John Tobing: Legenda Musik dan Aktivisme yang Meninggalkan 'Darah Juang'
Sumber Foto: Radar Jogja
Hiburan

John Tobing: Legenda Musik dan Aktivisme yang Meninggalkan 'Darah Juang'

JOGJA - Salah satu keinginannya di dunia belum tercapai --berada di panggung, menenteng gitar dan menyanyikan lirik-lirik kritis yang memekakkan telinga tirani untuk terakhir kali. Kini, John Tobing telah berpulang, bernyanyi dalam sunyi dan meninggalkan "Darah Juang" yang abadi.

Aktivis senior pencipta lagu "Darah Juang" Johnson Marhasak Lumban Tobing atau John Tobing, meninggal dunia, Rabu (25/2) malam. Maestro perjuangan yang melahirkan himne abadi Gerakan Reformasi 1998 itu telah tiada setelah berjuang melawan penyakit stroke.

John Tobing mempunyai tiga anak. Salah satunya Gopas Kibar Syang Proudy yang merupakan anak bungsu Bang John, sapaan akrab John Tobing. Ekspresi kesedihan dari Gopas tak bisa disembunyikan saat ditemui di rumah duka Arimatea RS Bethesda, Jogja, Kamis (26/2).

Di samping jenazah, sesekali ia memandangi jenazah ayahnya. Kemudian tak lupa ia mengelus pundak ibundanya, Dona Ellis Herawati Hutabarat yang berada di sampingnya.

"Mungkin yang membuat saya sedih karena terakhir itu bapak bilangnya ingin bebas. Dia ingin bebas, dia tanya dia kapan sembuh, dia kapan bisa kayak dulu lagi. Itu sih yang saya sedihkan," ujar Gopas dengan mata berkaca-kaca.

John Tobing merupakan alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1986. Banyak lagu yang telah ia ciptakan. Lagu paling fenomenal dan masih menjadi bahan bakar pembangkit semangat para aksi massa saat menyuarakan keadilan adalah "Darah Juang".

Sebagai seorang aktivis, seniman sekaligus musisi, Bang John ingin terus berkarya hingga masa tua. Bahkan, menurut Gopas, ada keinginan terakhir yang belum tercapai dari mendiang ayahnya.

"Ada konser yang mau digelar, cuman memang kurang tahu saya pastinya untuk proses-prosesnya kurang tahu. Memang ada, terdekat itu kalau enggak salah di Jakarta," ucapnya.

Sebagai seorang anak, Gopas sangat bangga kepada ayahnya. Bahkan ia baru sadar ayahnya merupakan sosok aktivis yang banyak berperan dalam pergerakan di Indonesia setelah dewasa dan membaca banyak artikel media. "Saya baru sadar karena memang ayah kalau di rumah tidak semenonjol itu. Jadi seperti layaknya bapak-bapak biasa," bebernya.

Ia lebih takjub lagi ketika banyak teman-teman seumurannya masih membawakan lagu-lagu yang diciptakan. Tentang lagu Darah Juang yang melegenda, Gopas berharap agar lagu itu menjadi milik bangsa. Bisa dinyanyikan oleh siapa saja dan di mana saja.

"Memang untuk bangsa dan kalaupun dinyanyikan di mana pun, bapak malah senang. Tidak perlu hak cipta segala macam karena dia ingin lagunya dikenal di semua penjuru Indonesia, bahkan mancanegara, karena itu harapan dia," jelasnya.

Gopas mengenang peristiwa di saat ia bernyanyi bersama lagu kesukaan mereka berdua. Ayahnya dikenal sebagai pribadi yang humble dan senang bercerita. Beberapa kali ia juga diajak berdiskusi ringan, namun tidak sering.

"Dia itu paling sering cerita sama saya. Misalnya setiap sore atau malam, ngopi bersama dan ya bercerita-bercerita. Suka bercerita memang bapak orangnya," paparnya.

Semangat yang selalu berkobar dari ayahnya, hingga kini ia teladani. Bahkan menjelang meninggalnya, Gopas masih percaya bahwa ayahnya tidak mengenal kata menyerah.

"Sempat di ICU, saya bilang ke bapak, kayaknya Gopas sudah enggak usah ngomong semangat lagi sama bapak. Karena Gopas tahu bapak itu pantang banget buat bilang menyerah," katanya.

Banyak kolega, teman, dan kerabat yang datang ke rumah duka. Salah satunya teman kuliah seangkatan John Tobing, Untoro Hariadi dan beberapa lainnya. Menurutnya, John Tobing itu seniman, aktivis, kritis, tapi juga humanis yang nyentrik. Banyak pergerakan aktivisme nasional yang dirinya ikuti bahkan pelopori.

"Tumbuh bareng jadi aktivis tahun '88 dengan Andi almarhum. Terus ada nama Dadan, ada nama Wibi, Sugeng dan saya sendiri. Dulu rapat-rapat zamannya Orde Baru ya sama itu," ujarnya.

Menurutnya, John Tobing mempunyai jiwa solidaritas yang tinggi. Sampai era reformasi, dirinya aktif dalam barisan demonstran. Antara John Tobing dan Untara sama-sama dibesarkan dari jalan demonstrasi.

John sempat menjabat sebagai Sekjen Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY). "Kami bersama aktif mengadvokasi untuk membela korban pembangunan," bebernya.

Ia sudah lama tidak berkomunikasi dengan mendiang John Tobing. Sepengetahuannya, temannya itu menderita stroke. Namun ia juga sempat mendengar John Tobing akan mengadakan konser lagi.

"Iya, terakhir ngomong-ngomong soal itu, dia mau konser. Kita sih memberi dukungan karena memang si John itu eksis kalau pegang gitar," ucapnya.

Ia dan teman-teman angkatannya sering menyampaikan kepada John agar tidak jauh-jauh dari gitarnya. Menurutnya, John bisa lantang menyanyikan pikiran-pikiran kritisnya dengan nada-nada yang ia ciptakan.

"John, kamu itu eksis kalau pegang gitar, memang itu duniamu. Kalau tidak ada gitar, nggak eksis dia," ungkapnya.

Tentang penyakit John Tobing, Gopas menyebut ayahnya memang beberapa bulan belakangan bolak-balik masuk rumah sakit. Sempat dirawat selama dua bulan di rumah sakit pada akhir 2025.

John Tobing kembali masuk rumah sakit di awal Februari tahun, selama satu minggu di RS Hermina Jogja. Ia sempat balik ke rumah dan kembali masuk ke RS pada Rabu (25/2).

Pada hari itu juga, tepatnya pukul 20.45 Jhon Tobing dikabarkan meninggal dunia di RSA UGM. Keluarga yang saat itu berada di rumah mendapatkan kabar lewat telepon bahwa Jhon Tobing henti jantung.

"Ini mendadak sih, sebetulnya. Kami dari keluarga itu pas sedang di rumah, karena di rumah sakit itu ayah dimasukkan ke ruang ICU, tidak bisa ditunggu," ujarnya.

Setahu Gopas, ayahnya mempunyai riwayat sakit stroke. Jhon Tobing mengonsumsi obat tensi dan gula darah. Namun yang dikonsumsi rutin hanya obat tensi.

Diakui memang kondisi terakhir ayahnya belum bisa melakukan aktivitas seperti biasa. "Karena memang kondisi kaki, tangannya belum bisa bergerak sendiri. Cuma akhir-akhir ini setelah fisioterapi dan segala macamnya, memang sudah bisa mulai ada pergerakan," paparnya.