Kesenjangan Tata Ruang dan Permukiman di Surabaya: Tantangan dalam Pertumbuhan Ekonomi
Sumber Foto: Kompasiana.com
Sosial

Kesenjangan Tata Ruang dan Permukiman di Surabaya: Tantangan dalam Pertumbuhan Ekonomi

Kanal News Day - WIRA YUDHANTO Mohon Tunggu... MAHASISWA ILMU EKONOMI, UIN SUNAN AMPEL SURABAYA

Mahasiswa dengan minat pada berbagai isu ekonomi, mulai dari kebijakan publik hingga dinamika ekonomi masyarakat. Aktif menulis secara kritis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Memiliki hobi membaca dan mencoba hal baru.

Selanjutnya

Sustainability

Kesenjangan Tata Ruang dan Permukiman di Kota Surabaya : Studi Perbandingan Surabaya Barat dan Surabaya Utara

23 Februari 2026 13:51 Diperbarui: 23 Februari 2026 13:51 155 1 1

+

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lihat foto

Surabaya sering dipandang sebagai representasi kemajuan kawasan timur Indonesia. Sebagai motor ekonomi utama di Jawa Timur dan metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta, Surabaya memegang peran penting dalam denyut perekonomian nasional. Kota ini bukan sekadar ruang administratif, melainkan ruang hidup bagi hampir tiga juta penduduk dengan tingkat kepadatan yang tinggi yaitu lebih dari 8.000 jiwa per kilometer persegi. Di dalamnya, aktivitas industri, perdagangan, jasa, pendidikan, hingga interaksi sosial tumbuh dan saling berkelindan membentuk lanskap urban yang terus bergerak.

Secara makro, perkembangan pembangunan di Kota Surabaya menunjukkan capaian yang tidak hanya kuat secara angka, tetapi juga berdampak nyata bagi kehidupan masyarakatnya. Pada tahun 2024, pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 5,76 persen, mencerminkan aktivitas ekonomi yang terus bergerak dan menciptakan peluang usaha serta lapangan kerja bagi warga kota. Dari sisi kesejahteraan, angka kemiskinan yang menurun dari 3,96 persen pada 2024 menjadi sekitar 3,56 persen pada 2025 berdasarkan data BPS Kota Surabaya bukan sekadar statistik, melainkan gambaran berkurangnya jumlah keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang meningkat hingga sekitar 85,65 pada 2025 juga mencerminkan akses pendidikan yang lebih baik, layanan kesehatan yang semakin memadai, serta standar hidup yang lebih layak bagi masyarakat.

Namun, di balik capaian tersebut, terdapat realitas yang lebih kompleks, angka-angka statistik tidak selalu mampu menangkap seluruh realitas yang dirasakan masyarakat. Di balik capaian yang tampak mengesankan, tersimpan perbedaan kualitas ruang hidup yang cukup terasa di tingkat keseharian, Ketika menelusuri sudut-sudut kota secara lebih dekat, tampak adanya perbedaan kualitas tata ruang dan permukiman yang cukup mencolok terutama antara Surabaya Barat dan Surabaya Utara. Kontras ini bukan sekadar perbedaan visual antara apartemen modern dan kampung padat, melainkan refleksi dari distribusi investasi, infrastruktur, serta akses terhadap peluang ekonomi yang belum sepenuhnya setara.

Kesenjangan tersebut mengingatkan kita bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan pemerataan ruang. Angka-angka makro yang menunjukkan peningkatan PDRB, kenaikan investasi, atau membaiknya indikator kesejahteraan sering kali menyembunyikan realitas spasial yang timpang. Pertumbuhan bisa terjadi, tetapi manfaatnya tidak selalu terdistribusi secara merata di seluruh wilayah kota.

Dalam perspektif teori pertumbuhan dan ekonomi regional, pembangunan memang cenderung mengikuti logika efisiensi dan keuntungan. Wilayah yang memiliki infrastruktur lebih baik, aksesibilitas tinggi, serta citra kawasan yang kuat akan lebih mudah menarik arus modal. Investor rasional memilih lokasi yang menawarkan risiko rendah dan potensi imbal hasil tinggi. Akibatnya, aktivitas ekonomi terkonsentrasi di titik-titik tertentu yang kemudian berkembang menjadi pusat pertumbuhan (growth centers). Konsentrasi ini menciptakan efek bola salju: semakin maju suatu kawasan, semakin besar pula daya tariknya.

Namun, mekanisme pasar yang bekerja secara alamiah tersebut tidak selalu mempertimbangkan dimensi keadilan sosial. Kawasan yang sejak awal memiliki keterbatasan baik karena kondisi geografis, sejarah perkembangan kota, maupun keterbatasan infrastruktur sering kali tertinggal dalam arus modernisasi. Mereka tidak hanya tertinggal secara fisik, tetapi juga dalam akses terhadap layanan dasar, peluang kerja, dan kualitas lingkungan hidup. Di sinilah konsep keadilan spasial menjadi penting. Keadilan spasial tidak sekadar berbicara tentang pemerataan fisik bangunan atau jalan, melainkan tentang bagaimana setiap warga kota memiliki kesempatan yang relatif setara untuk menikmati manfaat Pembangunan tanpa dibatasi oleh lokasi tempat tinggalnya. Kota yang adil secara spasial adalah kota yang memastikan bahwa akses terhadap air bersih, sanitasi, transportasi, ruang terbuka hijau, pendidikan, dan layanan kesehatan tidak terkonsentrasi hanya pada wilayah tertentu.

Lebih jauh lagi, ketimpangan ruang berpotensi memperkuat ketimpangan sosial. Ketika kawasan tertentu menjadi simbol kemajuan dengan hunian eksklusif dan fasilitas lengkap, sementara kawasan lain menghadapi keterbatasan infrastruktur dan kerentanan lingkungan, maka jarak sosial antarwarga pun semakin melebar. Ruang kota secara perlahan mereproduksi perbedaan kelas, memperkuat segregasi, dan membentuk batas-batas tak kasatmata yang sulit ditembus.

Pertanyaan tentang keadilan spasial, dengan demikian, bukan sekadar isu tata kota, tetapi juga persoalan moral dan kebijakan publik. Bagaimana pemerintah kota mengelola distribusi investasi, Bagaimana perencanaan tata ruang dirancang agar tidak hanya menguntungkan kawasan yang sudah maju Dan bagaimana memastikan bahwa pembangunan tidak hanya mempercantik wajah kota, tetapi juga memperbaiki kualitas hidup seluruh warganya. Di titik inilah perencanaan kota yang inklusif dan berkelanjutan menjadi krusial. Pertumbuhan tetap penting, tetapi ia perlu diarahkan agar tidak menciptakan ketimpangan yang semakin dalam. Kota bukan hanya tentang bangunan dan jalan raya, melainkan tentang manusia yang hidup di dalamnya dengan hak yang sama untuk merasakan kemajuan.

Tulisan ini mencoba membaca Surabaya bukan hanya sebagai kota yang tumbuh, tetapi juga sebagai kota yang sedang belajar menata keseimbangannya. Dengan pendekatan yang analitis sekaligus humanis, esai ini mengajak kita merenungkan satu hal mendasar: bagaimana memastikan bahwa setiap sudut kota baik yang gemerlap maupun yang rentan memiliki hak yang sama atas kualitas hidup yang layak.

Gemerlap Lampu Surabaya Barat (Sumber: https://kabarapik.com/)

HALAMAN :

1

2

3

4

5

Mohon tunggu...

Lihat Sustainability Selengkapnya

Beri Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

KIRIM

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

TAG

kota

surabaya

ekonomi

sustainability