Ravenry Soroti Tantangan Pengembangan Ekonomi Biru untuk Masyarakat Pesisir Indonesia
Sumber Foto: Marketeers
Sosial

Ravenry Soroti Tantangan Pengembangan Ekonomi Biru untuk Masyarakat Pesisir Indonesia

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang lebih dari 99.000 kilometer menyimpan potensi ekonomi pesisir atau ekonomi biru yang sangat besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat di kawasan pesisir.

Hal itu terungkap dalam laporan terbaru Ravenry berjudul “Challenges & Opportunities in Indonesian Coastal Communities 2025 – Between Value & Vulnerability” yang menyoroti kondisi terkini serta tantangan dalam pengembangan ekonomi biru di Tanah Air. Laporan ini memperkirakan nilai ekonomi biru Indonesia mencapai sekitar US$ 1,3 triliun per tahun, dengan target kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 12,45% pada 2045.

Meski demikian, sebagian besar masyarakat pesisir belum memperoleh manfaat langsung dari potensi besar tersebut. Ravenry mencatat masih adanya kesenjangan antara pertumbuhan produksi dan peningkatan kesejahteraan rumah tangga pesisir.

Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan infrastruktur logistik berpendingin (cold chain), akses pasar yang belum transparan, serta ketergantungan pada tengkulak yang membuat harga hasil tangkapan sering tidak stabil. Data menunjukkan, produksi perikanan tangkap pada 2024 turun menjadi sekitar 5,73 juta ton dibanding tahun sebelumnya. Volume tangkapan yang meningkat di beberapa daerah pun tidak selalu berdampak pada peningkatan pendapatan nelayan.

Di sisi pembiayaan, Ravenry menyoroti skema kredit yang belum menyesuaikan dengan pola pendapatan masyarakat pesisir yang bersifat musiman. Saat ini, porsi Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk sektor kelautan hanya sekitar 2,3% dengan tingkat kredit bermasalah (NPL) mencapai 5%, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Menurut Dr. Derry Wanta, Blue Finance Technical Specialist Project LAUTRA C3 dari Indonesia Climate Change Trust Fund, tantangan ini muncul karena sektor kelautan sulit diukur secara fisik.

“Di sektor biru, asetnya tidak terlihat seperti di sektor hijau, misalnya pepohonan atau perkebunan. Hal ini membuat pembiayaan di sektor ini jauh lebih menantang,” ujarnya dalam siaran pers kepada Marketeers, Senin (3/11/2025).

Ravenry menilai solusi yang bisa dilakukan adalah merancang skema kredit musiman atau seasonal credit yang disesuaikan dengan ritme pendapatan nelayan. Kombinasi antara pembiayaan fleksibel dan perlindungan asuransi dinilai dapat membantu menjaga kestabilan arus kas rumah tangga pesisir. Hal ini juga diperkuat oleh pandangan Eva Medianti, Senior Manager Gender and Financial Inclusion Rare Indonesia, yang menekankan pentingnya literasi keuangan dan desain pembiayaan yang relevan dengan pola kerja masyarakat pesisir.

Beberapa inisiatif yang telah diterapkan menunjukkan hasil positif. Program pelatihan literasi keuangan dan kelompok simpan pinjam, misalnya, telah berhasil menghimpun tabungan komunitas hingga Rp 4,6 miliar melalui 64 kelompok aktif, serta menyalurkan pinjaman bergulir sekitar Rp 533 juta. Sementara itu, pelatihan pengolahan hasil laut seperti pembuatan abon, tepung ikan, dan olahan rumput laut juga meningkatkan pendapatan kelompok perempuan pengolah ikan hingga 48%.

Laporan Ravenry merekomendasikan enam fokus penguatan untuk mendorong pembangunan masyarakat pesisir. Fokus tersebut mencakup inklusi keuangan yang lebih fleksibel, pengelolaan sumber daya berbasis sains, peningkatan infrastruktur dan akses pasar, penguatan kelembagaan komunitas, pemberdayaan masyarakat terutama perempuan dalam sektor pascapanen dan pariwisata bahari, serta penyelarasan data dan kebijakan antar lembaga.

Research Project Manager Ravenry, Made Ayu Priyanka, mengatakan laporan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi berbagai pihak dalam memperkuat ekonomi biru di Indonesia. “Harapan kami, laporan ini menjadi pemantik bagi berbagai stakeholder untuk merumuskan inisiatif dan bekerja sama dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya.

Ravenry juga mendorong pembentukan inisiatif inklusi keuangan pesisir tingkat nasional yang melibatkan pemerintah, lembaga keuangan, sektor swasta, hingga koperasi. Melalui pendekatan ini, Ravenry menargetkan penerapan skema kredit musiman dengan perlindungan asuransi di sejumlah sentra perikanan, perluasan sistem logistik berpendingin, dan penguatan sistem informasi harga yang lebih transparan.

Dengan riset berbasis studi pustaka dan wawancara mendalam bersama berbagai pihak, laporan Ravenry memberikan gambaran komprehensif mengenai tantangan dan peluang sektor pesisir Indonesia. Kajian ini juga menjadi pijakan bagi upaya bersama dalam mewujudkan ekonomi biru yang inklusif, berkelanjutan, dan menyejahterakan masyarakat pesisir.