Fakultas Psikologi Unair Gelar Pojok Curhat dan Edukasi Anak di Balai Kota Surabaya
SURABAYA – Fenomena self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri melalui informasi dari media sosial menjadi perhatian serius terkait kesehatan mental masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Dr. Dewi Retno Suminar, dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Balai Kota pada Minggu (8/2/2026).
Dalam acara tersebut, metode "jemput bola" diimplementasikan untuk memberikan layanan konsultasi dan edukasi secara langsung kepada warga. Dr. Dewi menjelaskan, "Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah dampak buruk dari tren self-assessment digital yang sering kali berujung pada stigma diri yang keliru."
Bahaya Self-Diagnosis di Era Digital
Menurut Dr. Dewi, banyak individu saat ini lebih memilih menggunakan aplikasi atau media sosial untuk memahami kondisi mental mereka, yang dapat berisiko tinggi. "Di era digital, masyarakat sering melakukan self-assessment lewat media sosial, yang berbahaya karena dapat memicu self-stigma. Kami mencatat bahwa beberapa kasus pengambilan keputusan untuk bunuh diri atau tindakan menyakiti diri sendiri berawal dari latar belakang ini," tuturnya.
Melalui program "Pojok Curhat", tim Psikologi Unair memberikan pendampingan profesional untuk mencegah depresi dan perilaku menyakiti diri sendiri.
Pojok Curhat: Dari Masalah Jodoh hingga "Merawat Cinta" Pasangan Suami Istri
Layanan Pojok Curhat, yang dilengkapi dengan bilik-bilik privat, menjadi daya tarik bagi masyarakat. Dr. Dewi menyatakan bahwa banyak warga yang berkonsultasi mengenai masalah asmara, rumah tangga, hingga emosi pribadi. "Setelah keluar dari bilik curhat, mereka mendapatkan wawasan baru mengenai langkah yang harus diambil. Ini membantu mereka merilis emosi agar masalah bisa diselesaikan dengan baik," tambahnya.
Melatih Motorik Halus Anak di Tengah Gempuran Gadget
Selain fokus pada kesehatan mental orang dewasa, kegiatan ini juga menyoroti perkembangan anak. Psikologi Unair memperhatikan penurunan kemampuan motorik halus anak-anak akibat ketergantungan pada gadget. "Anak-anak sekarang kurang terbiasa menulis halus atau meronce. Oleh karena itu, kami mengajak mereka untuk sejenak menjauh dari layar gadget, dengan menyajikan teater boneka, menggambar, serta permainan 'jumpit-jumpit' untuk melatih motorik mereka," jelas Dr. Dewi.




