Pandangan Warga Gaza Terhadap Dewan Perdamaian yang Didesak Trump
Sumber Foto: Indonesiadefense.com
Internasional

Pandangan Warga Gaza Terhadap Dewan Perdamaian yang Didesak Trump

Jakarta, IDM – Dewan Perdamaian (BoP), yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dibentuk untuk mengawal stabilisasi dan rehabilitasi pascakonflik di Gaza. Hingga kini terdapat total 22 negara yang bergabung BoP termasuk Indonesia. Lantas, bagaimana masyarakat Gaza memandang dibentuknya dewan tersebut?

Melansir Al Jazeera, Sabtu (21/2), masyarakat Gaza memberikan berbagai reaksi dengan sedikit harapan bahwa BoP akan betul-betul mewujudkan perdamaian. Pesimisme muncul karena mereka menilai gencatan senjata Israel-Hamas yang disepakati pada Oktober tahun lalu pun hanya memberi sedikit perubahan.

“Israel membunuh, mengebom, melanggar perjanjian gencatan senjata setiap hari dan memperluas zona penyangga tanpa ada yang menghentikannya,” kata Awad al-Ghoul (70), seorang warga Palestina yang mengungsi dari Rafah dan kini tinggal di tenda di kota az-Zawayda.

Baca Juga:

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 600 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata. Sementara, lebih dari 72.000 orang tewas selama konflik.

Adapun, saat KTT BoP di Washington pada 19 Februari 2026, Trump mengumumkan bahwa sembilan negara anggota telah menjanjikan $7 miliar untuk dana rekonstruksi Jalur Gaza. Ia juga mengatakan AS akan berkontribusi sebesar $10 miliar kepada BoP.

Menanggapi angka yang fantastis untuk rekonstruksi Gaza, Al-Ghoul mengaku tidak percaya bahwa seluruh dana itu akan digelontorkan untuk Gaza.

“Sebagian kecil akan diberikan kepada Gaza, dan sisanya akan digunakan untuk biaya administrasi dan gaji mewah bagi para pejabat tinggi dan presiden. Sebagian kecil akan diberikan kepada Gaza agar mereka dapat mengatakan bahwa mereka mendukung Gaza dan membenarkan kelanjutan klub mewah mereka yang disebut Dewan Perdamaian,” ujarnya.

Baca Juga: 5 Negara Bersedia Kirim Prajurit untuk ISF, TNI Ditunjuk jadi Wakil Komandan

Hal serupa diungkapkan oleh Jamal Abu Makhdeh (66), yang mengungsi di Deir el-Balah. “Mereka tidak akan melakukan apa pun untuk Gaza. Itu semua bohong,” ujarnya.

“Trump, bersama dengan Israel, ingin menggunakan Dewan Perdamaian untuk memaksakan keputusan mereka kepada dunia dengan paksa. Ini tentang kekuasaan, kendali, dan dominasi, tanpa memperhatikan negara-negara yang lebih lemah seperti kita,” tambahnya.

Kendati demikian, Al-Ghoul menyimpan sedikit harapan terhadap pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF). Indonesia bersama empat negara lainnya menyatakan bersedia untuk mengerahkan pasukan itu ke Jalur Gaza.

“Secara pribadi, saya berharap pasukan ini dikirim, tetapi harus bertindak sebagai pencegah terhadap serangan Israel yang terus berlanjut, seperti UNIFIL di Lebanon,” imbuhnya.

Bagaimanapun, ia berharap dapat kembali ke lingkungan rumahnya di Rafah, walaupun hanya dapat tinggal di tenda. “Yang penting adalah tentara mundur dan kami kembali ke tempat kami,” katanya.

Amal Joudeh (43), yang mengungsi di Deir el-Balah, turut berharap kehidupan keluarganya dapat kembali seperti dahulu. Ibu delapan anak itu ingin sekolah kembali normal dan pindah dari tenda ke rumah yang kokoh.

“Saya salah satu orang yang rumahnya hancur. Saya masih belum punya rumah. Suami saya terluka, dan anak-anak saya juga terluka. Kami menginginkan dukungan atau rekonstruksi apa pun… solusi apa pun,” pungkasnya. (bp)