Masjid Hidayatullah: Tempat Peribadatan yang Ramah bagi Penyandang Disabilitas di Atambua
Masjid Hidayatullah yang terletak di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu tempat peribadatan yang inklusif bagi semua kalangan, termasuk para penyandang disabilitas. Salah satu pengunjung tetap masjid ini adalah Abdul Salam, yang akrab disapa Aco. Aco adalah seorang pria tunanetra yang rutin berkunjung ke masjid setiap menjelang waktu salat.
Setiap kali hendak beribadah, Aco didampingi oleh ayah atau ibunya yang secara bergantian mengantarnya. Mereka membimbing Aco hingga sampai di tangga pintu utama masjid, sebelum akhirnya membiarkannya melanjutkan perjalanan sendiri. Berkat adanya fasilitas yang ramah difabel, Aco dapat dengan mudah memasuki masjid tanpa perlu bantuan lanjutan.
Masjid Hidayatullah dilengkapi dengan guiding block berwarna hitam yang memiliki tekstur berpasir. Fasilitas ini merupakan garis penanda jalan yang sangat membantu bagi orang tunanetra, sehingga mereka dapat menavigasi diri mereka sendiri hingga mencapai pintu utama masjid dengan aman.
Fasilitas Ramah Disabilitas di Masjid Hidayatullah
- Penerapan guiding block untuk membantu navigasi penyandang tunanetra.
- Desain akses masuk yang memudahkan semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.
- Komitmen untuk menyediakan lingkungan peribadatan yang inklusif.
Keberadaan Masjid Hidayatullah tidak hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai simbol penerimaan dan dukungan bagi semua anggota masyarakat, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Ini menunjukkan bahwa fasilitas publik dapat dirancang untuk menjadi lebih inklusif dan memberikan akses yang sama bagi semua orang.




