Mendorong Kesetaraan Gender dalam Era AI untuk Masa Depan yang Inklusif
Sumber Foto: InfoKomputer
Sosial

Mendorong Kesetaraan Gender dalam Era AI untuk Masa Depan yang Inklusif

Kanal News Day - oleh: Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera

Tema International Women’s Day 2026, “Give to Gain”, menegaskan bahwa investasi pada kemajuan perempuan di dunia kerja membawa manfaat bagi semua pihak. Tim yang beragam memperkaya perspektif, meningkatkan kualitas keputusan, dan menciptakan lingkungan inklusif.

Namun, di era ekonomi berbasis AI, perempuan menghadapi risiko ganda: kurang terwakili di posisi strategis AI, sekaligus lebih rentan terdampak otomatisasi. Data ADB menunjukkan hanya 23,9% peneliti STEM di Asia Pasifik adalah perempuan, sementara di Indonesia jumlah tenaga kerja perempuan di bidang teknologi hanya 27%.

Dampak Ketika Perempuan Absen dalam Pengembangan AI

AI tidak lahir di ruang hampa; ia mewarisi bias dari tim yang membangunnya. Minimnya keterlibatan perempuan membuat sistem AI rawan blind spot, mulai dari dataset yang timpang hingga definisi keberhasilan yang bias. Di era Agentic AI, risiko ini semakin besar karena sistem memiliki otonomi dalam pengambilan keputusan. Audit dataset, stress test pada edge cases, serta panel peninjau yang beragam menjadi langkah penting untuk memastikan inklusivitas dan etika AI.

Peran Strategis HR dalam Tata Kelola AI

Laporan NINEby9 menunjukkan hanya 13% tim HR yang memimpin keputusan strategis terkait AI, sementara IT mendominasi. Keterlambatan melibatkan HR membuat desain ulang pekerjaan dan program reskilling sering tidak siap, sehingga perempuan lebih terdampak. HR perlu bergeser dari peran pendukung menjadi strategis, memastikan reskilling, transisi pekerjaan, dan rencana inklusi dirancang sejak awal implementasi AI.

Mendefinisikan Ulang Value Pekerjaan di Era AI

Integrasi AI menuntut engineer masa depan memiliki pemahaman bisnis, komunikasi, dan kolaborasi lintas fungsi, bukan sekadar kemampuan coding. Perubahan ini membuka peluang bagi perempuan untuk berkontribusi lebih luas.

Indonesia sendiri membutuhkan lebih dari 12 juta talenta digital pada 2030, sehingga mengoptimalkan potensi tenaga kerja perempuan adalah langkah logis. Program seperti Women Leaders in Technology (WLIT) dari Cloudera menjadi wadah pengembangan kepemimpinan perempuan di bidang teknologi.

Kesetaraan sebagai Manajemen Risiko AI

Halaman Selanjutnya

Di Cloudera Indonesia, prinsip kesetaraan dijalankan secara nyata melalui mentoring, jejaring, dan jalur kepemimpinan bagi perempuan. Keberagaman kognitif diyakini memperkuat teknologi sekaligus mengurangi blind spot. Pada akhirnya, keberagaman dalam kepemimpinan dan pengawasan bukan hanya isu kesetaraan, tetapi bagian dari manajemen risiko AI itu sendiri.

1 2

Tag

Cloudera

International Women’s Day 2026

Editor : Dayu Akbar

Baca Lainnya

PROMOTED CONTENT

Latest

Berita

INDODAX Gandeng Chainalysis, Perkuat Keamanan Kripto Indonesia

11 jam yang lalu

Berita

Lima Fitur Laptop Canggih Ini Jadi Kunci Utama Produktivitas Kerja

11 jam yang lalu

Berita

COMPUTEX 2026: Pameran Teknologi Global dengan Fokus AI Together

1 hari yang lalu

Berita

Cisco Perkuat Keamanan Digital dengan Cloud Control dan Cisco IQ

1 hari yang lalu

Berita

Akamai Dorong Pertumbuhan Baru di Asia dengan AI Berbasis Edge

1 hari yang lalu

Berita

F5: 78% Perusahaan Global Jadikan AI Inference Sebagai Operasi Inti

2 hari yang lalu