Relawan Muda eYAA Tingkatkan Literasi dan Pelestarian Budaya di Indonesia
Sumber Foto: Republika Online
Sosial

Relawan Muda eYAA Tingkatkan Literasi dan Pelestarian Budaya di Indonesia

Kanal News Day - REPUBLIKA.CO.ID, SORONG – Indonesia terus memajukan pembangunan nasional, namun kesenjangan mendalam masih terlihat di antara pusat-pusat kota dan daerah-daerah terpencil di timur. Di Papua Barat Daya, banyak siswa sekolah dasar kelas 3-6 kesulitan membaca dan berhitung dasar meski sudah bertahun-tahun bersekolah, sehingga berisiko tinggi mengalami penurunan kemampuan belajar dan peluang masa depannya terbatas. Pada saat yang sama, di komunitas pedesaan di seluruh Nusa Tenggara Timur, tenun tradisional Sumba menghadapi penurunan karena akses pasar yang terbatas, promosi yang lemah, dan ketergantungan pada perantara yang mengurangi pendapatan para penenun.

Untuk menjawab permasalahan ini, dua organisasi lokal yang berbeda namun saling melengkapi, Maybank dan ASEAN Foundation, melaksanakan program eMpowering Youths Across ASEAN (eYAA): Cohort 6. Kegiatan Lokakarya Pengembangan Kapasitas Regional yang diadakan selama lima hari pada 2-6 Juli 2026 di Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand, mempertemukan 110 Relawan Muda serta perwakilan dari Organisasi Masyarakat Sipil (CSO) dan Perusahaan Sosial (SE) dari seluruh ASEAN.

Angkatan tahun ini membawa dua pencapaian penting dalam program yang diadakan. Untuk pertama kalinya, Republik Demokratik Rakyat Lao (Laos) bergabung sebagai negara pelaksana dan aksesi Timor-Leste sebagai Negara Anggota ASEAN ke-11, sehingga terjadi peningkatan jumlah Relawan Muda dari 100 menjadi 110.

Penyelenggaraan eYAA: Cohort 6 juga terbilang signifikan karena tahun 2026 telah diproklamasikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Tahun Internasional Relawan untuk Pembangunan Berkelanjutan (IVY 2026). Pengakuan global ini menggarisbawahi peran penting kesukarelawanan dalam memajukan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, membangun komunitas yang tangguh, serta mendorong inklusi sosial. Saat dunia memperingati tahun penting ini, eYAA menjadi contoh yang kuat tentang bagaimana program relawan muda lintas batas yang terstruktur dapat memberikan dampak nyata di tingkat akar rumput di seluruh Asia Tenggara.

Lokakarya eYAA berfungsi sebagai wadah bagi tim sukarelawan untuk menyelesaikan 10 proyek komunitas yang akan dilaksanakan di delapan negara ASEAN: Kamboja, Indonesia, Republik Demokratik Rakyat Lao (Laos), Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

“Angkatan yang ke-6 mencerminkan ASEAN sekarang ini, dengan 11 Negara Anggota, delapan negara pelaksana, dan generasi muda yang merancang solusi bersama komunitas lokal, bukan sekadar melaksanakannya. Satu hal yang membedakan eYAA dari program lainnya adalah bahwa setiap proyek dimulai dari organisasi lokal yang sangat memahami komunitasnya masing-masing, dan setiap relawan masuk sebagai mitra, bukan pengunjung. Dari Vietnam di Angkatan ke-5 hingga Laos di Angkatan ke-6, ekspansi yang kami lakukan dilakukan secara tidak tergesa-gesa, dan setiap langkah kami bangun untuk jangka panjang,” kata Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Dr. Piti Srisangnam.

Sebagai mitra jangka panjang ASEAN Foundation sejak tahun 2018, Maybank Foundation terus mendukung program ini melalui pendanaan hibah hingga 25.000 dolar AS atau setara dengan Rp448 juta per tim proyek.

Di saat yang sama, Datuk Shahril Azuar Jimin, Kepala Bagian Keberlanjutan Grup Maybank, menyampaikan, sejak awal berdirinya eYAA, pihaknya telah melihat para penggerak perubahan muda melampaui sekadar menjadi sukarelawan, untuk menjadi katalisator transformasi komunitas yang bermakna di seluruh ASEAN.

"Kemampuan mereka untuk terhubung dengan komunitas lokal, memahami tantangan nyata, dan mendorong solusi mewujudkan semangat dampak sosial yang positif. Di Maybank, hal ini selaras dengan komitmen ROAR30 kami untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat dan menciptakan nilai di luar ranah perbankan. Bersama ASEAN Foundation, kami terus membangun wadah yang memberdayakan kaum muda untuk mengubah gairah menjadi tindakan dan ide menjadi hasil nyata, yang berdampak bagi masyarakat,” kata dia.

Angkatan ke-6 ini juga menandai kemajuan yang signifikan dalam keterlibatan alumni, dengan menampilkan Program “Alumni as Mentors” yang sudah ada bersama dengan Program “Alumni Accelerator” yang baru diperkenalkan. Melalui Program “Alumni as Mentors”, alumni terpilih dari angkatan sebelumnya akan memberikan orientasi budaya, wawasan lokal, dan dukungan sesama alumni kepada para relawan tahun ini. Sementara itu, Program “Alumni Accelerator” menawarkan hibah hingga 2.500 dolar AS atau setara dengan Rp44 juta kepada tim proyek yang dipimpin oleh alumni, memberdayakan mereka untuk mengembangkan dan melaksanakan inisiatif komunitas yang menciptakan dampak lokal yang berarti.

Sejak awal, eYAA telah memberdayakan 482 relawan muda, melaksanakan 50 proyek komunitas, dan memberikan manfaat langsung kepada lebih dari 114.000 individu di seluruh ASEAN. Program ini terus berkembang melalui pendekatan yang dirancang secara hati-hati dan bertahap, dengan menambahkan negara-negara baru hanya jika ada kemitraan lokal yang kuat dan infrastruktur komunitas yang memadai.

Sepuluh proyek dalam Angkatan ke-6 mencakup pembangunan komunitas, seni dan budaya, keanekaragaman lingkungan, serta pendidikan. Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah dua proyek yang secara langsung menanggapi kebutuhan lokal yang mendesak di bidang pendidikan dan pelestarian budaya.

​​Proyek pertama, “Accelero” oleh PT Lima Dua Edukasi, mengatasi krisis pembelajaran dasar di Sorong, Papua Barat Daya, karena banyak anak di kelas 3 hingga 6 tidak mampu membaca dengan lancar dan melakukan numerasi dasar, meski sudah terdaftar di sekolah. Proyek ini menerapkan program ekstrakurikuler berbasis komunitas dengan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL). Siswa dinilai dan dikelompokkan berdasarkan tingkat pembelajaran aktual, bukan kelas, dan menerima sesi literasi sekaligus numerasi terstruktur sebanyak empat kali seminggu. Proyek ini melatih 50 fasilitator lokal, termasuk mahasiswa dan guru, untuk memberikan pendampingan, mendistribusikan buku anak-anak ke pojok baca komunitas, dan melibatkan orang tua melalui dukungan pembelajaran berbasis rumah.

“Accelero” secara langsung memberikan manfaat kepada 550 orang, termasuk 500 siswa sekolah dasar dan 50 fasilitator lokal. Proyek ini juga menjangkau 1.100 penerima manfaat tidak langsung melalui keterlibatan orang tua dan ruang baca komunitas, dengan jangkauan digital yang diharapkan mencapai 100.000 orang. Proyek ini bertujuan untuk memastikan bahwa setidaknya 60 persen siswa yang berpartisipasi mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca dan berhitung pada akhir masa implementasi enam bulan.

“Kami percaya bahwa anak-anak Indonesia adalah generasi pemimpin masa depan, dan kami tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa mereka memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan akibat hambatan ekonomi, kapasitas intelektual, keterbatasan fisik, atau keterpencilan geografis,” ucap perwakilan PT Lima Dua Edukasi. "Sebagian besar sekolah di Papua berlokasi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Melalui proyek ini, kami ingin membekali anak-anak ini dengan keterampilan dasar yang mereka perlukan agar berhasil."

Proyek kedua, “Sumba Weaving Museum” oleh PT Tenun Indonesia Sejahtera, berfokus pada pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi di Desa Watuhadang, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Galeri tenun yang ada memiliki jumlah pengunjung yang rendah dan penjualan yang lemah karena interpretasi yang terbatas, pengemasan wisata yang kurang memadai, serta ketergantungan pada perantara. Proyek ini mengubah galeri menjadi Museum Tenun Sumba yang dikurasi dan mendokumentasikan seluruh perjalanan tenun, mulai dari persiapan benang dan pewarna alami hingga makna motif dan tekstil jadi. Proyek ini juga mengembangkan paket wisata yang dapat dijual yang menggabungkan kunjungan museum dengan demonstrasi langsung, tarian tradisional, dan pengalaman kuliner lokal.

Proyek ini memperkuat penjualan langsung bagi para penenun melalui penetapan harga yang transparan, kurasi produk, serta pelatihan produk turunan seperti aksesori DIY yang terbuat dari sisa kain tenun. Proyek ini membangun kapasitas pemasaran lokal melalui pelatihan media sosial bagi tim pemuda desa (Pokdarwis), situs web sederhana, katalog digital, serta praktik perdagangan langsung. Sebanyak 11 Relawan Muda ASEAN akan bersama-sama merancang pengalaman pengunjung dan aktivasi pemasaran selama keterlibatan mereka di lokasi.

“Sumba Weaving Museum” memberikan manfaat langsung kepada 500 orang, termasuk 50 penenun utama di Kampung Raja Pau, 10 fasilitator pemuda setempat, 10 penenun muda dalam pelatihan produk turunan, serta 430 penenun lainnya di Desa Watuhadang yang akan merasakan manfaat dari perbaikan sistem. Proyek ini melibatkan ketujuh kelompok tenun di wilayah tersebut dan bertujuan untuk menciptakan pendapatan berkelanjutan sekaligus melindungi pengetahuan budaya yang diverifikasi oleh praktisi budaya lokal.

“Kain tenun ikat Sumba merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sangat berharga bagi masyarakat Kabupaten Sumba,” ujar perwakilan PT Tenun Indonesia Sejahtera. "Lebih dari sekadar produk tekstil, ini merupakan bagian integral dari identitas budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Kami tidak ingin anak cucu kita kehilangan warisan indah dan kaya ini. Proyek ini memastikan bahwa tradisi menenun tetap hidup dan tetap layak secara ekonomi bagi masyarakat."

Dengan memperkuat pendidikan dasar di Papua Barat Daya dan melestarikan warisan budaya hidup di Sumba Timur secara bersamaan, eYAA: Cohort 6 menunjukkan bagaimana intervensi yang ditargetkan dan didukung oleh kaum muda dapat mengatasi beberapa tantangan regional paling mendesak di Indonesia sekaligus membangun kapasitas dan kebanggaan lokal jangka panjang. Seiring Indonesia dan kawasan ASEAN yang lebih luas memperingati Tahun Internasional Relawan untuk Pembangunan Berkelanjutan, kedua inisiatif ini menjadi kontribusi yang berarti untuk meningkatkan hasil pendidikan dan melindungi warisan budaya melalui aksi yang digerakkan oleh masyarakat.