Diskusi Reaktivasi Jalur Kereta Api Kayu Tanam–Padang Panjang di UNAND
Padang (UNAND) – Reaktivasi jalur kereta api Kayu Tanam ke Padang Panjang menjadi fokus utama dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan di Ruang Rapat Senat Rektorat Kampus Limau Manis, pada Rabu, 18 Februari. Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari sektor pemerintah dan akademisi.
FGD ini dihadiri oleh Managing Director of Commercial and Business Development PT Kereta Api Indonesia (Persero), Rafli Yandra, serta Guru Besar Teknik Sipil Universitas Andalas, Prof. Ir. Eng. Febrin Anas Ismail. Acara ini dipandu oleh Ketua Pusat Studi Transportasi UNAND, Ir. Yosritzal, Ph.D.
Rafli Yandra mengungkapkan bahwa Sumatera Barat memiliki jaringan perkeretaapian yang cukup kompleks, hasil warisan dari era kolonial Belanda dan Jepang. Namun, kondisi ekonomi dan politik saat ini telah menyebabkan beberapa jalur kereta api tidak lagi beroperasi.
“Jalur yang tidak aktif menjadi tantangan tersendiri. Perlu upaya serius untuk melakukan reaktivasi dan pembaruan transportasi perkeretaapian di Sumbar agar bisa lebih maju dan berkontribusi pada pembangunan daerah ke depan,” tuturnya.
Rektor UNAND menekankan bahwa reaktivasi jalur kereta api dapat menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Sumbar. Namun, ia juga mengakui bahwa secara bisnis, proyek ini mungkin tidak menguntungkan dalam jangka pendek. Oleh karena itu, intervensi pemerintah, termasuk kemungkinan skema subsidi, diperlukan untuk menjaga keberlangsungan proyek demi kepentingan publik.
“Kereta api merupakan moda transportasi massal yang ramah lingkungan, mampu mengangkut banyak penumpang sekaligus, serta memiliki performa yang diperhitungkan di tingkat global,” tambahnya. Ia percaya bahwa dengan kesamaan visi dari seluruh stakeholder, jalur yang telah ada sejak era Hindia Belanda dapat dihidupkan kembali. Pengalamannya menggunakan kereta api di Australia dan Inggris semakin meyakinkannya bahwa negara maju selalu didukung oleh sistem transportasi kereta api yang baik.
Prof. Febrin Anas Ismail menegaskan pentingnya reaktivasi jalur Kayu Tanam–Padang Panjang, terutama untuk mendukung sektor pariwisata dan logistik. Ia menggarisbawahi perlunya penyusunan strategi komprehensif yang melibatkan seluruh sumber daya dari pemerintah daerah dan pusat.
“Perguruan tinggi dapat menyusun peta besar, timeline, serta melakukan kajian-kajian mendalam seperti feasibility study. Semua stakeholder perlu berbagi peran agar arah pengembangan lebih terstruktur,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa di negara maju, jalur kereta api terbukti memberikan efisiensi dalam berbagai aspek, mulai dari mobilitas, distribusi barang, hingga penguatan destinasi wisata.
Melalui FGD ini, UNAND menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis pemerintah dan industri dalam merumuskan kebijakan berbasis riset, guna memastikan reaktivasi jalur kereta api di Sumbar berjalan terarah, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi masyarakat.




