Kesenjangan Ekonomi di Kota Malang: Tantangan dan Solusi Pembangunan Inklusif
Kanal News Day - PENDAHULUAN
Pembangunan ekonomi daerah tidak hanya diukur dari seberapa tinggi laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), tetapi juga dari sejauh mana hasil pertumbuhan tersebut terdistribusi secara merata di antara kelompok masyarakat dan wilayah. Fenomena "growth without equity" menjadi tantangan utama banyak kota berkembang di Indonesia, termasuk Kota Malang. Sebagai salah satu pusat pendidikan dan jasa di Jawa Timur, Kota Malang menunjukkan performa ekonomi yang relatif stabil dan progresif. Namun demikian, indikator ketimpangan memperlihatkan bahwa pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya inklusif.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Malang berada di kisaran 5--6 persen dalam beberapa tahun terakhir. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Malang juga berada pada kategori sangat tinggi di Jawa Timur. Akan tetapi, rasio Gini yang berada di atas rata-rata provinsi mengindikasikan adanya kesenjangan distribusi pendapatan.
1. Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan data BPS Kota Malang (2024), pertumbuhan ekonomi Kota Malang mencapai 5,41% pada tahun 2024, setelah sebelumnya mencapai 6,32% pada 2022 dan 6,07% pada 2023. Sektor utama penyumbang PDRB meliputi:




