Konser Vintage Sounds Rayakan Nostalgia Musik Era 80-90an
Kanal News Day - PENYANYI Bima Zeno, Iwa K dan Maera Panigoro membuka konser bertajuk Vintage Sounds: A Variety Show dengan lagu Alam Maya yang pernah dipopulerkan oleh The Kid Brother. Mereka diiringi sekitar 20 penari yang menggunakan pakaian bernuansa silver. "Kami ingin menghidupkan kembali memori keluarga melalui lagu-lagu era 80–90an sebagai pengalaman lintas generasi benar-benar terwujud dengan indah,” ujar Maera dari atas panggung pada konser pertengahan Februari 2026.
Lagu Alam Maya menjadi salah satu lagu yang sangat dikenang ayah Maera, pengusaha Arifin Panigoro dan istrinya. Menurut Maera, lagu itu kerap dinyanyikan kedua orang tuanya dalam berbagai kesempatan. Kisah tentang kesukaan orang tua Maera dengan lagu-lagu era-80-90an pun diceritakan dalam pertunjukan pasir yang gambarnya tersorot di latar panggung dengan latar okrestra yang dipimpin musisi Tohpati.
Konser Vintage Sounds: A Variety Show memang menghadirkan berbagai lagu zaman dulu yang sempat populer. Selain lagu Alam Maya, ada pula lagu berjudul Bento yang dinyanyikan oleh penyanyi Gilang Dirga. Pria 36 tahun itu tampil dengan kemeja putih, jas dan celana hitam, serta kumis palsu untuk menyamakan sosok pria kaya bermobil banyak mirip si Bento dalam lirik lagunya. Tak lupa Gilang membawa properti gitar yang menambah nuansa pria perlente, tokoh lagu itu.
Walaupun menggunakan aransemen baru, lagu yang sempat dipopulerkan oleh Iwan Fals itu pun semakin ramah di telinga penonton. Penonton heboh dan ikut bernyanyi ketika lagu tersebut dihadirkan, beberapa di antaranya un mengangguk-anggukan kepala.
Tidak bergenti di situ, aksi Gilang Dirga pun berlanjut. Ia membuka jasnya dan lanjut menyanyikan lagu Sesaat Engkau Hadir yang sempat dipopulerkan oleh musisi Utha Likumahuwa. Para penonton pun masih terus ikut bernyanyi.
Ada belasan lagu yang ditampilkan dalam konser yang berlangsung selama 2 jam lebih tersebut. Aransemen baru dalam berbagai lagu-lagu tahun 80-90an itu pun memberi warna segar tanpa menghilangkan identitas lagu yang sudah melekat dalam ingatan banyak orang.
Nuansa sekitar 30 tahun lalu itu pun semakin terasa dengan aksesori dan permainan cahaya panggung. Poster konser yang menggunakan font tebal dan bergelombang memperlihatan mode gaya zaman dulu. Lampu disko yang juga terkenal di zaman itu pun dihadirkan di panggung tersebut.
Kehadiran duo pemandu acara kondang Indy Barends dan Indra Bekti pun ikut mengajak penonton bernostalgia. Duo yang sempat menjadi pembawa acara bincang-bincang siang pada 90an itu berhasil memberikan keseimbangan tersendiri pada acara tersebut.
Interaksi lucu oleh keduanya menularkan tawa kepada para penonton. Interaksi mereka yang santai dan sesekali humoris menciptakan jeda ringan di antara berbagai rangkaian pertunjukan. Momen-momen tersebut memberi ruang bagi penonton untuk kembali terhubung sebelum masuk ke segmen berikutnya.
Secara musikal, aransemen big band di bawah arahan Tohpati menjadi salah satu elemen yang paling terasa kuat. Lagu-lagu klasik yang dibawakan ulang terdengar lebih kaya secara tekstur, namun tetap mempertahankan nuansa aslinya. Beberapa bagian menghadirkan suasana yang lebih hening, ketika penonton tampak menikmati detail musikalitas dengan penuh perhatian, menunjukkan bagaimana nostalgia dapat hadir tidak hanya sebagai kenangan, tetapi juga sebagai pengalaman mendengarkan yang baru.
Konser Vintage Sounds seolah bukan sekadar upaya menghadirkan kembali lagu-lagu lama, melainkan sebuah interpretasi ulang yang mempertemukan masa lalu dengan pendekatan yang relevan bagi penonton masa kini.
Malam itu, nostalgia hadir bukan sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai pengalaman kolektif yang terus bergerak mengajak penonton mengingat, menikmati, sekaligus merayakan perjalanan musik lintas generasi.




