Kesenjangan Pembangunan di Sidoarjo: Tantangan Menuju Pertumbuhan Inklusif
Kanal News Day - Melihat tren pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5-6 persen dalam dua tahun terakhir, serta capaian IPM yang tinggi, secara makro Sidoarjo memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk terus tumbuh dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Struktur ekonomi yang ditopang oleh sektor industri pengolahan juga memberikan daya tahan terhadap guncangan eksternal dibanding daerah yang bergantung pada sektor primer.
Namun, arah pembangunan ke depan tidak hanya ditentukan oleh laju pertumbuhan, melainkan oleh pola distribusi pertumbuhan tersebut. Jika pola investasi tetap terkonsentrasi di wilayah utara dan barat yang dekat dengan Surabaya, maka kesenjangan spasial kemungkinan besar akan bertahan. Wilayah industri akan semakin berkembang karena efek aglomerasi yakni infrastuktur makin lengkap, jaringan bisnis semakin luas, dan tenaga kerja terampil semakin terkonsentrasi disana. Sementara itu, wilayah selatan seperti Porong berisiko mengalami stagnansi relatif.
Dalam perspektif teori pertumbuhan kumulatif dari Gunnar Myrdal, kondisi ini dapat memperkuat Backwash effect, yaitu kondisi ketika pusat pertumbuhan menyedot sumber daya dari wilayah pinggiran. Migrasi tenaga kerja produktif dari selatan ke utara dapat terus terjadi. Dalam jangka panjang, ketimpangan bukan hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial dan demografis. Sebaliknya, terdapat pula skenario konvergensi. Dalam kerangka teori neoklasik dari Robert Solow, wilayah yang mengalami kehilangan modal sebenarnya memiliki potensi tumbuh lebih cepat jika mendapatkan investasi baru yang cukup besar. Artinya, Porong dan wilayah selatan memiliki peluang untuk bangkit jika terdapat intervensi pembangunan yang terarah dan konsisten. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, arah pembangunan Sidoarjo sangat bergantung pada kebijakan afirmatif yang mampu mengurangi kesenjangan antarwilayah.
Solusi Strategis, dari pertumbuhan tinggi menuju pertumbuhan inklusif
Untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara angka tetapi juga merata secara spasial, diperlukan stratei uang lebih terstruktur dan spesifik seperti :
Pengembangan Pusat Pertumbuhan Baru di Wilayah Selatan
Alih-alih membiarkan investasi terkonsentrasi di wilayah utara, pemerintah daerah dapat merancang kawasan ekonomi baru di wilayah selatan. Bentuknya bisa berupa kawasan industri ringan, pusat logistik, atau kawasan jasa berbasis UMKM. Kebijakan insentif seperti keringanan pajak daerah, kemudahan perizinan, dan dukungan infrastuktur dasar dapat menjadi daya tarik bagi investor. Pendekatan ini dapat memicu efek multiplier terhadap ekonomi lokal.
Revitalisasi UMKM dan Ekonomi Lokal
Wilayah terdampak lumpur tidak bisa sepenuhnya bergantung pada industri besar. Penguatan UMKM menjadi strategi realistis dan berkelanjutan. Program pelatihan keterampilan, akses pembiayaan mikro, serta integrasi UMKM ke rantai pasok industri besar di Sidoarjo dapat meningkatkan produktivitas. Langkah ini penting karena sektor UMKM relatif lebih fleksibel dan mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.
Pemerataan Infrastuktur dan Konektivitas
Pemerataan pembangunan infrastuktur menjadi kunci utama. Jalan, transportasi publik, fasilitas kesehatan, dan pendidikan yang merata akan meningkatkan kualitas modal manusia. Dalam konteks IPM yang sudah tinggi, tantangannya adalah memastikan kualitas layanan publik tidak hanya terkonsentrasi di wilayah maju. Jika akses pendidikan dan kesehatan merata, maka peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat mempercepat konvergensi antarwilayah.




