Kesenjangan Digital: Tantangan Akses Internet di Daerah Terpencil
Sumber Foto: Kompasiana.com
Sosial

Kesenjangan Digital: Tantangan Akses Internet di Daerah Terpencil

Kanal News Day - Setiap hari hidupku berkelindan dengan internet. Bangun tidur selepas melakukan kegiatan rutin, aku membuka ponselku untuk memeriksa kegiatan hari ini. Hingga malam menjelang, ketika sulit memejamkan mata, aku ditemani oleh musik meditatif dari platform streaming. Kalian yang hidup di perkotaan, mungkin sama sepertiku ini.

Entah sejak kapan kehidupan bersama internet itu merupakan hal yang jamak? Mungkin satu dasawarsa lalu, atau malah lebih lama, semenjak akses internet semakin baik dan cepat. Atau, ketika akses internet makin mudah dan tak begitu mahal.

Dari kegiatan berkaitan dengan pekerjaan seperti mengirim email, rapat, membuat analisa dan laporan, semuanya berurusan dengan internet. Perkuliahan, mengumpulkan jurnal, dan mengerjakan tugas juga tak bisa lepas dari platform digital. Belum lagi kegiatan yang bersifat rutin, seperti berbelanja, membayar aneka tagihan, hingga mendapatkan hiburan seperti mendengarkan lagu dan menonton video. Hingga, hal yang santai seperti bermain medsos dan mengobrol dengan kawan.

Semua hal yang kulakukan bersama internet sepertinya normal-normal saja. Hal yang sama dengan orang-orang lainnya di sekitarku. Bukankah setiap kali kita naik transportasi umum sebagian besar orang rata-rata berkutat dengan gawainya, bukan?!

Dengan akses digital, aku bisa mengetahui klinik kucing yang lebih terjangkau (dokpri)

Namun, sesuatu yang bagiku adalah hal biasa ternyata adalah sesuatu yang mewah dan sulit dijangkau oleh sebagian kalangan. Di pulau-pulau kecil dan di daerah pelosok di negeri ini masih banyak yang belum terakses oleh internet.

Tak sedikit yang sulit mendapatkan sinyal internet seperti yang dihadapi oleh warga NTT dan bagian terpencil di Sulawesi Selatan. Kisah ini sempat hadir dalam film Susah Sinyal dan Solata. Bahkan, masih ada daerah yang belum terakses sama sekali.

Padahal internet dan digitalisasi sebenarnya, bukan hanya masalah infrastruktur dan teknologi, melainkan juga tentang akses dan peluang. Saudara kita yang tinggal di kawasan yang tak terakses internet akan sulit mendapatkan peluang, tak semudah aku dan kalian yang tinggal di kota besar.

Kesenjangan Digital dan Peluang yang Terhambat

Dulu kita mengenal ketimpangan atau kesenjangan dalam hal perekonomian dan pendidikan. Kini dengan penetrasi internet yang makin mudah dan perkembangan teknologi seluler yang makin canggih, kita diperkenalkan dengan istilah kesenjangan digital.

Ada berbagai definisi tentang kesenjangan tersebut. Salah satunya dari Zulkarimen & Nasution (2007), yang sering dikutip oleh kalangan mahasiswa. Kesenjangan digital didefinisikan sebagai "kesenjangan yang terjadi antara kelompok masyarakat yang memiliki akses internet melalui infrastruktur teknologi informasi dan kelompok yang sama sekali tidak terjangkau oleh teknologi tersebut".

Selama ini mungkin kita tidak sadar bahwa masih banyak saudara kita yang belum bisa menjangkau dan memanfaatkan internet. Kenyataan ini benar-benar baru menampar ketika pandemi Covid kemarin terjadi.

Pada saat pandemi, kita diperlihatkan bagaimana sulitnya sekolah, guru, dan murid-murid yang tak memiliki perangkat gawai berakses internet. Bahkan ada guru yang rela tiap hari berkeliling dari rumah ke rumah siswa karena ia bingung bagaimana cara mengajar siswanya, sementara tak semua muridnya memiliki perangkat gawai yang terakses internet. Bila di tempat lain siswa bisa tetap belajar dengan menggunakan aplikasi semacam Zoom atau Gmeet, di tempat ibu tersebut harus dengan cara manual yang merepotkan.

Lihat Techlife Selengkapnya