tidak bisa hanya bertumpu pada pundak perempuan. Peran sektor swasta dan pemerintah sangat vital melalui penyediaan kebijakan cuti keluarga berbayar, fleksibilitas jam kerja, serta penciptaan layanan keuangan yang lebih inklusif. Sinergi antara kebijakan yang adil dan literasi keuangan yang merata menjadi kunci utama untuk menutup jurang kesenjangan tabungan gender.