Ayam Geprek RR: Kuliner Lezat dan Terjangkau dari Jakarta ke Bali
Usaha kuliner Rahman berdiri tahun 2024 di Jakarta Timur, tepatnya di Kecamatan Cakung. Kini, berkat kerja keras Rahman dan istri, Ayam Geprek RR sudah membuka tiga cabang di Bali.
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia dalam bidang kuliner terus berinovasi agar dapat memikat lidah konsumen. Mulai dari tampilan produk yang dibuat kekinian hingga harga yang disesuaikan dengan kondisi kantong rakyat yang hari-hari ini tak kunjung membaik.
Ekonomi yang belum membaik dikonfirmasi oleh data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Pada Maret 2025, tingkat kemiskinan di Tanah Air masih tercatat sebesar 8,47 persen, atau sekitar 23,85 juta jiwa. Angka ini secara positif memang menunjukkan penurunan sebesar 0,10 poin dibandingkan September 2024 (8,57 persen) dan turun 0,56 poin dibandingkan Maret 2024.
Berita Lainnya
Tokoh Perubahan Anies Baswedan Tegaskan Karsa City Lab Harus Jalankan Misi, Bukan Hanya Target
Ribuan Mahasiswa Padati Masjid Al Hurriyah IPB University dalam Kajian Ramadan Bersama Anies Baswedan
Bangun Masa Depan, Gerakan Rakyat Jombang Jatim Launching Media Sosial dan Tanam Pohon
“Le Coq Gaulois” Prancis di Piala Dunia 2026, Kenangan Pahit di Seoul
Mengenang WS Rendra: Di Masa Kini Indonesia Tak Butuh Ratu Adil, Melainkan Hukum yang Adil
Dari lembaga yang sama, pada Februari 2025 jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang. Jumlah pengangguran itu setara dengan 4,76 persen dari jumlah total angkatan kerja nasional. Pengangguran Indonesia ini merupakan yang paling tinggi di antara negara-negara ASEAN. Menurut data Trading Economics, negara ASEAN yang tingkat penganggurannya mirip dengan Indonesia hanya Brunei Darussalam.
Tampilan Istimewa
Rahman (29), pengusaha Ayam Geprek RR, mengakui bahwa ekonomi masyarakat masih belum membaik. Oleh sebab itu, menurutnya, saat ini membuka usaha tak boleh apa adanya saja. Sebelum memutuskan terjun ke dunia “urusan perut” ini, harus terlebih dahulu melakukan analisis lapangan. “Ya kita cek-cek aja bagaimana dan apa yang disukai oleh masyarakat sekarang. Terutama anak muda yang suka jajan,” katanya kepada KBA News belum lama ini.
Ia memaparkan soal produk kuliner Ayam Geprek RR yang kini digelutinya. Meski ini levelnya adalah kuliner “pinggir jalan” namun tampilannya harus istimewa layaknya kuliner di mal-mal besar. “Tampilan wadah ayam Geprek RR punya saya ini nggak memakai dus polos putih itu. Tapi yang berwarna dan desainnya dari kita sendiri. Harga dus-nya tentu lebih mahal,” jelasnya.
Sementara untuk harga, relatif sangat murah. Rahman mengatakan, harga ayam geprek per porsi Rp10.000, sementara ayam geprek dengan nasi Rp13.000. Sedangkan ayam, nasi, dan es teh dibanderol Rp15.000. “Itu sudah dapat sambal gratis. Dan sambalnya juga berbeda rasanya dari yang lain, khas kita. Kita tidak banting harga, cuma disesuaikan saja dengan ekonomi [masyarakat Indonesia saat ini],” katanya.
Dari Jakarta hingga Bali
Nama kuliner Ayam Geprek RR diambil dari nama singkatan Rahman dan istri tercintanya, Rizki. Nama itu diambil sebagai doa dan harapan bahwa mereka bisa sukses dalam usaha kuliner secara bersama-sama. “Biar berkah, jadi diambil nama Ayam Geprek RR, nama saya dan istri,” jelasnya.
Usaha kuliner Rahman berdiri tahun 2024 di Jakarta Timur, tepatnya di Kecamatan Cakung. Kini, berkat kerja keras Rahman dan istri, Ayam Geprek RR sudah membuka tiga cabang di Bali. Provinsi tersebut dipilih karena istrinya berasal dari sana. “Harga di Jakarta dan di Bali per porsi sama. Sangat murah untuk ukuran kuliner ayam ini,” jelas pria asal Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, ini.
Rahman mengaku, dalam satu hari setiap outlet di Jakarta ataupun di Bali rata-rata menghabiskan 50 sampai 100 ekor atau setara dengan 500 sampai 1.000 potong ayam. “Menurut saya sih itu sudah banyak ya. Tapi kalau nanti semakin ramai ya alhamdulilah,” katanya berharap.
100 Persen Cabe Rawit
Rahman mengatakan, untuk menjaga cita rasa yang konsisten dan berbeda dengan ayam geprek lainnya, dirinya harus terus bekerja ekstra setiap hari. Mulai dari membeli daging ayam yang fresh dan membuat sambal dengan cara dadakan alias bukan sambal yang disimpan berhari-hari.
“Jelas memiliki cita rasa yang khas, sambal kami juga dibuat secara dadakan dalam porsi banyak dengan 100 persen cabe rawit. Jadi rasanya tetap lezat meskipun harganya merakyat,” katanya sembari tertawa.
Rahman menyampaikan, untuk resep sambal Ayam Geprek RR tersebut dirinya tidak bisa membagikannya ke masyarakat, sebab itu rahasia dapurnya. “Kita tidak bisa membocorkan dikarenakan rahasia. Pengusaha-pengusaha kuliner yang lainnya juga pasti punya rahasia tersendiri soal dapur,” jelasnya.
Membuka usaha kuliner bukan tidak memiliki tantangan. Jatuh bangun seperti untung dan rugi sudah dirasakan oleh Rahman dan istri. Menurutnya, dalam dunia usaha, itu lumrah adanya. “Kalau untung terus ya kita nggak bisa belajar dengan sebuah kerugian. Jadi kalau rugi sedikit atau banyak itu biasa,” katanya.
Meskipun usaha kuliner Ayam Geprek RR kini berdiri di Jakarta dan Bali, berbagai tantangan juga masih dihadapi oleh Rahman. Misalnya, bahan baku yang semakin hari semakin mahal, termasuk cabe dan ayam. “Mengatur manajemen dan SDM juga susah. Dikarenakan cabang kami ada di dua kota besar dan sistem kami masih menggunakan semi autopilot. Ditambah komplain customer,” tambahnya.
Sebagai penguasa muda, Rahman membagikan motivasi usaha kuliner kepada masyarakat yang kini sedang memulai atau sedang menghadapi tantangan. Menurutnya, jangan pernah takut gagal apa lagi gengsi. Ia mengatakan, ide tanpa praktik hanyalah sebuah hayalan. Ide sebagus apa pun tidak akan pernah berhasil kalau tidak pernah mencoba.
“Untuk anak-anak muda yang ingin berkecimpung dalam dunia bisnis kuliner yaitu visi yang jelas, kerja keras, pantang menyerah, dan terus belajar. Dengan fokus pada tujuan daripada hambatan, berani mengambil risiko, dan mengapresiasi pencapaian kecil untuk membangun semangat. Paling penting juga pahami dasar bisnis, analisis kasus bisnis, target pemasaran, dan konsisten,” ujarnya.
Adaptasi dengan Perkembangan
Sementara itu, Ketua Center for Strategic Entrepreneurial Leadership, Dr Roy Darmawan, mengatakan dalam keadaan Indonesia seperti sekarang, UMKM saat ini memang perlu bervisi besar dan mampu antisipatif terhadap perubahan yang terus terjadi secara cepat.
“Adaptabilitas ini termasuk menyesuaikan jenis bisnis dengan perkembangan yang bisa terjadi dengan cepat dan tiba-tiba,” kata dosen Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan di Universitas Indonesia (UI) itu kepada KBA News belum lama ini.
Menurutnya, pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah juga perlu secara konsisten mendukung perkembangan UMKM dengan tidak mengeluarkan aturan-aturan yang membuat calon pelaku usaha enggan dan takut untuk memulai atau mengembangkan usaha.
“Pemerintah idealnya membukakan bagi pelaku usaha akses terhadap modal dan akses terhadap pasar,” kata Dr Roy Darmawan menutup pembicaraan. (kba)
Rubrik Travel & Kuliner menerima kiriman naskah, advertorial, dan konten dalam bentuk lainnya yang terkait dengan masalah-masalah kuliner dan travel. Redaksi menerima pemasangan iklan, proposal menjadi media partner, dan bentuk-bentuk kerja sama lainnya. Silakan kirim naskah, proposal, dan pengajuan kerja sama ke email: [email protected].
Tags: Ayam Geprek RR Rasa Lezat Harga Merakyat kuliner Travel & Kuliner




