Kisah Syaiful: Kopi dan Harapan di Ujung Timur
Kanal News Day - Berita Lain
Merauke
Oleh - Ardi,
Editor - Bambang Hermawan
RRI.CO.ID, Merauke : Senja perlahan turun di Merauke. Cahaya matahari meredup, menyisakan langit jingga yang menggantung di ufuk barat. Di pinggir Jalan Raya Mandala, sebuah kontainer sederhana berdiri di antara lalu lalang kendaraan. Dari dalamnya, aroma kopi menyeruak, hangat dan mengundang siapa saja yang lewat untuk singgah.
Di balik kontainer itu, seorang pemuda sibuk meracik minuman. Tangannya cekatan, gerakannya terlatih. Sesekali ia tersenyum kepada pelanggan yang datang silih berganti. Namanya Syaiful Iriandy Putra Nabsih, seorang pedagang kopi, pelaku UMKM, sekaligus anak sulung yang sedang memikul tanggung jawab lebih besar dari usianya.
Kontainer itu bukan sekadar tempat usaha. Ia adalah ruang harapan.
“Awalnya saya cuma ingin punya penghasilan sendiri, bantu ibu juga,” ujar Syaiful pelan.
Hidup tak memberinya pilihan mudah. Orang tuanya telah berpisah, dan sejak itu, ia belajar berdiri di atas kakinya sendiri. Sambil menempuh pendidikan, ia memilih berjualan kopi. Dari hasil itulah, ia membiayai kuliahnya, dan lebih dari itu, membantu sekolah dua adiknya yang masih membutuhkan dukungan.
Di antara hiruk-pikuk Merauke yang sederhana, Syaiful menjalani hari-harinya dengan ritme yang nyaris tak pernah berhenti.
Pagi hingga siang, ia bergelut dengan dunia kampus. Sore hingga malam, ia kembali ke kontainernya di Jalan Raya Mandala, menyeduh kopi, melayani pelanggan, dan menghitung setiap rupiah yang masuk dengan penuh kehati-hatian.
Ia menjual berbagai jenis minuman kopi, dari yang sederhana hingga racikan kekinian. Namun bagi Syaiful, yang terpenting bukan sekadar rasa, melainkan makna di balik setiap cangkir yang ia sajikan.
“Setiap jualan itu bukan cuma cari uang, tapi juga untuk masa depan. Saya sisihkan sedikit-sedikit untuk tabungan,” katanya.
Tak selalu ramai, tak selalu mudah. Ada hari-hari ketika pelanggan sepi, ada juga saat hujan membuat jalanan lengang. Namun Syaiful tetap bertahan. Ia percaya, kerja keras yang dijalani dengan sabar akan menemukan jalannya sendiri.
Di kejauhan, di Boven Digoel, ibunya menunggu kabar. Meski tak selalu bersama, Syaiful tak pernah benar-benar jauh. Setiap hasil jerih payahnya, setiap rupiah yang ia kumpulkan, selalu membawa satu tujuan: membantu keluarga.
Bagi pelanggan, kontainer kopi milik Syaiful bukan hanya tempat membeli minuman. Ia adalah ruang sederhana yang menghadirkan kehangatan.
Galang Meilandri, salah satu konsumen, mengaku sering datang untuk menikmati kopi di sana.
“Tempatnya memang sederhana, tapi kopinya enak. Orangnya juga ramah,” ujar Galang.
Menurutnya, ada sesuatu yang berbeda dari usaha kecil seperti itu, sebuah ketulusan yang tak bisa dibuat-buat.
“Kalau kita tahu ceritanya, jadi lebih menghargai. Kita beli bukan cuma kopi, tapi juga dukung perjuangannya,” tambahnya.
Di tengah gempuran kafe modern dan bisnis besar, kontainer kecil milik Syaiful tetap berdiri di Jalan Raya Mandala. Mungkin tak mencolok, mungkin tak mewah, tetapi ia menyimpan cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar transaksi jual beli.
Dari balik gelas-gelas kopi yang disajikan, ada mimpi yang perlahan disusun. Tentang pendidikan yang ingin diselesaikan. Tentang adik-adik yang harus terus sekolah. Tentang seorang ibu yang harus terus dibantu, meski jarak memisahkan.
Syaiful tahu, jalan yang ia tempuh tidak mudah. Tapi ia juga tahu, berhenti bukan pilihan.
Di ujung timur Indonesia, di sebuah kontainer sederhana yang diterangi lampu seadanya, seorang pemuda terus meracik harapan, cangkir demi cangkir, hari demi hari.
Dan selama kopi itu masih diseduh, selama itu pula mimpi Syaiful akan terus hidup.
Kata Kunci / Tags
Merauke




