Kepadatan Pedagang Kaki Lima Mengganggu Jalur Pejalan Kaki di Sekitar Masjid Istiqlal
JAKARTA, KOMPAS.com - Jalur pedestrian di Jalan Perwira, yang terletak di Kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, saat ini mengalami kepadatan akibat keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan dagangannya di trotoar. Pantauan di lokasi pada Sabtu (7/2/2026) menunjukkan deretan gerobak PKL terparkir rapi di sepanjang trotoar, menghalangi jalur yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki.
Lebih memprihatinkan, sebagian gerobak PKL berdiri di atas guiding block, yaitu jalur yang dirancang khusus untuk membantu penyandang disabilitas, terutama tunanetra. Jalur berwarna kuning dengan tekstur timbul ini seharusnya berfungsi sebagai penunjuk arah, sehingga keberadaan gerobak dan peralatan dagang lainnya meningkatkan risiko bagi penyandang tunanetra untuk mengalami kecelakaan.
Selain gerobak, para pedagang juga menempatkan bangku plastik berwarna merah dan biru di trotoar untuk para pembeli yang ingin makan di tempat. Hal ini semakin mempersempit ruang gerak pejalan kaki, memaksa beberapa orang untuk berjalan memutar atau bahkan turun ke badan jalan.
Di sisi lain trotoar, terlihat sejumlah pengunjung duduk di pinggiran jalur pedestrian, menambah kesan semrawut. Situasi ini jelas mengganggu fungsi trotoar sebagai fasilitas publik yang seharusnya ramah bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas.
Salah satu pedagang, yang hanya ingin dikenal dengan inisial EE (44), menyatakan bahwa ia tidak berjualan setiap hari di lokasi tersebut. Ia mengaku biasanya datang saat hari libur atau ketika ada acara besar di sekitar Masjid Istiqlal. "Enggak setiap hari juga sih. Kalau hari libur aja atau pas lagi ada acara apa kita di sini," ujarnya.
EE menambahkan, pemilihan lokasi di kawasan Istiqlal didasarkan pada ramainya pengunjung, yang diyakini dapat meningkatkan peluang penjualan. "Nyari yang beli banyaknya di sini. Pasti pedagang lain juga larinya ke sini, kita cari yang banyak orangnya aja," ungkapnya.
Sementara itu, seorang pejalan kaki bernama Ratman (47) mengeluhkan kondisi trotoar yang dipenuhi pedagang. Ia terpaksa berjalan di bahu jalan karena trotoar sudah tidak dapat digunakan. "Saya harus jalan ke bahu jalan, padahal trotoarnya lega banget. Di Jakarta pejalan kaki harus ngalah mulu, sama yang jualan, sama motor," keluhnya. Ratman juga mencatat bahwa hampir setiap akhir pekan, trotoar tersebut selalu dipenuhi oleh PKL. "Setiap Sabtu Minggu pasti banyak banget pedagang yang jualan di trotoar karena tempatnya strategis kali," tutupnya.




