Banjir Ketintang: Cerminan Kesenjangan Pembangunan di Surabaya
Sumber Foto: Kompasiana.com
Sosial

Banjir Ketintang: Cerminan Kesenjangan Pembangunan di Surabaya

Kanal News Day - Kota Surabaya dikenal dengan sebutan Kota Metropolitan terbesar di Indonesia. Banyak gedung-gedung tinggi berdiri megah, pusat perbelanjaan yang berkembang dengan pesat, pusat pertumbuhan bisnis, dan infrasrukturnya yang terus diperbarui. Surabaya unggul dalam tata kelola berdasarkan indikator pembangunan. Walaupun demikian, tersembunyi di balik reputasi baiknya, terdapat wilayah yang terjebak masalah kronis contohnya banjir tahunan, drainase belum prima, serta kesenjangan akses safeguard lingkungan. Salah satu wilayah yang kerap menjadi sorotan ialah daerah Ketintang, Surabaya Selatan.

Ketintang bukan termasuk wilayah yang jauh dari pusat kota. Letaknya cukup strategis, dekat dengan pusat pendidikan, wilayah yang padat oleh penduduk, dan serta dapat dibilang jalur utama kota. Tetapi setiap musim hujan tiba, berita tentang banjir yang mengakibatkan kemacetan, dan terganggunya aktivitas warga setempat. Di Ketintang, bukan hanya soal air yang meluap, namun melainkan cerminan dari pembangunan yang belum merata serta adaptif terhadap resiko lingkungan.

Dalam perspektif makro, kinerja ekonomi Surabaya terlihat kuat dan stabil. Berdasarkan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya, pertumbuhan ekonomi kota ini pada tahun 2023 berada di kisaran 5% lebih, menunjukkan pemulihan dan stabilitas pascapandemi. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Surabaya didominasi oleh sektor perdagangan, jasa, industri pengolahan, dan konstruksi.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Surabaya juga termasuk yang tertinggi di Jawa Timur, berada di atas angka 82 dalam beberapa tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa secara agregat, masyarakat Surabaya memiliki akses yang relatif baik terhadap pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak. Namun indikator agregat sering kali tidak mampu menggambarkan ketimpangan spasial di dalam kota. Di tingkat mikro, masih terdapat wilayah dengan persoalan lingkungan dan infrastruktur yang belum tertangani optimal, termasuk Ketintang.

Ketintang berada di wilayah Surabaya Selatan yang topografinya relatif rendah dan dekat dengan aliran sungai. Ketika curah hujan tinggi terjadi dalam waktu singkat, sistem drainase sering kali tidak mampu menampung debit air secara maksimal. Dalam beberapa kejadian hujan ekstrem dalam dua hingga tiga tahun terakhir, genangan air di sejumlah titik Ketintang dilaporkan mencapai puluhan sentimeter dan mengganggu lalu lintas serta aktivitas warga. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan bahwa tren kejadian banjir perkotaan di Jawa Timur meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama saat musim hujan dengan intensitas tinggi. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi hujan ekstrem di kawasan perkotaan.

Selain itu, laporan dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan adanya pola curah hujan ekstrem yang lebih sering terjadi di wilayah Jawa Timur, termasuk Surabaya. Curah hujan tinggi dalam waktu singkat (short duration heavy rainfall) menjadi tantangan besar bagi kota padat seperti Surabaya. Namun persoalan di Ketintang tidak hanya soal hujan. Ada faktor lain yang memperburuk situasi, seperti kepadatan permukiman, berkurangnya ruang terbuka hijau, serta sistem drainase yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan tata ruang modern berbasis risiko.

Untuk memahami mengapa wilayah seperti Ketintang masih menghadapi banjir meskipun kota secara keseluruhan tumbuh, kita perlu melihat teori pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan.

Ekonom klasik Simon Kuznets menjelaskan bahwa dalam tahap awal pembangunan, pertumbuhan ekonomi cenderung meningkatkan ketimpangan. Investasi dan pembangunan biasanya terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi yang paling produktif. Wilayah yang dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi mendapatkan prioritas infrastruktur dan investasi lebih dahulu.

Dalam konteks kota seperti Surabaya, pusat bisnis dan kawasan komersial modern mungkin mendapatkan perhatian lebih cepat dalam pengembangan infrastruktur kelas atas. Sementara wilayah permukiman padat seperti Ketintang, yang secara ekonomi tidak menghasilkan nilai investasi sebesar kawasan bisnis, sering kali mengalami keterlambatan penanganan infrastruktur lingkungan.

Teori pertumbuhan endogen juga menekankan pentingnya human capital dan institusi. Jika tata kelola pembangunan belum sepenuhnya berbasis risiko dan inklusif, maka pertumbuhan ekonomi hanya akan meningkatkan PDRB tanpa mengurangi kerentanan lingkungan di tingkat lokal. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti pengurangan risiko banjir.

Salah satu bentuk kesenjangan pembangunan yang nyata adalah ketimpangan kualitas infrastruktur drainase dan pengendalian banjir. Kota besar seperti Surabaya memang telah membangun berbagai rumah pompa, saluran air, dan sistem pengendali banjir. Namun efektivitasnya berbeda-beda di setiap wilayah.