Rexi Mainaki Kritik BWF Soal Rencana Perubahan Sistem Skor Bulu Tangkis
Kanal News Day - BLITAR - Dunia bulu tangkis internasional kembali diguncang oleh isu perubahan regulasi yang kontroversial. Kali ini, rencana Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) untuk menguji coba sistem skor 3x15 poin memancing reaksi pedas dari sang legenda hidup, Rexi Mainaki. Pria yang kini menjabat sebagai Direktur Kepelatihan Malaysia tersebut secara terbuka melontarkan kritik keras BWF karena dinilai tidak konsisten dalam mengelola arah masa depan olahraga tepok bulu ini.
Menurut Rexi, rencana sistem skor 3x15 poin adalah langkah yang tidak mendesak dan cenderung mencari-cari masalah pada sesuatu yang sebenarnya sudah berjalan mapan. Ia mempertanyakan visi jangka panjang organisasi tertinggi tersebut, mengingat sistem 21 poin yang digunakan saat ini telah berhasil menciptakan standar kompetisi yang sangat tinggi sejak diterapkan tahun 2006.
Kritik Keras BWF: Antara Modernisasi dan Inkonsistensi
Rexi Mainaki menegaskan bahwa ketidakkonsistenan BWF dalam mempertahankan regulasi bisa menjadi bumeran bagi popularitas bulu tangkis. Sejarah mencatat bahwa olahraga ini sudah berkali-kali mengalami transisi sistem skor, mulai dari format klasik 15 poin servis bawah hingga sistem rally 21 poin. Namun, perubahan yang terlalu sering dianggap menunjukkan lemahnya visi organisasi.
"BWF seolah-olah sedang mencari-cari masalah pada sesuatu yang sebenarnya sudah berjalan dengan sangat baik dan kompetitif selama bertahun-tahun," ungkap Rexi dalam sebuah sesi wawancara yang baru-baru ini viral. Ia merasa sistem 21 poin sudah cukup memberikan tensi pertandingan yang luar biasa epik, lengkap dengan drama deuce hingga poin 30 yang menguras emosi penonton dan mental atlet.
Alasan Durasi TV Dianggap Lemah, Bandingkan dengan Tenis
BWF berkilah bahwa rencana perubahan ke sistem skor 3x15 poin bertujuan untuk meningkatkan durasi tontonan televisi agar lebih ramah bagi penyiar. Dengan poin yang lebih pendek, pertandingan diharapkan menjadi lebih cepat, dinamis, dan slot tayangan TV menjadi lebih terukur. Namun, argumen administratif ini langsung dipatahkan oleh Rexi Mainaki.
Rexi membandingkan bulu tangkis dengan tenis lapangan. Dalam tenis, sebuah pertandingan bisa berlangsung selama berjam-jam, namun rating televisinya tetap tinggi dan sponsor tetap setia. "Masalah utama bulu tangkis bukanlah terletak pada sistem skornya, melainkan bagaimana cara mengemas pertandingan tersebut agar tetap menarik bagi audiens," tegasnya. Baginya, alasan durasi hanyalah "kambing hitam" atas kurangnya inovasi dalam pemasaran dan promosi.
Inkonsistensi BWF ini juga memaksa pelatih merombak pola latihan dari nol. Program latihan yang dirancang untuk sistem 21 poin bisa menjadi tidak relevan jika durasi gim dipangkas mendadak. Hal ini menciptakan ketidakpastian dalam pengembangan pemain muda. Lebih mengkhawatirkan lagi, Rexi menilai risiko cedera atlet akan meningkat karena dipaksa melakukan gerakan eksplosif tanpa henti dalam format poin pendek.
Integritas dan Masa Depan Bulu Tangkis
Rexi secara eksplisit meminta BWF untuk berhenti melakukan eksperimen yang dianggapnya "mengada-ada" atau tidak masuk akal dalam konteks prestasi. Baginya, stabilitas aturan adalah kunci utama bagi sebuah cabang olahraga untuk mempertahankan integritas dan profesionalisme di mata dunia.




