Revitalisasi Kawih Melalui Konser 'Sekar Anyar' Mahasiswa UMTAS
Sumber Foto: Kabar Priangan
Hiburan

Revitalisasi Kawih Melalui Konser 'Sekar Anyar' Mahasiswa UMTAS

KABAR-PRIANGAN.COM - Konser bertajuk Sekar Anyar menjadi momentum penting dalam perjalanan akademik sekaligus artistik Izma Nursyifa, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), FKIP Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Pertunjukan ini digelar pada 15 Februari 2026 di Graha Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) sebagai bagian dari Tugas Akhir penciptaan karya.

Melalui konser tersebut, Izma menghadirkan sebuah gagasan rearansemen kawih layeutan swara karya-karya Mang Koko Koswara dalam format vokal grup yang memadukan unsur musik tradisional Sunda dan teknik harmoni Barat. Sekar Anyar bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan sebuah pernyataan artistik.

Layeutan swara sendiri merupakan bentuk pengembangan kawih yang menonjolkan jalinan harmoni beberapa suara secara simultan. Dalam sejarah karawitan Sunda, konsep ini berkembang pesat melalui pembaruan yang diperkenalkan Mang Koko dengan semangat wanda anyar—gaya baru dalam pengolahan musikalitas tradisi. Namun seiring perkembangan zaman, kawih layeutan swara tidak lagi banyak dieksplorasi secara kreatif, khususnya dalam kemasan yang lebih fleksibel dan dekat dengan selera generasi muda.

Sekar Anyar Sebagai Revitalisasi

Berangkat dari kondisi tersebut, Izma menghadirkan Sekar Anyar sebagai upaya revitalisasi. Ia melakukan reharmonisasi dan restrukturisasi bagan lagu, sekaligus mengembangkan pembagian suara yang lebih kompleks dalam format vokal grup.

Integrasi teknik harmoni Barat tidak dimaksudkan untuk mengubah identitas musikal Sunda, melainkan memperkaya warna bunyi dan memperluas kemungkinan ekspresi. Dengan pendekatan ini, kawih tidak lagi dipersepsikan sebagai seni yang “kuno”, melainkan sebagai warisan hidup yang dapat terus tumbuh dan dikreasikan.

Dalam wawancara seusai konser, Izma mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran acara tersebut. Ia menegaskan bahwa target utamanya adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap kawih. “Saya ingin menunjukkan bahwa kawih masih sangat relevan dan bisa dikemas dengan gaya kekinian tanpa kehilangan identitas aslinya,” ujarnya. Ia berharap generasi muda dapat melihat potensi besar kawih, bukan hanya sebagai peninggalan tradisi, tetapi sebagai medium kreatif yang dinamis.