BPS: Koefisien Gini Naik ke 0,381, Ketimpangan Ekonomi Indonesia Makin Lebar
Sumber Foto: Kompas.com
Sosial

BPS: Koefisien Gini Naik ke 0,381, Ketimpangan Ekonomi Indonesia Makin Lebar

KOMPAS.com - Sejumlah platform media sosial (medsos), terutama TikTok, diramaikan oleh tren komedi yang mengangkat kesenjangan sosial.

Tren tersebut biasanya memunculkan percakapan singkat yang secara tidak langsung menunjukkan perbedaan kesenjangan sosial.

Percakapan bernada sindiran tentang isu kesenjangan sosial itu dianggap mencerminkan kondisi ketimpangan kehidupan di Indonesia saat ini.

Lantas, bagaimana kondisi di Indonesia? Kesenjangan di masyarakat biasanya dipotret dalam gini ratio atau koefisien gini yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Koefisien gini adalah ukuran statistik yang digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh di suatu populasi.

Mengapa Kemiskinan Struktural Bisa Menyebabkan Pembunuhan Anak?

Artikel Kompas.id

Nilai dari Koefisien gini adalah 0 hingga 1. Nilai 0 menunjukkan kesetaraan sempurna, artinya semua orang memiliki pendapatan yang sama.

Sedangkan nilai 1 menunjukkan ketimpangan sempurna. Artinya satu orang memiliki seluruh pendapatan sementara yang lain tidak ada sama sekali.

Ketimpangan semakin lebar

Menurut data BPS, koefisien gini di Indonesia pada September 2024 mengalami peningkatan bila dibandingkan Maret 2024.

Pada Maret 2024, koefisien gini di Indonesia adalah 0,379. Pada September 2024, angkanya naik menjadi 0,381.

Kenaikan koefisien gini tersebut mengindikasikan bahwa kelompok masyarakat kaya menjadi semakin kaya. Sedangkan kelompok masyarakat miskin menjadi semakin miskin.

Di sisi lain, produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebetulnya cukup besar. Menurut data BPS tahun 2024, PDB per kapita mencapai Rp 78,6 juta atau 4.960,3 dollar AS per tahun.

PDB tersebut membuat Indonesia sebetulnya dikategorikan sebagai negara berpendapatan menengah ke atas.

Dua Statistisi BPS dalam artikelnya di Antara, Lili Retnosari dan Tsuraya Mumtaz, menuliskan, kondisi tersebut mencerminkan bahwa meskipun ekonomi tumbuh, hasilnya tidak terdistribusi secara merata.

"Pertumbuhan yang ada tampaknya lebih berpihak pada mereka yang sudah mapan, sementara masyarakat berpenghasilan rendah masih berjuang untuk sekadar bertahan hidup," tulis Lili dan Tsuraya dikutip dari Antara, 8 Maret 2025.

Penyebab kesenjangan ekonomi

Kesenjangan terjadi karena laju pengeluaran kelompok terkaya lebih tinggi dibandingkan kelompok masyarakat menengah ke bawah.

Dikutip dari Kompas.id, kesenjangan yang melebar menunjukkan pemulihan ekonomi belum merata dirasakan hingga ke lapisan terbawah.

Pendapatan yang menurun secara otomatis turut menekan pengeluaran atau konsumsi dari sebuah kelompok masyarakat.

Kesenjangan ekonomi dapat menimbulkan dampak buruk dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam jangka pendek, kelompok atau orang berpendapatan rendah akan sulit mengakses kebutuhan sehari-harinya.

Dalam jangka panjang, mereka kesulitan mengakses pendidikan dan kesehatan yang layak yang berakibat pada rendahnya kualitas sumber daya manusia.

Selain itu, kesenjangan ekonomi yang melebar dan semakin besar dapat berpotensi menimbulkan konflik sosial.

Kesenjangan yang parah bisa memicu rasa ketidakadilan dan kecemburuan sosial. Hal ini bisa mengarah pada maraknya kejahatan di masyarakat.