Kesenjangan Pendapatan di Surabaya Meski Ekonomi Berkembang Pesat
Kanal News Day - Surabaya sering disebut sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat di Indonesia. Pusat perbelanjaan terus bermunculan, kawasan bisnis makin ramai, dan lowongan kerja datang dari berbagai sektor. Sebagai motor ekonomi di Jawa Timur, kota Surabaya menjadi tujuan urbanisasi ribuan orang setiap tahun dengan datang membawa harapan akan pekerjaan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih layak.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik Kota Surabaya menunjukkan tren penurunan angka kemiskinan di Surabaya dalam beberapa tahun terakhir. Pada Maret 2025, penduduk miskin di kota Surabaya menunjukkan presentase sebesar 3,56% atau sekitar 105,09 ribu jiwa. Prensentase periode 2025 menunjukkan penurunan di bandingkan dengan periode 2024 (per Maret) yaitu sebesar 3,96% atau sekitar 116,62 ribu jiwa. Dilihat dari data ini menunjukan adanya perbaikan pada sebagian warga dalam hal akses kebutuhan dasar.
Namun, jika hanya didasarkan pada data statistik semata tanpa melihat langsung kondisi nyata di lapangan, gambaran yang muncul akan kurang akurat dan utuh. Jika hanya melihat presentase angka kemiskinan secara agregat tidak akan otomatis berarti bahwa seluruh warga benar-benar merasakan manfaat yang nyata juga dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi.
Dari luar, Surabaya terlihat bergerak maju dan penuh peluang. Tapi jika dilihat dari dalam Surabaya, angka-angka pertumbuhan tampak menjanjikan. Namun, di balik ritme kota yang semakin cepat, ada cerita lain yang tak selalu terlihat dari kejauhan dimana kehidupan warga Surabaya tidak semuanya berjalan seiring.
Di balik perbaikan agregat, masih ada golongan masyarakat yang pendapatannya tertinggal dan menghadapi kerentanan dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti kesejahteraan yang merata. Bagi sebagian warga, pekerjaan memang tersedia tetapi pendapatan yang diperoleh belum tentu cukup untuk mengakses hunian yang layak, nyaman, dan sehat.
Di kota metropolitan seperti Surabaya ini, kesenjangan dalam pendapatan tampak jelas ketika menilik struktur pasar kerja. Kesenjangan pendapatan antara mereka yang bekerja di sektor formal dengan penghasilan stabil, sedangkan mereka yang bekerja di sektor informal yang sering kali hanya mendapatkan pendapatan rendah dan tidak memiliki jaminan sosial.
Menurut BPS Kota Surabaya Agustus 2025, tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 70,59 persen, naik 0,10 persen poin dibandingkan TPAK Agustus 2024. Dimana jumlah angakatan kerja sebanyak 1,64 juta jiwa. Angka ini menunjukan adanya peningkatan dibandingkan Agustus 2024, dengan penambahan sekitar 16,6 ribu orang yang masuk ke pasar kerja.
Kenaikan jumlah angkatan kerja ini mencerminkan bahwa aktivitas ekonomi Surabaya terus menarik penduduk usia kerja dari dalam kota maupun dari wilayah lain untuk terlibat dalam kegiatan produktif. Namun, bertambahnya jumlah pencari kerja juga berarti tantangan penyediaan lapangan kerja yang layak semakin besar, terutama dalam memastikan bahwa pertumbuhan kesempatan kerja sejalan dengan peningkatan kualitas pendapatan dan perlindungan kerja bagi para pekerja.
Maka muncullah pertanyaan, apakah semua orang yang masuk ke pasar kerja itu mendapatkan pekerjaan yang layak?
Pertumbuhan jumlah angkatan kerja tentu menjadi kabar baik, tetapi jika jumlah pekerjaan yang tersedia tidak seimbang baik secara kuantitas maupun kualitas, maka tantangan baru muncul dan memastikan angkatan kerja tersebut terserap dalam pekerjaan yang memberikan pendapatan yang cukup serta aman secara sosial.




