Kesepakatan Jalur Maritim Aceh-Malaysia, Port Klang Jadi Pusat Ekspor
Dewan Ekonomi Aceh (DEA) telah mengadakan pertemuan penting dengan Staf Khusus Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di Jakarta pada Rabu, 4 Februari 2026. Pertemuan ini berfokus pada pembukaan jalur maritim antara Aceh dan Malaysia dan menghasilkan kesepakatan strategis.
Salah satu hasil utama dari pertemuan tersebut adalah penetapan Port Klang sebagai pintu ekspor global bagi komoditas unggulan Aceh, seperti kopi dan rotan. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Komisaris PT Trans Continent, Jibril Gibran, yang merupakan putra dari Sekretaris Jenderal DEA, Ismail Rasyid.
Fokus Pertemuan
Ismail Rasyid menyatakan bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas strategi pelaksanaan konektivitas maritim antara Aceh dan Malaysia. Kehadiran Jodi Mahardi sebagai Komisaris Pelindo diharapkan dapat memperkuat pembahasan teknis terkait proyek ini.
Jodi Mahardi juga berperan dalam memfasilitasi pertemuan antara Sekjen DEA dengan pemerintah Malaysia, diwakili oleh Ahmad Akmal Muhamad, Minister Counselor of Economic Affairs dari Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia (MITI), serta tim Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Komitmen Kadin dan Dukungan Pemerintah
Kamar Dagang dan Industri Indonesia menunjukkan komitmennya untuk mengawal percepatan kerjasama ini agar segera terealisasi. Tim Kadin yang dipimpin oleh Chairman Christian Wanandi akan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan keberhasilan proyek ini.
Untuk melanjutkan momentum ini ke tahap implementasi, para pihak berharap agar Pemerintah Aceh segera menyusun proposal teknis dan surat undangan resmi melalui DEA. Dokumen-dokumen ini akan menjadi syarat penting agar MITI Malaysia dapat mengatur pertemuan tingkat tinggi dengan pemangku kepentingan utama.
Roadmap Komoditas
Pemerintah Aceh juga diminta untuk menyusun roadmap komoditas yang mencakup prospek pertanian, perikanan, kopi, rotan, dan barang industri, lengkap dengan data volume dan mekanisme pengapalan. Ismail Rasyid menegaskan pentingnya memanfaatkan Port Klang sebagai transit hub internasional, bukan hanya sekadar menjual ke Malaysia.
“Kita perlu bekerja sama dengan pelayaran domestik Indonesia untuk mengangkut kopi, rotan, dan hasil bumi Aceh ke Port Klang. Dari sana, barang kita akan langsung terhubung dengan jaringan logistik global,” ujarnya.
Dampak Ekonomi
Langkah ini dinilai sebagai solusi untuk mengurangi biaya logistik yang tinggi yang selama ini menjadi beban bagi pengusaha lokal, terutama karena akses jalur darat yang panjang menuju pelabuhan di provinsi lain.
Setelah pertemuan ini, Ismail Rasyid mengungkapkan bahwa tim DEA akan segera melakukan pembahasan teknis lebih lanjut. Hasil rumusan yang komprehensif akan dipresentasikan kepada Gubernur Aceh untuk mendapatkan mandat eksekusi sehingga proposal dan undangan resmi dapat segera dikirimkan ke Malaysia.




